Saya dan Supir Taksi: Tentang Transportasi dan Niat Untuk Maju

Cerita ini masih fresh. Baru saja sekitar 20 menit yang lalu, saya turun dari mobil Taksi yang mengantarkan saya pulang dari daerah Kuningan, Jakarta. Saya ingin berbagi sedikit banyak cerita yang berlangsung selama 30 menit perjalanan saya pulang dari Kuningan sambil diiringi lagu "Hujan di Mimpi" dari Banda Neira. #bukanblogberbayar

Pembicaraan saya dan bapak supir ini berawal dari kebiasaan saya untuk mengajak ngobrol supir taksi. Tujuannya sederhana, saya suka bertukar cerita. Setiap supir taksi yang saya tumpangi mobilnya, selalu membawa kisah menarik. Sebuah perspektif baru yang selalu mengingatkan saya kepada beragamnya manusia yang hidup di Indonesia. Saya pernah berbincang panjang dengan supir taksi Pro-tentara dan Anti-sipil, hingga supir taksi yang pernah jadi korban pelecehan kaum penyuka sesama jenis.

Supir taksi kali ini adalah seorang bapak-bapak yang umurnya sudah setengah abad dan masih mencari uang dari narik taksi. Berawal dari pertanyaan basa-basi mendekati lebaran, yaitu, "Bapak nggak mudik, Pak?" yang dijawab dengan, "Nanti dek, setelah lebaran."

Bapak ini rupanya berasal dari daerah dekat Wonosobo. Kami sama-sama setuju bahwa mudik bisa dilakukan tidak harus di hari lebaran, tetapi bisa dijalankan setelah lebaran selama niat untuk bersilaturahmi dan pulang ke daerah asal tetap ada. Saya bertanya pendapatnya tentang bagaimana pengalaman mengoperasikan taksi selama mendekati lebaran, berhubung lalu lintas Jakarta tergolong lengang. Dalam benak saya, pasti lebih nyaman untuk berkendara dan tidak terlalu melelahkan. Akan tetapi, bapak supir menjelaskan bahwa pendapatannya jauh menurun dari biasanya. Dalam durasi beroperasi yang sama, di hari biasa, beliau bisa mendapatkan sekitar empat ratus ribu, tetapi hari ini tiga ratus ribu saja belum sampai.

Dari dialog tersebut muncul lah keinginan saya untuk berdiskusi tentang peran alat transportasi umum di Jakarta yang sebenarnya merupakan solusi terbaik guna meningkatkan kenyamanan dan kecepatan berkendara. Beliau mengutarakan bahwa alasan terbesar mengapa warga kota Jakarta tidak mengandalkan kendaraan umum adalah karena jumlah kendaraan pribadi terlalu banyak. Beliau juga memaparkan bahwa jumlah taksi di Jakarta itu banyak. Bila ada kekurangan jumlah taksi pada mall atau pusat keramaian, itu dikarenakan kemacetan yang membuat waktu tempuh taksi dari satu tempat ke tempat lain menjadi tidak efisien. "Bayangkan saja, saya kalau hari biasa bisa dari Senayan ke Bekasi butuh waktu hingga tiga jam," Ujar beliau. Sesungguhnya taksi di Jakarta itu banyak. Blue Bird sendiri punya paling tidak dua ratus armada taksi di setiap pool-nya. Jadi bukan jumlah taksi yang kurang, tetapi macet membuat taksi menjadi jarang. Belum lagi kalau ditambah supir yang malas menghadapi kemacetan.

Saya sepakat dengan hal tersebut, kemacetan memang salah satu sumber masalah utama mengapa orang malas menggunakan kendaraan umum, selain karena ketidaktertiban dan ketidaknyamanan berkendara yang masih dalam masa perbaikan. Masih banyak yang perlu dibenahi guna memancing warga kota Jakarta terutama kaum menengah ke atas untuk mau menggunakan kendaraan umum. Saya jelaskan pada beliau betapa lebih hematnya menggunakan kendaraan umum dibandingkan kendaraan pribadi, terutama di akhir pekan. Bila saya paparkan, seperti ini rincian perhitungannya.

Asumsi rumah butuh sekali naik angkot ke halte busway. Busway sekarang sudah menjangkau berbagai macam pusat keramaian, jadi rasanya cukup praktis untuk digunakan.
1. Bayar angkot = Rp 4.000,00
2. Bayar busway (pergi) = Rp 3.500,00 (Sekali naik, tinggal turun depan mall lalu jalan kaki)
3. Bayar busway (pulang) = Rp 3.500,00
4. Bayar angkot = Rp 4.000,00
Total = Rp 15.000 untuk transportasi.

