Jika Aku Presiden

Presiden atau kepala negara Republik Indonesia, telah mengalami banyak pergeseran makna di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu pergerseran yang saya sadari muncul ketika merenungi kisah hidup saya sejak kecil hingga saat ini adalah pergeseran makna profesi presiden menjadi sebuah profesi tidak terhormat yang menakutkan. Sadar tidak sadar ada sesuatu yang pudar, menyamar, bahkan mungkin hilang dari kata "Presiden Indonesia". Saya tidak pernah lagi mendengar sebuah cita-cita ingin menjadi presiden. Padahal dulu ketika saya baru mengenal baju seragam putih-merah, rasanya impian untuk menjadi presiden masih lumrah, ringan, dan bangga untuk diucapkan. 

Dulu dari 10 orang anak SD yang ditanya, mungkin kita akan biasa saja mendengar satu sampai tiga orang anak menyebutkan cita-cita "Aku ingin jadi presiden". Tetapi saat ini mungkin kita akan salut, takut, atau bersimpati saat ada seorang anak yang dengan lantangnya mengucapkan keinginan ingin menjadi presiden. Saat ini anak-anak lebih ingin menjadi dokter, polisi, pegawai, direktur, CEO, ahli IT, dan lain-lain. Pandangan terhadap presiden Indonesia yang tidak memiliki kekuatan, lebih banyak dicerca dan hanyalah menjadi tumbal, membuat generasi muda menganggap bahwa menjadi pemimpin negara hanya akan menyulitkan hidupnya. Menjadi pemimpin negara berarti menjadi tumbal. Menjadi pemimpin negara berarti hidup dalam teror.

Padahal kalau kita sadari lagi, betapa hebatnya jika orang-orang yang punya pemikiran, mimpi, dan rencana besar, nantinya menjadi presiden Indonesia. Kita punya kesempatan untuk merealisasikan mimpi kita. Mendobrak setiap realita dan batasan. Memacu setiap otak di negeri ini untuk menciptakan gagasan. Melawan kesengsaraan. Menjinakkan halangan. Memperbaiki pola pikir dan budaya yang salah. Kemudian diakhiri dengan tujuan awal yang sederhana, yaitu berdiri di atas kaki sendiri.

Dewasa ini, semakin kita melihat carut marutnya situasi di Indonesia, semakin menghindarlah kita untuk menjadi seorang pemimpin negara. Kita tentunya sadar bahwa seorang pemimpin membutuhkan pengikut setia yang rela ikut berjibaku di dalam deraan lumpur kekacauan. Sayangnya, kita kehilangan kepercayaan pada calon pengikut. Bangsa ini tampaknya sudah terlalu merasa dirinya penuh kebenaran. Beberapa pihak merasa bahwa apa yang terucap dan terlontar dari mulut mereka merupakan sebuah keberanian. Ketika seorang pemimpin menjabat dan memperoleh amanah, pihak oposisi meletakkan diri mereka sebagai "kontrol" yang lebih bertujuan untuk menjatuhkan dibanding memberikan kritik membangun. Pihak oposisi akan bersikap tidak menyetujui putusan yang dibuat dan berusaha untuk menggagalkan atau secara halus, tidak patuh pada aturan dan ketentuan yang telah ditetapkan. Dengan alibi membawa kepentingan orang banyak (yang nampaknya hanyalah kepentingan golongan tertentu), pihak oposisi mencoreng perkembangan yang telah terjadi dan menghancurkan untuk membangun ulang dengan tujuan yang (katanya) baik.

Kalau ditanya ke generasi saat ini, tidak usah jauh-jauh tanyalah pada yang masih mengenyam pendidikan kuliah sarjana, berapa banyak pemuda yang ingin menjadi presiden? Berapa banyak jiwa muda yang ingin mengubah dan menjadikan Indonesia bangsa yang lebih baik? Banyak dari kita sudah antipati terhadap negara ini. Kecewa. Lelah. Murka.

Mari sedikitnya kita berkhayal, walaupun tidak berani bercita-cita, apa yang ingin kita lakukan bila menjadi Presiden Republik Indonesia. Apa yang mau kita ubah? Apa yang mau kita bentuk? Apa yang ingin kita buktikan pada dunia? Sederhana, mari kita sekali lagi bermimpi seperti apa yang dulu diimpikan pemuda-pemuda di zaman kemerdekaan, yaitu mencari cara untuk membangun Indonesia. Bermimpilah tanpa ketakutan, bermimpilah tanpa memandang hambatan nyata yang ada, bermimpilah. Karena semata-mata mimpi itu adalah kekuatan yang membangun sebuah bangsa untuk menjadi besar. Sebuah mimpi yang nantinya menjadi kenyataan.

Comments

  1. Sebelumnya gw juga sempet mikir bahwa sekarang ini semua orang yang bercita-cita jadi presiden - apalagi org dari partai politik yang mencalonkan diri - lebih mengedepankan motif kuasa atau politis. Bukan untuk mengabdi.

    Tapi untungnya, belum lama ini gw ketemu orang - sekarang jadi temen - umur 24 tahun yang bener-bener pengen jadi presiden. bahkan lebih spesifik lagi, dia bilang kalau dia mau jadi presiden Indonesia di tahun 2039. Dan sepertinya dia ngomong gitu bukan tanpa dasar. Belakang gw tau kalau si dia itu pinter dan ambisius akan ilmu sosial. Pasti bakal keren deh tuh kalau jadi!

    karena menurut gw mustahil ada negara tanpa pemimpin, jadii, mari beri tepuk tangan untuk mereka yang bener-bener pengen jadi presiden yang bener. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuih, itu jarang-jarang gw ketemu yg begitu. Semoga orang-orang dengan mimpi dan visi besar yang membawa kesejahteraan bagi orang banyak akan selalu dipelihara hidupnya oleh alam semesta.

      Salam kenal ya Risky.

      Delete
    2. Semoga amiin. haha.


      Salam kenal juga, Kawan.

      :D

      Delete

Post a Comment

Popular Posts