Saya suka terpikir adanya kekhawatiran tentang masa depan. Katakanlah yang paling kurang realistis saat ini adalah saya khawatir akan kerja di mana nanti bila saya ingin mengejar idealisme saya yang berimbas pada mau dikasih makan apa istri saya. Tetapi saya percaya bahwa rejeki itu ada di tangan Allah dan kita haruslah berusaha untuk menggapainya. Hal ini menyebabkan saya tidak begitu khawatir pada ada tidaknya rejeki. Wong faktanya saya melihat di depan mata kepala saya sendiri ada orang-orang yang usahanya seenaknya atau bahkan bukan dengan cara yang baik tetapi tetap hidup. Bukti nyata bahwa setiap orang sudah dijatah rejekinya oleh Allah. Kita hanya tinggal menggapainya.
 
Saya juga suka terpikir apakah pekerjaan saya saat ini akan menjadi pilihan terbaik dan perlu dilanjutkan atau tidak. Ada nikmat dan tidaknya memang pekerjaan saya saat ini. Kemudian belum juga layak untuk dikeluhkan, baru juga seumuran ibu siap melahirkan. Tapi saya merasa pekerjaan ini adalah pijakan penting dalam karir, atau lebih besarnya lagi hidup saya kelak. Saya tahu banyak yang bisa saya pelajari di sini, banyak badai dan teka-teki yang saya selami dan coba pahami. Masih banyak... yang harus saya perhatikan. Jadi ketika saya mulai mengeluh kecil, saya tampar lagi diri ini dan berkata, "Heh! Lo masih anak bawang. Bekerja dan belajar yang bener."
 
Mungkin pemikiran random di atas itu memang berbasis pada ketidaksabaran saya untuk mendapatkan hasil lebih cepat padahal saya tahu semua butuh waktu. Balik lagi saya tampar diri sendiri. Dogol.
 
Terus umur saya sebentar lagi 25. Berarti mulai menuju usia siap nikah. Berarti kudu... siap-siap. Mau ngelamar Miranda Kerr udah ada yang punya. Jadi lamar yang kira-kira mau aja deh. #eaaa #kode #selowbro
 
Sudahlah. Malam ini saya hanya ingin menulis seenaknya dan semoga pembaca tidak melihat adanya #kode atau #sinyal khusus.
 
Sampai bertemu lagi.

Comments

Post a Comment

Popular Posts