Kipas Angin di Tanggal 28 Mei 2013

Sedikit renungan dari perspektif saya yang masih sebesar gang di rumah petak mudah tersulut api dan hangus terbakar. Ketika kita memiliki sebuah keinginan, ilmu, dan idealisme, kemudian kita bertabrakan dengan kebutuhan dan urgensi akan pemenuhan suatu perkembangan yang dibatasi waktu, mana yang harus kita pilih?

Kita sadar betul bahwa segala aturan yang ada di suatu wilayah, area, petak, negara, bangsa, dan sebuah simpulan panjang lebar tinggi yang memiliki batas adalah sesuatu yang ditentukan berdasarkan sebuah pengalaman, pemahaman, penelitian, dan teori yang sudah dipraktekan. Tetapi pada kenyataannya kita adalah jenis makhluk hidup yang paling sering mencari celah dan meminta maklumat pada diri sendiri.

"Yaudah nggak apalah..."
"Yaudah kita potong sedikit pohonnya nggak apalah..."
"Yaudah kita bakar dulu, nanti pasti ada rumput tumbuh."

Segala perizinan pada alam pun kita munculkan semata-mata hanya untuk meletakkan struktur konkret yang tak bernyawa. Katanya sih untuk kepentingan bersama. Tapi disewakan. Dijual. Lalu ada yang bayar.

Sebenarnya semua perkembangan itu ada baiknya. Hanya saja kita perlu berpikir. Proses perkembangan itu sudahkah memenuhi persyaratan. Paling tidak... persyaratan alam. Persyaratan alam itu sepertinya tidak sesulit membuka halaman berisi pasal dan ayat-ayat, hanya perlu lebih tenang, tarik napas, tekan keegoisan, lalu buka mata lebar-lebar, pasang telinga, hirup udara yang ada, dan mulailah rasakan apa yang dianjurkan dan tidak dianjurkan.

Kita tertekan dengan ketiadaan materi. Merasa tidak cukup terus menerus dan lupa pada apa yang sudah digenggam, dirasa, dihirup, dan dibekap. Kita selalu mencari dan lupa merawat apa yang sudah ada. Kita selalu berjalan dan sering lupa untuk berdiri, diam sejenak dan menatap sekitar untuk mengetahui sudah di manakah kita sekarang.

Kita lebih sering terburu-buru. Terburu-buru pergi, terburu-buru pulang, terburu-buru tidur. Selalu terburu-buru. Lupa untuk menunggu. Lupa bahwa kita juga diberi waktu untuk menjadi pengamat.

Sesungguhnya ketidakseimbangan adalah yang kita jalani. Kita lupa bahwa kita itu gontai dan lunglai. Kita berjalan sebelah kaki dan kadang meloncat tergopoh sampai sering tersandung. Kita lupa kaki menjejakkan kaki itu harus perlahan. Kita lupa bahwa kita tidak hidup untuk kita sendiri, kaum kita, bangsa kita.

Kita sungguh makhluk pelupa.

Karena mungkin kita memang seringkali belajar untuk lupa. Atau memang... kita terbiasa dan memang mau lupa.

Comments

Popular Posts