Jo(b)doh

Jodoh yang dimaksud dalam postingan ini adalah pekerjaan, waktu, dan kesempatan.

Membicarakan jodoh ini ternyata menimbulkan rasa penasaran yang tinggi di dunia ini, karena jodoh ini konon merupakan sebuah tubrukan antara kesempatan dengan usaha. Kesempatan yang muncul dengan berbagai macam pertanda atau isyarat, ditambah lagi adanya usaha keras untuk mewujudkan rencana dan keinginan.

Sekarang ini, saya yang sedang merencanakan masa depan, sedang berpikir mau kerja di mana. Mungkin memang saya orangnya banyak mau. Saya tidak ingin bekerja di tempat yang asal dapat, karena sejauh-jauhnya perbedaan antara pekerjaan dengan mimpi saya, paling tidak saya ingin bekerja tidak dipaksakan. Walaupun mungkin suatu saat saya harus sekali lagi mengerjakan sesuatu yang tidak saya sukai.

Beberapa hari yang lalu saya berbincang dengan ayah saya. Beliau berbagi cerita tentang bagaimana dia memilih pekerjaannya. Beliau memulai pencarian kerjanya dengan merumuskan tiga kriteria:
1. Bayaran yang mencukupi untuk membiayai sekolah adik-adik dan memenuhi kebutuhan hidup
2. Berbakti pada negara
3. Sesuai dengan bidang keilmuan yang telah dipelajari

Sedikit banyak saya setuju dengan 3 rumusan itu, akan tetapi keadaan ayah saya berbeda dengan saya. Saya diberikan kesempatan yang lebih luas untuk melakukan eksplorasi terhadap keinginan saya, kesempatan untuk mencari jodoh dalam bentuk pekerjaan.

Poin nomor 3 diralat oleh ayah saya seiring berjalannya waktu, menjadi sesuai dengan kompetensi diri. Saya lebih sepakat dengan itu, sayangnya ketika berhadapan dengan kompetensi diri, saya sendiri tidak bisa memberikan angka penilaian terhadap hal tersebut. Jadi kalau ditanya kompetensi diri saya apa? Saya sendiri tidak bisa menjawab. Kesannya seperti orang yang bingung ya, tetapi memang saya dalam titik bingung saat ini. Semoga hal ini wajar di masa-masa seperti ini.

Beberapa kali saya membuka situs lowongan kerja, bolak-balik scrolling atas-bawah, tetapi tidak menemukan sebuah ketertarikan yang besar. Lalu terpikir pada benak saya, apakah saya hanya terlalu manja? Tidak mau repot? Tidak mau susah?

Buka lowongan beasiswa pun begitu, saya berhenti pada titik dimana saya belum tahu mau belajar apa. Saya tidak ingin menjadikan sekolah S2 sebagai pelarian terhadap ketidakmampuan diri menentukan pilihan. Sekolah S2 saya harus murni dari keinginan saya untuk menimba ilmu dan mengamalkannya untuk orang lain.

Kalau di serial anime Honey and Clover, ada seorang tokoh bernama Takamoto yang berkelana keliling Jepang dengan sepeda dalam rangka pencarian jati dirinya. Berkaitan dengan itu, saya jadi teringat pendapat teman-teman saya yang mengalami masa exchange dari AFS Bina Antarbudaya. Umumnya mereka berkata bahwa mereka menemukan dirinya, keinginannya, impiannya, sehingga mereka dapat menata jalan mereka perlahan-lahan untuk mencapai tujuan. Exchange year mereka menjadi sebuah perjalanan untuk menemukan jati diri.

Ketika saya pergi internship AIESEC ke Cina, dalam 2 bulan saya melihat banyak cerita, melihat banyak perspektif, dan sedikit banyak berhasil berbicara dengan diri sendiri. Perjalanan saya di Cina adalah contoh traveling yang membawa saya perlahan-lahan menemukan jati diri. Sepertinya memang yang namanya traveling itu harus dilakukan lagi dan lagi, supaya diri ini terus mendapat cerita baru, terus memandang sekitar, dan terus berdialog dengan diri sendiri.

Hal yang paling sederhana untuk dilakukan saat ini adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya, membaca, berdialog dengan orang lain dan diri sendiri, dan kalau bisa sekalian berkelana. Semoga jawaban itu datang (dalam waktu singkat akan lebih baik).

Hidup ini seperti mengendarai sepeda roda dua, kita harus terus mengayuh agar tetap seimbang.

... tetap mengayuh.

Comments

Popular Posts