Setelah Lima Tahun dan Tiga Jam Bersama Jakarta

Kemacetan lalu lintas di kota Jakarta tampaknya telah menjadi lalapan setiap hari bagi warga kota Jakarta. Saya baru saja merasakan nyerinya menjalani kehidupan petang di tengah Jakarta pada hari Jumat kemarin. Saya berada di jalan hingga 3 jam, menempuh sebuah jarak perjalanan yang kiranya tidak pantas untuk dibandingkan dengan waktu tempuh saya.

Saya memulai perjalanan dari rumah ke daerah Kebayoran Baru. Butuh waktu lebih dari setengah jam untuk mencapai daerah UHAMKA, Limau. Awalnya saya kira kemacetan akan minim karena perjalanan saya sore itu adalah melawan arus. Rupanya dugaan saya salah, kemacetan tidak terhindarkan karena adanya saling silang lalu lintas dengan arus pulang kantor. Alhasil saya membuat teman saya, Andriani Oktadianti, menunggu seorang diri di depan ATM BNI.

Perjalanan saya sore itu berlanjut menuju CityWalk Mall yang berada di daerah Pejompongan. Bermodalkan insting, saya mencari jalan yang tidak macet dan bukan jalur 3 in 1. Saya melaju lewat Senayan, depan Senayan City hingga akhirnya harus berbelok ke arah Pejompongan. Stasiun berita TVRI adalah saksi kemacetan kendaraan menuju arah Slipi. Saya tidak bisa membayangkan berapa jumlah mobil yang melalui jalur itu setiap sore, berapa banyak bensin yang terpakai, dan berapa banyak tenaga yang terhambur hanya untuk bertahan hidup.

Setelah melalui flyover yang melintas di atas jalan Gatot Subroto, saya berbelok ke kiri menuju Bendungan Hilir. Lancar? Tidak. Rombongan kendaraan yang bertujuan sama, menghindari 3 in 1, saling sumpal dan berbondong-bondong melintasi jalan kecil tersebut. Sore itu saya merasakan secara langsung efek dari sebuah aturan bernama 3 in 1. Bukan memperlancar atau mengurangi penggunaan kendaraan roda 4, tetapi membengkakan kemacetan kota Jakarta di sekitar jalan Sudirman.

Untuk mencapai CityWalk Mall dari Bendungan Hilir, saya harus melintasi sebuah jalan kecil bernama jalan Mutiara. Jalan ini berukuran terlalu kecil untuk dilintasi kendaraan dari dua arah, tetapi nyatanya, pengendara dari arah Karet tetap melintas dan mengantre lambat menuju Benudungan Hilir. Modusnya sama, menghindari aturan 3 in 1.

Saya sampai di CityWalk sekitar pukul 18.00 yang berarti sudah 2 jam perjalanan saya lalui di kota Jakarta. Masih ada tujuan terakhir, yaitu Plaza Semanggi. Saya menjemput Amel di Plaza Semanggi, karena dekat dengan pintu tol dalam kota. Oh ya, saya mau ke Bandung sore itu untuk menghadiri acara wisuda Juli Institut Teknologi Bandung.

Setelah menjemput Ardwina dan Lalita di CityWalk, saya harus mengantre sekali lagi bersama ratusan mobil lainnya yang menuju daerah Tebet. Belum usai ternyata perjuangan saya menginjak kopling. Singkat cerita, sekitar pukul 19.30 saya berhasil menjemput Amel di Plaza Semanggi. Kemudian saya harus menyisir daerah jalan Gatot Subroto yang tentu saja macet sebelum bisa masuk ke tol dalam kota yang juga macet.

Ingin memaki suara saya tidak cukup keras untuk didengar pemerintah DKI Jakarta. Ingin memperbaiki? Saya tidak punya wewenang, saya juga menjadi bagian yang harus bisa survive dengan keadaan Jakarta karena menggunakan kendaraan pribadi adalah satu-satunya cara yang efisien untuk pergi ke Bandung bersama teman-teman.

Bila mengacu pada kehidupan sehari-hari, saya tidak bisa juga mengandalkan kendaraan umum yang ada di Jakarta, waktu terbuang, tenaga terpakai, ketidaknyamanan dan tentu saja uang yang keluar bahkan lebih mahal dibandingkan bila menggunakan motor pribadi.

Saya ingin berbagi sedikit keluh kesah di sini, bukan menawarkan solusi. Kenapa? Karena saya kira semuanya tahu solusinya apa. Semua tahu apa yang kita butuhkan. Ingin bergerak dan berkecimpung dalam membawa perubahan? Saya tidak ada di tempat itu untuk saat ini, belum mendapatkan kesempatannya. Mungkin hal kecil yang bisa saya lakukan saat ini adalah ikut serta untuk memilih gubernur DKI Jakarta periode berikutnya, memilih orangnya, bukan partainya. Semata-mata saya ingin ikut serta dalam perubahan tersebut.

Jika ada yang ingin tahu, Jakarta 5 tahun lalu ketika saya masih SMA, tidak seperti ini. Dulu macet tapi tidak sekacau ini.

Kalau nanti sudah ada transportasi umum yang baik, mari kita tinggalkan kendaraan kita di rumah dan hanya digunakan untuk sesuatu yang memang penting. Atau kalau mau mulai dari sekarang juga boleh. Dedikasi tiada tara menghadapi kerasnya dunia.

Comments

  1. Dilematis memang, perlunya transportasi umum yang mumpuni tapi realita di lapangnya suram.
    Nya eta mah di imah we lalajo SNSD. #eh
    :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenapa ya aing mulai kecewa dengan SNSD dewasa ini. Rasanya kehilangan sosok mereka yang lucu2 di masa lalu.

      Delete
    2. Haha, peer pressure buat keliatan 'udah gede' kali ya, mereka juga sadar ga bisa make konsep remaja macem gee terus.

      Atau maneh sebenarnya ada bakat demen daun muda nu? >:)

      Delete

Post a Comment

Popular Posts