Untuk Berbagi dan Tersesat Sekali Lagi

Untuk saya, bekerja sebagai sukarelawan di AFS Bina Antarbudaya adalah sesuatu yang membuat saya terus berlari. Saya selalu diingatkan bahwa berjalan adalah sebuah cara yang membuat kita kemungkinan besar tidak mencapai potensi tertinggi dari diri masing-masing. Saya bersyukur berada di antara orang-orang haus perjalanan dan ringan tangan dalam mendermakan hatinya untuk orang lain, membuat saya ingat untuk malu bila tidak ikut serta di dalamnya.

Saya yakin bahwa ketidakberangkatan saya dulu hanyalah sesuatu yang tertunda. Saya mendapat sebuah kesempatan untuk menjaga ekspektasi saya, meningkatkan kepekaan dan inisiatif, belajar untuk lebih peduli, lalu pada akhirnya memahami apa kaidah hidup manusia atau minimal diri saya sendiri. Kesempatan saya untuk melihat dunia tidak terbatas dari menjejaknya kaki saya di negeri asing. Kesempatan saya untuk melihat dunia terbuka lebar dari para returnee dan volunteer yang dengan rendah hati berbagi kisah perjalanan hidup mereka.

Kemarin, tanggal 6 Agustus 2012, untuk pertama kalinya saya takut untuk kehilangan sebuah perasaan pada sekumpulan orang yang rasanya berkali-kali saya tuliskan dalam catatan hidup saya. Saya takut untuk kehilangan saat nama baru muncul membawa kisah dan menjadi paragraf segar di setiap lembar kertas catatan saya. Saya takut nama lama yang tidak pernah berhenti mengajak saya ikut bermimpi atau minimal mengetok balik saya ke dalam ruang berpikir yang lebih solid menjadi sulit dijangkau. Saya takut kehilangan pengingat untuk apa setiap langkah yang saya pijakan, setiap kata yang terucap, atau bahkan untuk apa setiap nafas yang saya hembus. Saya khawatir bahwa saya melewatkan kesempatan untuk merealisasikan makna hidup manusia yang lebih baik, kesempatan untuk berbagi dan lebih banyak mendengar, dan terutama kesempatan untuk menjadi diri sendiri.

Sebagaimana saya kemarin bertanya pada 105 anak AFS dan YES yang akan berangkat tentang "Untuk apa perjalanan kalian ini?", saya juga jadi bertanya pada diri saya sendiri, untuk apakah perjalanan hidup saya ini? Perjalanan hidup ini terlalu singkat untuk menjadi sesumbar belaka. Perjalanan hidup ini terlalu mahal bila menjadi ruang pamer untuk orang lain. Jadi menggantunglah pertanyaan itu, "Untuk apa?"

Setelah Orientasi Nasional 2012 ini, saya juga akan melakukan hal yang sama seperti 105 anak yang akan menjalani 11 bulan perjalanannya, sekali lagi memantapkan diri sendiri untuk melangkah demi tujuan yang besar. Jalurnya mulai terlihat, hal yang harus saya lakukan adalah melangkah.

Sampai bertemu 11 bulan lagi adik-adik, sampai bertemu di titik berikutnya. Kemudian kita bicara lagi dari hati ke hati. Untuk berbagi dan tersesat sekali lagi. Membuat pertanyaan dan mencari jawaban sampai takdir dan kematian menghentikan langkah kita.




Comments

Popular Posts