Vespa Merah Kami

Siang ini saya ingin berbagi cerita sedikit tentang motor vespa saya yang sudah dari tahun 1966 ditunggangi oleh keluarga saya. Keluarga penunggang vespa ini berawal dari nenek saya yang mengantar ibu dan paman ke SDnya hingga saat ini digunakan oleh saya untuk mengantarkan adek ke SDnya.

Kalau dihitung, sudah 46 tahun vespa itu beroperasi. Sempat lumpuh selama kurang lebih 3 tahun di masa awal kuliah tahun 2007, kemudian hidup kembali pada tahun 2011 hingga saat ini. Karburatornya yang asli dari tahun 1966 seperti jiwa yang tidak akan mati, masih asli dan masih mengalirkan udara ke dalam mesin, menyebabkan pembakaran berjalan dan menimbulkan ledakan yang menggerakan roda.

Vespa itu merupakan teman setia keluarga kami. Ayah saya dulu mencari nafkah bersama vespa itu, vespa itu pula yang menjadi kendaraan beroda dua pertama yang saya naiki waktu kecil. Konon katanya saya ditaruh di bagian depan setiap pergi ke pasar bersama ayah dan ibu. Kemudian dengan pandainya saya yang anaknya nempel-molor dan gembrot, tertidur di stang dan menyebabkan ayah saya tidak bisa turun dari vespa. 

Matiinu gembrot sang seniman lagi main cat (Vespanya di belakang), Gresik
Vespa itu juga menemani ayah pulang kampung ke Sukabumi, berpeluh dan bercucuran keringat, menderu menerobos jalanan Ciawi - Sukabumi, vespa itu tidak kenal lelah membawa ayah pulang ke kota tempat ibunya tinggal. Vespa diistirahatkan ketika akhirnya ayah membutuhkan mobil sebagai sarana transportasi, dianaktirikan hingga akhirnya saya diizinkan mengendarainya ketika menginjak kelas 1 SMA. Bersama motor dua tak itu, saya berkelana berkeliling Jakarta. Mengenal gang sempit, memahami rumus perjalanan pulang–pergi dari rumah ke sekolah. Mogok adalah kesempatan kami berdua untuk mengenal lebih dekat. Sesekali dia mengalami banjir di bagian busi, kendor di bagian platina, putus tali gas, atau bahkan lepas knalpot. Walaupun dengan segala kelemahannya, vespa ini tetap kami sayangi. Vespa merah kami adalah saksi hidup perkembangan keluarga kami, melihat saya tumbuh besar, lulus sekolah, kuliah, kelahiran adik saya, adik saya bicara, sekolah, bahkan sebentar lagi mungkin akan saya bawa mencari nafkah.

Vespa merah yang elegan, seksi, dan anggun ini adalah salah satu harta terbesar keluarga kami. Tua dan lambat, tetapi tak tergantikan. Sayangnya ibukota yang semakin keras ini tampaknya mulai terlalu berat untuk dirinya. Semoga dia siap menghadapi kerasnya ibukota jilid 2.0, bersama saya mencari kehidupan.


Comments

  1. OH MY GOD

    maneh dulu gembrot dan PUTIH

    Tuhan Maha Adil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu pasti anak yang ketuker sama lo gak berapa lama setelah foto tersebut diambil xixixixxixixixi

      Delete

Post a Comment

Popular Posts