Masa Depan dan Belajar

Bicara soal masa depan nih, iye masa depan. Sesuatu paling sok-sokan dicerna dan digalaukan oleh banyak orang. Sesuatu yang tampaknya sulit dan mengawang-awang ketika kita mencoba untuk memimpikannya. Sebenarnya kita tuh pantas kok berandai dan bermimpi tentang masa depan, menurut saya. Seriusan, apa artinya lo hidup tanpa bermimpi? Mungkin pertanyaan standard setelah bermimpi adalah "itu mimpi bakal jadi kenyataan atau nggak?".

Nah, saya sendiri suka kepikiran soal masa depan. Pernah beberapa kali berpikir untuk jadi fotografer National Geographic (sampai sekarang juga masih), tetapi itu kan mimpi jauh sekali kayaknya. Sekarang aja belum bisa apa-apa, masih jauh dari apa yang disebut mengambil soul dari sebuah foto. Sedangkan kalau kita lihat foto-foto yang ada di majalah National Geographic, biasanya foto itu seolah berjiwa dan merasuk ke dalam sukma.

Sambil nyortir bentos* (edan, inspiratif saat nyortir bentos) saya kepikiran soal masa depan, mau jadi apa nanti. Tadi waktu belajar bersama kawan-kawan untuk persiapan sidang, sebenarnya saya menikmati sekali berbagi, mengajarkan, bercerita, atau apapunlah itu yang penting bermanfaat untuk orang lain. Lalu saya kepikiran, jangan-jangan saya senang jadi dosen? Nah, loh! Tapi saya tidak punya keinginan setinggi itu untuk belajar biologi lagi atau apapun itu, lalu menjadi dosen (atau mungkin belum).

Ketika kegalauan macam masa depan itu muncul di pikiran saya, biasanya yang saya tekankan dalam otak saya adalah setiap orang pasti berjuang keras untuk mencapai mimpinya. Saya yakin bahwa tidak ada orang yang mendapatkan mimpinya dengan mudah. Kalau dibaca cerita fotografer-fotografer terkenal, mereka biasanya sukses setelah berkarir selama 20 tahun. Nah, dua-puluh-tahun itu bukan waktu singkat. Pasti sudah bercucuran keringat, darah, doa, dan lain-lain. Saya hanya yakin rencana memang harus dibuat, walaupun tidak detail, tidak konkrit. Paling tidak, punya dan kerjakan. Masa depan calon lulusan S1 macam saya ini pastilah diliputi kegalauan mau belajar apalagi di masa depan. Nah, itu juga sering jadi pertanyaan ketika mendekati kelulusan.

Menurut saya, ketika kita ingin belajar sesuatu, janganlah pikirkan apa yang nantinya diperoleh dari ilmu tersebut. Misalnya, belajar public speaking, janganlah ragu karena memperkirakan bahwa di masa depan nanti kita nggak mau jadi caleg atau jendral lapangan apapun. Kalau kita tertarik untuk belajar sesuatu, yang harus diyakini adalah kita mau mempelajarinya secara total tanpa banyak memikirkan timbal balik materi yang akan kita terima. Belajarlah secara total, karena kita tidak akan pernah tahu apa gunanya di masa depan. Jadi kalau mau berharap, berharaplah ilmu random yang kita pelajari itu akan berguna di masa depan, entah untuk kita sendiri atau untuk orang banyak.

Salah satu contoh belajar adalah ketika Oom Steve Jobs dulu belajar kaligrafi. Dia bahkan tidak tahu apa gunanya kaligrafi di masa depan bagi dia, tetapi yang terjadi adalah ilmu kaligrafi menjadi salah satu fondasi penting yang membuat Apple menciptakan teknologi variasi font pada alat pengolah katanya.

Jadi saat ini, saya tidak ingin banyak ambil pusing dalam merencanakan masa depan saya. Paling tidak saya harus mencari apa yang ingin saya pelajari lagi, sambil belajar menjadi manusia dewasa yang notabene lepas dari ketergantungan pada orang tua. Saya masih ingin belajar.

*bentos = makhluk hidup perairan yang hidup pada bagian dasar

Comments

  1. Bener broo, ane juga gak mau ambil pusing mengenai masa depan , yang penting kita jalani semua dengan cara yang baik. Ane yakin pasti masa depan yang kita impikan datang dengan sendirinya.

    ReplyDelete
  2. my wildest dream is working in National Geographic, Nu. Pekerjaan apapun akan gw tinggalkan kalo ada sebuah kesempatan utk itu. Sampe ketemu di masa depan, kalo gitu #tsaelah #SEDAP #BUNGKUS

    ReplyDelete
  3. 学习的一个例子是,当叔叔史蒂夫·乔布斯在学习书法。他甚至不知道什么是在今后的使用书法的他,但发生的事情是书法的科学成为这使得苹果创造了刀具技术的字处理器的字体变化的重要基础之一。tiki

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts