Dialog Dua Ego yang Akan Mati

"Kamu terlalu ambisius. Ya, kamu terlalu banyak berpikir tentang hal-hal yang mungkin tidak tepat untuk kau telaah sekarang?"

"Kenapa?"

"Memangnya kamu yakin bisa membuat segala dugaan dan perspektif negatifmu itu menjadi lebih baik hanya dengan memikirkannya?"

"Errr, tidak sih. Tapi tiba-tiba kepikiran saja."

"Sepertinya isi kepalamu sudah cenderung negatif ya. Kamu merasa mudah meledak bila mendengar sesuatu yang tampaknya salah?"

"Well, iya sih. Langsung sebal dengan cepat. Padahal saya tahu informasi itu belum tentu dan apa hak saya untuk menyimpulkan secepat itu. Ah, harusnya saya lebih bersabar."

"Sepertinya itu kebiasaanmu sejak dulu. Terlalu cepat menyimpulkan dan mudah merasa benar. Meh..."

"Hmmm, tidak salah pendapatmu. Lalu bagaimana? Harusnya aku lebih menahan dirikah? Lebih bijak dalam menyimpulkan, atau justru harusnya aku diam saja?"

"Tidak pernah aku berkata padamu untuk diam. Aku minta kamu melihat dirimu lagi. Apakah menurutmu kamu sudah sehebat itu sampai bisa menyimpulkan sesuatu yang infonya belum jelas?"

"Tidak. Aku masih hijau dan tidak tahu apa-apa."

"Selamat datang kalau begitu pada ketidaktahuan. Lebih baik kamu diam dan belajar dulu. Diam di sini maksudku adalah diam mendengarkan, bukan diam tidak melakukan apa-apa. Lakukan sesuatu. Kamu di sini bukan hanya untuk jadi pajangan saja kan?"

"Iya, jelas itu. Aku tidak pernah mau diam saja. Kamu kira aku diam saja kalau mendengarkan?"

"Aku tahu kamu tidak diam saja."

"Tapi aku sebal dengan diriku sendiri."

"Sebal kenapa?"

"Sebal akan ketidakberdayaan, sebal pada ke-sok-tahuan, sebal pada kesombongan yang bahkan baru muncul di dalam kepala. Cih, itu kan berarti sudah muncul dari hati."

"Tapi kamu mencegahnya keluar dari mulutmu?"

"Ya."

"Paling tidak, hanya hatimu yang tahu. Oleh karena itu dia membantumu untuk menahannya cukup sampai di dalam otakmu saja. Tidak perlulah mengotori lingkungan sekitarmu."

"Ya ya ya."

"Sudahlah. Kamu tahan dirimu lagi. Masih banyak yang perlu kau lakukan. Janganlah sombong. Lagipula sampai kapanpun, sepandai apapun dirimu, tidak pantaslah kamu sombong. Manusia itu diberi kelebihan sedikit saja bisa langsung kalap. Harta itu tidak akan jadi apa-apa. Hal yang sama berlaku pada gelat, pangkat, atau apapunlah itu yang serupa."

"Ini membuatku teringat pada sesuatu. Sebuah metode yang aku sebut 'satu bulan sebelum kematian'."

"Apa itu?"

"Bayangkan kalau kita mati satu bulan lagi. Bayangkan bahwa kamu tahu dengan jelas bahwa semua yang kamu miliki ini akan ditinggalkan dalam waktu satu bulan. Apa yang akan kamu lakukan dengan semua harta yang kamu miliki? Kamu tidak akan membawawnya mati. Jabatanmu akan lepas dengan mudah dan mungkin bersisa ucapan terima kasih dan bela sungkawa."

"Oke. Aku mendengarkan."

"Kematian adalah jalan termudah untuk mengingat betapa tidak berartinya yang kita miliki. Akan lepas dalam sekejap mata, secepat ruh ditarik dari raga."

"Lalu apa yang akan kamu lakukan bila kamu hanya punya waktu satu bulan lagi?

"Aku akan mencari tempat yang paling ingin aku tuju. Aku coba jalani dengan setiap langkah dan harta yang aku punya. Sesungguhnya aku mencari jawaban atas keimananku, atas jawaban terhadap Tuhan. Aku ingin tahu rencana Tuhan padaku. Apakah aku sudah gagal menjadi umatnya atau belum? Apakah aku sudah berusaha sekuat tenaga dalam hidupku? Apakah aku telah menggunakan waktuku dengan baik. Aku sadar harta ini tidak sebanding dengan waktu yang pernah aku miliki."

"Jadi menyesalkah kamu dengan waktu yang kamu jalani?"

"Ada penyesalan, tetapi tidak ada gunanya diungkit. Kita menapaki waktu sekarang dan kemungkinan akan menapaki masa depan. Jadi aku akan lewatkan waktu lampauku. Tak akan kubiarkan menjadi halangan dalam hidupku ke depan. Walaupun waktuku tinggal satu bulan."

"Kalau aku punya waktu satu bulan lagi, aku akan berlari ke lokasi yang tidak pernah kulalui. Hanya untuk tahu. Hanya untuk belajar lagi."

"Tidak jauh berbeda. Kita sesungguhnya memang tidak tahu apa-apa kan. Oleh karena itu, kita mencari lokasi yang tidak kita ketahui, sesungguhnya kita payah."

Comments

Popular Posts