Sebuah Pertanyaan dan Keyakinan


Sekarang ini saya semakin berpikir bahwa dunia ini memanglah kumpulan dari konspirasi. Entah konspirasi siapa. Saya masih menempatkan diri bahwa ini adalah konspirasi Tuhan. Setiap benda, setiap bulir, setiap helai zat-zat yang ada di depan kita adalah kode. Namun apa yang disebut sebagai kehidupan seolah menuntut kita untuk menutup diri dari semua itu. Kita menjadi lupa bahwa ada arti yang lebih dalam dari sekedar asap, ada peringatan dari setiap jatuhnya daun, atau bahkan ada yang namanya perintah dari setiap gerakan awan.
Seiring berjalannya waktu dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam hidup, saya dipertemukan banyak kalimat, himbauan, pemandangan, senyum, tawa, jeritan, yang entah bagaimana seolah merangkai satu demi satu kalimat tanya dalam hidup saya. Anda boleh tertawa, tetapi saya selalu bertanya dalam hidup saya, sebuah kalimat tanya tanpa kata penyusun yang jelas. Kalimat tanya tanpa kata baku.
Saya masih memegang sebuah kepercayaan bahwa manusia di dunia ini hidup membawa sebuah pertanyaan besar. Siapa pun itu. Entah dia datang dari kalangan ekonomi rendah atau tinggi, orang berkulit terang atau gelap, berhidung mancung atau pesek, berkelakuan sombong atau pun rendah hati, tidak memandang golongan, tidak mementingkan pengelompokan, sesungguhnya mereka berperan menjawab sebuah struktur besar kalimat tanya yang diamanahkan oleh sang Pencipta. Karena menurut kepercayaan saya, kitalah makhluk paling sempurna. Walaupun seperti apa yang tertulis di buku Partikel, “Jadi manusia jangan sombong”.
Kalau berbasis pada cerita dalam Islam dimana nabi Adam dilempar ke bumi karena melakukan kesalahan, saya kira sebenarnya Tuhan memang ingin nabi Adam dan keturunannya memahami tuntutan dan menjawab apakah sebenarnya syarat kekekalan menjadi penghuni alam semesta dan nirwana agar mereka layak meletakkan diri di dalamnya.
Sudah lebih dari milyaran tahun setiap organisme di muka bumi ini mencoba memenuhi tuntutan itu, dengan sadar atau tidak sadar. Baik yang hidup dengan sederhana ataupun tidak. Sebenarnya kita memang harus bisa hidup atau katakanlah membuat waktu hidup kita melewati batas ruang dan waktu. Jasad kita boleh membusuk dalam tanah dimakan cacing, tetapi tidak jiwa kita, tidak juga pertanyaan kita.
Saya terbayang jika orang tua saya meninggal nanti, sebenarnya sudah tahukah saya apakah pertanyaan yang mereka titipkan itu? Sudah sampaikah logika atau jiwa saya untuk memahami apa yang ingin mereka jawab?
Secara sederhana manusia hidup untuk menjawab pertanyaan. Makan apa hari ini? Pulang jam berapa hari ini? Ada acara TV apa malam ini? Ada tugas apa esok pagi? Sederhana. Setiap keping kesederhanaan ini harusnya merupakan penyusun dari sebuah pertanyaan besar yang menjawab kenapa kita melakukan sesuatu dan kenapa kita akan melakukan sesuatu. Pasti ada yang lebih besar dari sekedar menjawab bagaimana kita hidup hari ini. Pasti. Karena sudah terbukti kitalah yang diberi kemampuan untuk merontokan bumi ini. Tidak mungkin kita hidup hanya untuk alasan sederhana.

Comments

Popular Posts