Kemacetan Jakarta

Malam ini saya ingin sedikit berceloteh soal kemacetan lalu lintas di Jakarta. Hal ini berkenaan dengan pengalaman kemarin ketika saya menjemput adik pada pukul 18.30 di sekitar daerah Mangga Besar.

Perjalanan yang biasanya dapat ditempuh dalam 10 menit, berubah menjadi 40 menit karena rangkaian kekacauan yang sudah terjadi turun temurun di Jakarta. Pertama, hujan lebat turun dari sekitar pukul 16.30 yang menyebabkan sistem drainasi di kota Jakarta menyerah kalah dan memuntahkan kembali air ke jalanan, atau bahkan air cenderung tidak sempat masuk ke aliran drainase karena lubang menuju salurannya pun tidak ada. Kedua, genangan air di jalan lama kelamaan menguasai dan menjadi penghambat yang tidak bisa dihindari. Mobil dan motor mulai bergerak lambat, hingga akhirnya diam tak bisa berbalik arah dan menyebabkan aliran kendaraan berhenti. Ketiga, perilaku masyarakat yang (sudah biasa) tidak mengindahkan rambu dan marka jalan, menambah pelik situasi macet, menyebabkan adanya deadlock di berbagai perempatan.

Keadaan ini jauh berbeda dengan situasi sekitar 4,5 tahun yang lalu ketika saya adalah bagian dari orang-orang yang berkendara untuk pulang ke rumah. Walaupun kendaraan umum saat itu tidak didukung dengan hadirnya busway Trans Jakarta, tetapi lalu lintas saat itu jauh lebih manusiawi, meskipun menurut saya sudah buruk.

Sepanjang perjalanan saya melihat mobil seolah mencoba saling dorong, motor meliuk mencari celah di antara kerumunan mobil, sampai akhirnya pejalan kaki pun diambil haknya untuk berjalan di trotoar. Di kepala saya terpikir, berapa banyak bensin yang terpakai tanpa menghasilkan jarak optimal, oli, kampas rem, kampas kopling, dan komponen lain dalam mesin? Belum lagi sesuatu yang paling tidak terbayar, waktu.

Mungkin sebagai orang Indonesia saya seperti banyak mengeluh terhadap situasi ibukota kita yang kenyataannya memang lebih baik dibandingkan beberapa kota lain di dunia yang untuk merasa aman saja sudah sulit. Tetapi bolehlah saya sedikit arogan dan kecewa bahwa negara ini punya banyak kebebasan, pemikiran, dan manusia-manusia berkualitas, tetapi nyatanya individu-individu tersebut hidup di dalam kubangan lumpur yang menunjukkan kerendahan tingkat intelektual dalam menyusun sebuah sistem transportasi. Tidak habis pikir kapan bangsa ini akan bisa keluar dari situasi mencekam ini (ya, ini mencekam, sadarilah itu).

Memang benar ibukota itu keras, mendidik masyarakatnya menjadi kuat dan tangguh. Tetapi apakah memang harus sekeras ini?

Comments

Popular Posts