Potongan Tulisan "Rakyat & Transportasi"

Berikut ini adalah potongan tulisan "Rakyat & Transportasi" dari Mas Adhitya Mulya di blognya,

Di Mana Rahasia Pemerintah Kota?
Pertama, kita harus pisahkan yang namanya pemerintah. Pemerintah kota (pemkot) dan pemerintah pusat (pempus). Kedua, kita lihat dulu rantai kejadiannya.
Kenaikan BBM itu instruksi dari pempus. Kenapa?
Karena Pempus tidak punya pilihan lain. Kenapa?
Karena pembangunan di daerah yang berarah bottom up (ditentukan dari daerah) menciptakan kondisi di mana peningkatan mobil lebih tinggi dari pengingkatan pemakaian transportasi umum. Kenapa?
Karena semua kota lebih suka membangun jalan ketimbang membangun rel kereta. Lebih suka membangun jalan ketimbang bikin transbandung atau transolo misalnya.
Kenapa kebanyakan pemda tidak mengelola transportasi umum? Kenapa pemda malah membolehkan angkot dikelola swasta?
Karena system transpotasinya dikelola terbalik. Di negara lain, transportasi itu meliputi hajat hidup orang banyak. Karenanya menjadi tanggung jawab pemerintah. MRT di Barcelona hanya 1 euro. Mungkinkah segitu? Nggak! Pemerintah spanyol mensubsidi 5-6 eruo untuk setiap trip saking mahalnya biaya operasi di sana. Harga MRT di Singapura hanya 1-2 dolar. Emang segitu costnya? Nggak. Pemerintah sinigapur memanage uangnya dan mensubsidi biaya operasi MRT itu.
Di Indonesia, terbalik. Uang pemda dan pemkot gak cukup atau habis dikorup, sehingga pemda dan pemkot melakukan hal berikut:
1. menyerahkannya pada swasta. Di negara lain, pemda yang menentukan rute transportasi. Pemda yang keluar uang membangun infrasrtukturnya. Pemda yang menentukan harga tarifnya. Dan pemda yang mensubsidi marginnya. Pemda di kota-kota di Indonesia, terbalik. pengusaha angkot yang malah datang ke pemda. Mereka bayar uang untuk buka trayek. Tarif? Terserah swasta. Pemda untung berkali lipat. Keuntungan pertama, mereka tidak keluar uang untuk infrastruktur, malah pengusaha angkot yang usaha keluar uang beli 200 unit angkot. Pemda malah dapat uang trayek. Tahukah elo, bahwa ada 1 ruas jalan di jalan Ahmad Yani Bandung yang dilalui 14 rute angkot? Ngehek kan? Pemda juga tidak mensubsidi apa-apa. Pemda untung 3 kali. Kita ini memilih siapa yang layak menjadi gubernur, walikota dan bupati, tapi mereka tidak bekerja untuk kepentingan kita. Ini yang membuat kita sulit. Ketika BBM naik, ya tariff angkot juga naik lah.
2. Ketika pemda dan pemkot melihat pilihan antara bangun MRT dan bangun jalan, ini yang mereka lihat:
Bangun MRT:
Biaya infrastruktur, dari pemkot
Biaya operasi kereta, dari pemkot
Biaya subsidi tariff, dari pemkot
Bangun jalan:
Biaya infrastruktur, dari pemkot
Biaya operasi mobil, dari rakyat sendiri yang memakai mobil
Biaya bensin, dtanggung rakyat sendiri
Malah, pemkot dapat uang besar sekali dari pembayaran STNK tahunan yang mana adalah 5% dari nilai mobil.
Keputusan pemkot: bangun jalan lebih hemat bagi pemkot. Biaya hidup ditanggung rakyat sendiri. Pemkot malah dapet duit dari pajak.
Yang dibangun hanya jalan, jalan dan jalan. Yang subur hanya motor dan mobil. Pajak mobil lebih mahal. Bensin mobil lebih mahal. Transportasi umum kurang banyak. Pilihan rakyat apa?
Yep, you guessed it.
Motor.

Untuk direnungkan demi melakukan perubahan. Mari lakukan perubahan kecil tetapi bersama. Kalau bersama, kecil itu jadi banyak.

Comments

Popular Posts