Opini: Tentang Isu Agama pada Pilkada DKI Jakarta 2012

Pertama kali saya mendengar ada pendapat bahwa memilih pemimpin haruslah yang seiman, saya tergelitik sekali. Apalagi ketika ketika tingkatannya dinaikkan menjadi mengharamkan memilih pemimpin non-muslim. Apa yang membuat saya tergelitik? Sederhana, ini seolah menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang berpikiran sempit.

Menanggapi adanya "himbauan" untuk memilih pemimpin seiman pada pilkada DKI Jakarta 2012, berarti dengan jelas kita diarahkan untuk memilih calon pasangan gubernur dan wakil gubernur yang beragama Islam. Padahal hati nurani beberapa golongan masyarakat sudah mulai enggan untuk mendukung beliau, terutama setelah melihat apa yang berkembang di kota Jakarta selama lima tahun belakangan ini.

Pilkada DKI Jakarta hanya contoh kecil, tetapi bila ditelaah lebih luas lagi. Umat muslim di Indonesia rasanya tidak punya kekuatan untuk mengatakan bahwa memilih pemimpin harus beragama Islam adalah yang benar untuk saat ini, hal tersebut dapat dilihat dari
1. Negara ini memiliki agama yang beraneka ragam sejak awal. Bukan negara Islam. Tidak ada hak absolut untuk menjadikan Islam ekslusif walaupun memang mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.
2. Negara ini berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Rasanya konteks ini jelas, tidak membawa Tuhan dari golongan tertentu. Jadi tidak tertulis keharusan pemimpin harus dari agama Islam.
3. Track record orang Islam di Indonesia saat ini tidak dalam keadaan ideal. Banyak oknum pemerintahan yang diketahui lalai , penjahat, dan pelaku kriminalitas lainnya membawa nama Islam di KTP mereka atau lebih mudahnya nama mereka berbau Islam. Jadi sulit untuk umat muslim memberikan jaminan bahwa orang Islam itu yang terbaik untuk menjadi pemimpin saat ini.

Bila mengacu pada tulisan Pak Sarlito Wirawan pada postingan saya sebelumnya, marketing Islam saat ini buruk di Indonesia. Saya malah melihat "himbauan" memilih pemimpin seiman ini adalah tindakan blunder dari pemuka agama atau pun tokoh penting beragama Islam yang ada di Indonesia. Pendapat mereka suatu saat bisa menjadi pemicu perpecahan bangsa. Pendapat tersebut terkesan egois. Tidak meletakkan diri di posisi golongan lain.

Mungkin bagi umat Islam tertentu pendapat saya ini tergolong liberal, tetapi bila kita bayangkan bahwa kita sedang melakukan jual beli barang atau dalam hal ini jual beli pendapat, siapa pembeli yang mau ditodong dengan pemaksaan? Mereka pasti lebih suka dengan penjual yang ramah dan menunjukkan keterbukaan untuk melihat isi barang di toko-tokonya, memberikan pelayanan terbaik, dan mengantarkan ketika pelanggan tersebut keluar. Sederhana, tetapi rasanya itulah yang dulu membuat Rasul kita Muhammad SAW berhasil membesarkan nama Islam. Beliau menunjukkan keterbukaan, mengundang, tidak memaksa dan menciptakan kenyamanan pada orang-orang non-muslim. Keharusan untuk memilih pemimpin beragama Islam yang memang ada di dalam ajaran agama, seharusnya bisa disesuaikan melihat kapabilitas calon pemimpin beragama Islam yang ada. Jika calon pemimpin beragama Islam tersebut memang berkualitas, rasanya protes tidak perlu muncul dan "himbauan" ini tidak perlu dilayangkan.

Semoga kelapangan hati dan ketenangan jiwa selalu bersama kita semua. Demi kehidupan dunia dan akhirat yang lebih baik.

Comments

Popular Posts