Pemimpin dan Agama

Jadi pagi ini saya memulai diskusi dengan ibu saya tentang pemilihan calon gubernur DKI Jakarta di rumah dengan sedikit sengit. Saya sudah mengurangi minat memilih saya pada bapak HNW, FB, dan A. Alasannya sederhana, karena mereka melakukan kampanye yang jorok.

Joroknya ini pun sederhana, melakukan penempelan poster dan brosur di sembarang tempat. Membuat Jakarta kotor dan tidak indah. Sederhana bukan?

Seandainya mereka sadar akan masalah Jakarta, sudah sepantasnya mereka peka terhadap hal kecil seperti itu. Masalah kebersihan. Menempel brosur dan poster merupakan contoh kecil bagaimana mereka tidak mengindahkan hal sepele seperti itu.

Tetapi pernyataan saya untuk memilih calon gubernur DKI Jakarta berikutnya dinyatakan salah karena satu fakta bahwa, calon gubernur J (yang terakhir) bukanlah muslim.

Pertanyaan besar saya adalah memangnya salah kita meletakkan kepercayaan memimpin pada orang non-muslim? Toh saat ini banyak orang menggunakan penampakan seorang muslim untuk memunculkan citra diri bahwa dia adalah orang baik. Seorang koruptor mendadak menggunakan kerudung ketika persidangan, seorang calon pemimpin berfoto dengan peci saat kampanye, atau hal-hal lain sesederhana itu.

Bukan saya meragukan orang Islam. Sumpah, saya percaya dengan ajaran agama saya. Tetapi kalau memang ada calon pemimpin beragama Islam yang baik, kenapa perilaku Islami justru muncul dari orang non-muslim? Coba jawab itu wahai pemimpin beragama Islam. Saya memahami bahwa manusia itu tidak sempurna, tetapi mohon maaf, kami berharap muncul sebuah kesempurnaan minimal di masa kampanye kalian.

Comments

Popular Posts