Tepukan Sebatang Rokok

"Eaaaa, bengong dia."

"Heh! John.", Lelaki berkemeja putih dengan kancing paling atas terbuka ini kaget mendapat tepukan di punggung dari seorang temannya.

"Ngapain di sini? Acaranya kan masih rame tuh di dalam. Orang-orang masih pada makan."

"Yaaa."

"Kenapa lo?", tanya sang sahabat sambil membakar sebatang rokok.

"Ini hasil pilihan gue loh."

"Apanya?"

"Eh, asepnya jangan ke gue lah. Ke kiri tuh ke kiri.", ucapnya sambil mengibas-ngibaskan asap yang menghantui ujung hidungnya.

"Sebelah kiri gue ibu-ibu. Kagak enaklah. Kasihan suaminya kalau nanti nyium bau asap dari dia. Kalau lo kan nggak ada yang ngambek dengan bau asep."

"Kampret. Ke atas buangnya ke atas."

Suasana sekitar mereka ramai. Orang datang dan pergi, mengenakan baju rapi. Beberapa menggunakan jas, perempuannya menggunakan kebaya. Ada juga teman-teman yang tampil nyeleneh dan datang dengan celana jeans robek-robek dan sepatu kets biasa.

"Udah 5 tahun lebih. Gimana perasaan lo melihat jawaban akhirnya?"

"Siapa yang sangka akhirnya dia nikah sama orang kayak gitu. Eh, ini gue bukan mendiskreditkan ya. Maksud gue, gue nggak nyangka aja akhirnya dia nikah dengan orang yang... yah, nggak jauh-jauhlah gue tahu."

John, sang lelaki perokok, menghisap panjang rokoknya sambil menganggukan kepala. Seolah mencoba mencerna dan mengingat segala kejadian dari 5 tahun ke belakang. Awal mula dari semuanya.

"Mau rokok Ray?"

Raya, si lelaki berkemaja putih, mengangguk. Mengambil sebatang rokok kretek dari John. Sambil diputarnya rokok itu di jarinya, dia berpikir.

"Kalau dulu itu semua nggak terjadi gimana ya John? Menurut lo, gue sama dia bakal hidup bahagia?"

"Siapa yang tahu. Lo nggak bahagia sekarang?"

"Seneng kok."

"Terus? Apa?"

Raya menyalakan rokok di tangannya. Sambil menikmati hisapan pertamanya, dia memejamkan mata. Mungkin semua memang sudah suratan ya. Jalan yang dulu dipilih itu adalah suratan takdir. Tapi itu pun takdir yang ditentukan diri sendiri. Ah, orang bilang Tuhan yang menentukan takdir. Apa jangan-jangan waktu itu Tuhan memerkosa logika dan intuisi gue biar gue menentukan takdir?

"Lo lihat gue Ray. Hidup gue siapa sih yang tahu. Dulu gue anak paling nggak punya rencana sedunia. Sekarang gue kerja di tempat yang tugasnya bikin rencana. Planning, planning, planning. Sianjis! Kerjaan gue bikin planning. Hidup gue aja nggak pernah gue planning. Makan tuh planning!"

"Karma tuh lo. Tiap hari lo selalu bilang ke gue kalau hidup lo liat aja nanti. Lo percaya kaki lo yang akan menentukan jalan lo. Sekarang baru kaki lo ngangkat setengah, lo disuruh balik lagi ke posisi berdiri. Disuruh ngeliat di depan ada apaan."

"Tai! Hahahaha. Tapi gue jadi gampang khawatir anaknya sekarang. Kalau ngerasa mulai nggak sesuai rencana, gue bakal panik dan mendadak kritis."

"Makanya gaji lo tinggi nyeeet! Analisa lo terhadap keadaan yang nggak sesuai itu yang tinggi."

"..."

"Coba lo dulu udah bisa menganalisa keadaan gue ya. Gue tanya ke lo deh hasil rencana gila ini apa?"

"Ray, menurut lo, lo akan puas dengan hidup yang terprediksi?"

"Nggak sih."

"Sama kayak gue. Gue mungkin nggak akan menikmati hidup gue sebagai pembuat rencana, kalau gue nggak menikmati gilanya naik-turun lintasan roller coaster yang kayaknya baru dipasang 5 detik sebelum gw naik."

Raya memandang lagi pintu masuk itu. Bertaburan hiasan bunga yang dominan warna merah. Tamu datang dan pergi. Umumnya mereka tertawa dan tersenyum. Tampaknya pesta ini lebih dari sekedar upaya penghormatan dan pemberian doa. Ini adalah ajang mengais cerita yang terlewatkan. Terlewatkan karena hidup sudah membuat mereka semua menyebrangi undakan yang berbeda-beda.

"Harus gue lepas nih John?"

"Apanya?"

"Harapan."

"Harapan? Masih ngarep daridulu?"

"Bukan berharap ke dia, ke Tuhan. Harapan jawaban gue akan segera datang."

"Orang kayak lo akan mati kalau nggak berharap ke Tuhan. Nggak ada salahnya juga. Siapa yang bilang Tuhan ada atau nggak ada. Percayalah apa yang lo percaya itu benar. Jalanin."

"..."

"Masih inget dia berharap apa ke lo dulu?"

"..."

"Dia berharap Tuhan ngasih lo kebahagiaan. Lo dikasih kan? Lo bahagia."

"Gue bahagia."

Keduanya terdiam sejenak. Memandang langit yang mulai bertransisi menjadi jingga. Langit berkanopi awan dengan susunan abstrak membulat tak hingga. Angin mulai riuh, menyoraki datangnya malam yang hari ini sedikit terlambat. Hari terasa agak panjang. Mereka duduk dan memandang pintu masuk dengan lekat dan khidmat.

"Udahlah Ray, yang punya mobil ini mau pulang. Nggak bisa kita duduk  lama-lama di kab mobil ini."

"Dia bahagia kan John?"

"Dia bahagia."

Comments

Post a Comment

Popular Posts