Oke, katakanlah bila kita terlalu lelah dan ingin pulang naik taksi. Biaya taksi pulang bila dibandingkan dengan membawa kendaraan umum juga terhitung jauh berbeda. Untuk mempermudah, saya akan jelaskan biaya yang perlu dikeluarkan bila membawa mobil pribadi. Perhitungan ini saya gunakan berdasarkan pengalaman pribadi.
1. Bensin = Rp 70.000,00 (setelah harga Premium naik)
2. Parkir = Rp 20.000,00 (Parkir di pusat perbelanjaan sekarang bisa berkisar segitu, katakanlah untuk 3 jam)

Nah, bila pakai taksi, saya hitung tadi butuh biaya Rp 60.000,00 dengan rute hampir serupa. Jadi total menggunakan kendaraan umum bila pulang dengan taksi adalah sekitar Rp 7.500,00 + Rp 60.000,00 = Rp 67.500,00 ditambah tidak usah menyetir dan tidak usah pusing memikirkan parkir. Nilai tambahnya adalah kita menjadi lebih banyak jalan kaki dan punya waktu lebih untuk membaca buku di jalan (untuk saya pribadi). Tentunya perhitungan biaya ini cocok untuk diterapkan pada warga yang terbiasa menggunakan kendaraan pribadi untuk berjalan-jalan.

Kesimpulannya, bila tidak penting-penting sekali untuk memanfaatkan kendaran pribadi atau tidak bepergian dengan keluarga, mulailah menggunakan kendaraan umum untuk perjalanan refreshing di akhir minggu. Lebih murah, lebih sehat, dan meningkatkan kepekaan kita terhadap lingkungan sekitar.

Pembicaraan kami berlanjut mengenai pengemis. Hal ini berawal dari komentar saya terhadap seorang pengemis di perempatan jalan Kuningan-Gatot Subroto yang selalu ada setiap saya pulang dari arah Kuningan. Bapak supir taksi ini rupanya cukup memahami informasi yang beredar mengenai pengemis musiman di bulan Ramadhan. Komentarnya sama, memberikan uang pada pengemis di jalanan itu tidaklah memberikan manfaat, itu hanya mendidik mereka untuk memperoleh uang tanpa harus berusaha keras. Bapak supir juga menjelaskan bahwa orang-minta-minta di jalan itu sudah memiliki perhitungan berapa kali lampu akan menjadi merah pada suatu perempatan dan berapa banyak uang yang bisa mereka peroleh setiap lampu menjadi merah. Bila dikalkulasi, maka pendapatan pengemis di Jakarta memang bisa melebihi supir taksi, pegawai swasta, atau bahkan dapat setara manager perusahaan. Saya mengutarakan pandangan sederhana, biarlah mereka mendapatkan uang lebih banyak dari kita, tetapi saya rasa tidak ada yang patut mereka banggakan pada anak-cucu mereka kelak tentang apa yang telah mereka lakukan di dunia ini. Kepuasan hidup mereka akan sebatas nominal mata uang, tidak lebih dari itu. Kita hanya bisa berharap bahwa cara yang mereka pilih ini hanyalah sebuah keterpaksaan, bukan menjadi kebiasaan atau budaya yang menjangkiti benak turunan mereka.

Saya pun melanjutkan pembicaraan kepada adanya sebuah konsep berpikir di warga negara Indonesia yang beranggapan bahwa "kondisi kurang" yang dimiliki merupakan sebuah nasib yang sudah harus diterima dan tidak bisa diubah. Saya bilang pada bapak supir, "Sebenarnya mereka yang di kampung-kampung itu punya hak dan kesempatan yang sama. Hanya masalahnya mereka mau atau tidak. Saya percaya bahwa bila ada kemauan, Tuhan pasti akan memberi jalan."

Pendapat saya di atas itu bukan omong kosong, bukan pula kisah pribadi. Saya hanya mendapat inspirasi dari orang-orang di sekitar saya yang telah membuktikan kalimat saya barusan. Saya mengenal seorang rekan kerja yang dulunya tidak punya apa-apa, tetapi dengan keras kepalanya dia ingin kuliah. Dia pernah tinggal di warnet dan menyambi menjadi kuli skripsi, hal itu semata-mata demi menyelesaikan kuliahnya. Ayah saya juga tidak datang dari keluarga serba berkecukupan, tetapi dia bisa membuktikan bahwa kekuatan niat, usaha, dan doa bisa membawa seseorang untuk mengubah nasibnya.

Ternyata, supir taksi ini memiliki seorang anak  yang sudah menginjak kelas 2 SMK. Anaknya ini memiliki niat besar untuk berkuliah di STAN. "Jurusan akutansi," ujarnya. Saya merasa senang mendengar cerita bapak supir taksi ini bahwa anaknya memiliki kesungguhan untuk belajar dan mengubah nasibnya untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat. Mendengar kisah anak supir taksi ini, saya merasa masih ada harapan dari sana-sini bahwa kita bisa menjadi bangsa yang besar walaupun harus dimulai dengan cara merangkak.

Sebenarnya banyak lagi kisah yang kami bicarakan, tetapi rasanya ini adalah dua cerita besar yang bisa saya ceritakan melalui postingan ini. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan. Saya hanya bisa berterima kasih pada Allah bahwa masih ada kebaikan di dunia ini, masih ada kesempatan yang diberikan pada kita semua. Tetapi semuanya harus dimulai dengan niat. Kalau nggak shanggup, maka harus shaanggupin! #DartoDanang

Oh, btw, saya ingin berbagi klip nggak penting yang bikin kita shaanggup! Silakan dilihat di bawah

Comments

Popular Posts