Tidak. Masih. Tidak. Belum.

Sambil memandang secarik kertas bertuliskan sebuah pesan singkat, lelaki itu menikmati desiran angin yang tidak henti-henti membelai kulit tubuhnya. Sudah sekitar satu jam hujan turun. Mengawali sebuah hari yang tidak terprediksi, seperti hari-hari yang lain.

Masihkah kamu di sini?

Pemikiran sederhana melayang-layang sejak tadi. Kalaukah diri ini berjalan sekarang dan bisa bertemu, akankah itu mengubah keadaan. Sekali lagi kepala ini mulai mengisi hati dengan harapan. Harus dicegah.

Dibacanya sekali lagi tulisan di kertas itu. Tidak mengubah apapun. Tetaplah diri ini gundah gulana. Mengubah sebuah hari rasanya menjadi semakin terprediksi. Hari ini akan berakhir gamang dan gelap. Hari ini akan mulai sama dengan hari-hari yang sebelumnya. Eh? Hari-hari sebelumnya?

Lalu tiba-tiba seorang kawan menyapa dari kejauhan. Melambaikan tangan. Mendongaklah dagu sang lelaki. Menjauhkan dirinya dari kertas yang dirinya pegang sejak tadi. Hampir diremas, tapi dirinya tahu mungkin itu jejak terakhir dari apa yang dia kasihi di dunia ini.

Lalu ingin dirinya beranjak pergi. Melangkah menuju sang kawan itu. Melupakan hari yang akan terprediksi ini. Akan tetapi rupanya untuk dirinya hari terprediksi itulah yang dia nikmati.

Dia melambaikan tangan, tersenyum. Dan melanjutkan lamunannya.

Mungkin kamu masih di sini.

...

Tidak. Masih. Tidak. Belum.


Comments

Popular Posts