Pemimpin Bukanlah Pelayan Ditambah Pencitraan

"Pemimpin yang Melayani Rakyat"

Familiar dengan kalimat di atas? Saya beberapa kali pernah membaca gagasan itu. Saya tidak begitu sepaham dengan adanya konsep pemimpin sebagai pelayan masyarakat. Pelayanan yang diberikan Pemimpin itu adalah bentuk kasih sayang pada komunitas yang dia pimpin, dalam hal itu pemimpin tidak menjadikan dirinya pelayan.

Ketika pemimpin berubah posisi menjadi pelayan, maka rakyat seolah menjadi penguasa yang menentukan arah. Pertanyaan berikutnya, bagaimana mungkin sebuah komunitas dapat dipimpin banyak kepala yang pastinya punya keinginan dan kebutuhan yang berbeda?

Begitu banyak kepala berada di atas mencoba menentukan arah dapat diibaratkan seperti pedati dengan banyak kuda tanpa kusir. Semuanya bisa menarik ke arah yang berbeda dan membuat kereta diam di tempat. Pada akhirnya, hancurlah kereta tersebut karena tarikan kuda-kuda yang berbeda arah itu. Kuda yang kuat akan dominan menarik kuda, sedangkan kuda yang lemah akan terseret dan terseok-seok. Padahal jika semua kuda bergerak ke satu arah, pedati tersebut dapat bergerak dengan cepat menuju tujuan yang diinginkan.

Menurut saya pemimpin adalah pemberi contoh, penentu arah, pemerhati lingkungannya, dan penyayang anggota/rakyat/kaum-nya. Oleh karena itu, pemimpin tidak bisa dianggap pelayan. Pemimpin seolah melayani karena dia menyayangi orang-orang yang dia pimpin.

Saya sempat terpikir apakah pola pikir ingin dilayani inilah yang sebenarnya membuat kita selama ini tidak dapat maju bersama?

Pola pikir inikah yang membuat kita seringkali lebih banyak menuntut daripada memberi kepada negara?

Kemudian berbicara sedikit tentang pencitraan, saya sering bertanya apa yang negatif dari sebuah pencitraan? Rasanya semua orang di muka bumi ini hidup dengan pencitraan. Semua orang ingin dipandang dengan sifat spesifik tergantung keinginannya masing-masing. Ada yang ingin dicitrakan sebagai orang biasa saja, sederhana, dan tidak aneh-aneh. Ada juga orang yang ingin terlihat beda. Ingin terlihat nyeni. Ada juga yang ingin terlihat berkelas dan pintar. Selain itu masih banyak persona lain yang ingin ditampilkan dari setiap individu agar dirinya menjadi unik.

Ketika orang berkata bahwa calon pemimpin kita berlaku sesuatu yang memberikan kesan positif, lawan politik atau penggemar kompetitornya akan berkomentar, "Ah, pencitraan itu. Biar dipilih."

Bukankah semua pemimpin haruslah melakukan pencitraan? Bukankah tanpa pencitraan kita akan kehilangan sosok yang patut dicontoh?

Sebagai contoh sederhana, orang tua yang sudah memiliki anak tentunya akan menjaga tutur kata, perilaku, dan berbagai hal yang nampak keluar agar tidak memberikan pengaruh buruk pada anaknya. Jika orang tua memberikan citra yang buruk, maka anak akan merasa diizinkan untuk berlaku serupa.

Hal yang sama juga terjadi dalam hidup berwarga negara. Kita tentunya ingin pemimpin kita terlihat tanpa cela. Kita ingin pemimpin kita dapat diteladani. Oleh karena itu, wajar jika siapapun calon pemimpin, dia perlu melakukan sebuah "pencitraan" untuk rakyatnya.

Saya ingin memilih seorang pemimpin. Saya tidak begitu setuju ketika muncul kalimat "Pemimpin yang Melayani". Kita butuh orang yang memimpin kok, yang menunjukkan arah menuju kemajuan bersama. Kita tidak butuh pelayan. Kalau kita merasa pemimpin kita pelayan, ya sampai kapanpun kita tidak akan maju bersama, toh kita semua bermental juragan. Pemimpin yang sebaiknya kita harapkan adalah pemimpin yang mau bergerak bersama, berbagi visi, dan mau mendidik serta mengajak rakyatnya untuk bergerak menuju perbaikan dan inovasi.

Tulisan ini adalah bagian dari cara saya menikmati pesta demokrasi yang saat ini dialami warga negara Indonesia. Ini adalah fase yang mengagumkan bagi sebuah negara. Oleh karena itu, bijaklah kita dalam memilih sosok yang akan menjadi pemimpin kita nanti. Kita perlu paham siapa pemegang komando gerakan kita nantinya. Selain itu, sebagai warga pun kita harus mendukung kebijakan yang dibuat sesuai dengan peran dan profesi kita masing-masing. Kita perlu bersatu agar jalan yang kita tempuh tidak kabur lagi.

Selamat bersenang-senang Republik Indonesia. Mari nikmati pesta kita.

Comments

Popular Posts