Saat Itu Sepuluh Detik Saja

Malam itu, lampu sorot konser bagaikan kerlap kerlip bintang berlebih cahaya. Mereka bergantian menerangi wajah kita. Sesekali kulihat wajahmu terkagum menatap panggung, bahagia bercampur damai yang tak terjelaskan. Tentu saja. Itu adalah musisi kesukaanmu pada saat itu. Hari itu pun aku merasa kitalah pusat dari seluruh keramaian ini, artis di panggung adalah hiburan bagi kita. Dunia ada untuk kita saat itu. Sepuluh detik.

Aku tidak akan lupa rasanya berdiri bersebelahan denganmu di acara musik itu. Bukan karena acaranya, tetapi karena keberadaanmu terasa bagai alunan lagu yang tak kunjung usai bersuara stereo di kanan-kiriku. Aku tak ingin berhenti mendengarnya, ingin kunyanyikan lagi dan lagi. Ingin ku berduet mendendangkan lagu kehidupan bersamamu. Tak perlu lama, izinkan aku menyamakan nada denganmu dalam lagu hidup ini. Atau paling tidak, kembalikan aku ke dalam sepuluh detik ini suatu saat nanti. Tidak perlu lama. Sepuluh detik saja.

Aku pun berhenti meloncat dan berdiri diam sambil menengadah menatap panggung.

- Terinspirasi dari kisah seorang teman

Comments

  1. ...... NUK.
    sounds familiar, hahaha.
    you made me wipe my tears. sialan.
    -a

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts