Sebuah Kata Percaya

Terkadang di dalam hidup ini kita bisa saja berjalan untuk memilih arus yang berbeda dengan orang lain. Tapi semata-mata kita melakukan itu karena percaya. Kita juga seringkali menjawab banyak hal dengan sebuah kata "percaya". Sulit memang kita memahami kenapa kita, orang lain, seringkali merasa aman dengan kata "percaya" itu. Sebuah rasa percaya bisa membuat hati kita tenang, padahal alasan tidak jelas. Sebuah kata percaya bisa menyelesaikan sebuah perdebatan sengit, padahal tidak ada kontrak yang ditandatangi di atasnya. Kata "percaya" itu ngawang terbang dan bisa kita tampik bila kita mau. Tentunya akan menimbulkan kekecewaan dari pihak lain yang percaya itu.

Selama 24 tahun saya hidup, tampaknya saya hidup banyak berbasis pada kata percaya. Percaya pada ajaran agama, percaya pada orang tua, percaya pada saudara, teman, atau calon ibu dari anak-anak saya #eaaa. Banyak tindakan dan pilihan yang saya ambil untuk mencari sebuah kepercayaan, menjawab kepercayaan, membuat saya percaya, atau bahkan menjalani hidup berbasis percaya. Gila memang kadang. Tapi saya lihat di dunia ini orang-orang juga melakukan itu. Mereka percaya pada idealisme yang mereka pegang. Ada yang goyah, ada yang dibawa mati. Tapi mereka percaya dengan itu dan hidup dengan semangat, tegar, sedikit goyah, tetapi kepercayaan itu membuat mereka tidak mati. Menarik sekali melihat setiap manusia di dunia ini hidup dengan sebuah kalimat sederhana seperti, "Gw percaya kita bisa," "Gw tahu dia bisa," "Gw tahu dia jahat, tapi gw percaya dia," atau yang paling sederhana seperti kita pergi ke tukang cukur rambut baru dan meyakinkan diri dalam hati terhadap dua hal, yaitu "gw tahu dia bisa bikin gw ganteng" dan "gw percaya mau gimana pun hasilnya nanti... mudah-mudahan ganteng."

Saya suka termenung menatap orang-orang yang saya nilai pekerjaannya mungkin tidak kompleks, tidak menantang, atau terlalu biasa saja menurut saya. Pekerjaan-pekerjaan yang kita dengan congkaknya seringkali bilang pekerjaan rendah atau hanya pekerjaan sederhana, tetapi yang menarik adalah mungkin kita tidak tahu bahwa mereka melakukan pekerjaan itu semua dengan sebuah kepercayaan. Mereka percaya dengan gaji mereka yang segelintir, mereka bisa menabung dan membelikan seragam sekolan anak mereka. Mereka percaya setiap kali mereka mencuci baju majikannya, mereka akan menerima rejekinya yang bisa mereka kirim ke kampung dengan bangga. Bisa juga yang sederhana seperti apa yang guru kita lakukan, mereka percaya walaupun mereka tidaklah berponsel bagus, mobil mahal, atau pun apartemen mewah, mereka bisa melihat murid-muridnya suatu saat membawa ilmu yang ia turunkan walaupun dirinya mati dan ditimbun tanah.

Menjalani sebuah kehidupan itu memang berat. Persimpangan ada dimana-mana. Tetapi sesungguhnya yang kita perlu percaya adalah tujuan hidup kita itu memang harus menuju kebaikan. Kalau menurut ajaran Buddha yang pernah saya dengar, kita perlu percaya untuk hidup dengan mengutamakan kasih sayang. Atau seperti hasil perbincangan dengan seorang teman kantor yang beragama Katolik, dia selalu diingatkan ada Kasih dalam ajaran agama dalam menjalani kehidupan. Sederhana ya. Kasih sayang. Islam juga mengajarkan itu, aplikasikanlah kasih sayang dalam menghadapi segala hal niscaya hidup lebih  tenang.

Ya intinya, dari tulisan ini adalah saya cuma tersadar bahwa banyak pergerakan hidup di dunia ini berazaskan sebuah kepercayaan. Ada trust ada juga  believe. Jadi kalau kita punya believe seyogyanya kita taruh itu di depan mata kita bahwa tujuan kita itu hanya berjarak 5 cm dari depan mata kita (yak, ini mengutip novel 5cm) dan bila kita punya trust harus disertai ikhlas dan kembali lagi pada Tuhan. Percayalah apapun yang Tuhan berikan itu memang yang terbaik, seapes-apesnya hidup, masih banyak yang pasti lebih apes dari kita.

Saat ini saya percaya pada banyak hal yang ada di masa depan, sambil menguatkan diri untuk ikhlas bila semua itu ternyata bukan rencana Allah. Saya percaya anak saya lebih ganteng dari saya (harus optimis). Saya percaya bahwa istri saya nanti akan menjadi ibu yang luar biasa bagi anak-anak saya. Saya percaya bahwa nantinya saya bisa membanggakan orang tua saya. Saya juga percaya bahwa kelak saya bisa memberikan sesuatu bagi lingkungan sekitar saya (seperti apa yang selalu diingatkan ayah saya, manusia terbaik di mata Allah adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain). Saya percaya orang-orang di skeitar saya adalah orang baik yang memiliki cara-cara berbeda dalam menjalani hidupnya. Saya percaya kita bisa jadi apapun yang kita mau (Kecuali jadi Choi Siwon, udah takdir susah itu mah). Kemudian seperti semboyan standard lainnya, kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda.

Bandara Ahmad Yani, Semarang
5 Juni 2013

Comments

  1. Ini udah level "faith" kali ya. #ea #makinpusyeng

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts