Tatapan dari Bilik ATM

Sore itu selayaknya orang yang membutuhkan uang dari dalam ATM, saya masuk ke dalam sebuah bilik di daerah Kemang. Seperti biasa, Kemang ramai dengan arus pulang kantor manusia-manusia pinggir Jakarta yang sudah menggunakan waktunya untuk katakanlah mencari nafkah.

Sambil menunggu antrean ATM, saya menatap keluar bilik. Pemandangan yang saya lihat adalah kemacetan panjang kendaraan bermotor baik beroda empat atau pun beroda dua. Saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin hal seperti ini, sebuah kemacetan, menjadi sesuatu yang biasa. Bagaimana mungkin, di era modern dengan jumlah manusia terpelajar seperti ini, manusia menjadi begitu terbiasa dengan sesuatu yang merupakan kesalahan sebuah sistem.

Saya bertanya-tanya lagi dalam hati, pernahkah bapak presiden, bapak menteri, bapak walikota, atau pun bapak-bapak pejabat negara kita, merasakan suasana ini. Merasakan berada di bilik ATM, mengantre untuk mengambil uang sambil menatap kemacetan panjang. Menatap bagaimana masyarakat Indonesia menggunakan kendaraan dan energi yang kita miliki secara tidak efisien. Banyak teori yang mengatakan bahwa kemacetan adalah sumber keborosan terbesar pada konsumsi BBM. Saya kira itu benar, kita tidak efisien.

Wahai para pembuat sistem dan kebijakan masihkah kalian menjadi bagian-bagian dari masyarakat kalian yang sederhananya seperti saya ini? Menjadi bagian dari masyarakat yang menatap sebuah kebiasaan yang tidak sesuai. 

Mungkinkah memang ini yang kalian rancang sejak dulu, atau justru karena kalian juga manusia, saya tidak berhak menyatakan kalian bersalah, karena sesungguhnya kalian juga tidak memperkirakan hal ini bisa terjadi. 

Mungkin ini salah kita semua. Tetapi bagaimanapun juga, kami sebagai rakyat butuh arahan, arahan sederhana, tunjukan bahwa kami bodoh dan salah, berikan kami fakta, asalkan ini demi kesejahteraan bersama, rasanya kami rela mengalah untuk sesama rakyat. Cara lain yang sederhana adalah berilah kami contoh bagaimana menjadi rakyat yang baik, karena saat ini era diktatorisme tampaknya sudah menjadi hal yang dikecam, jadi itu bukan lagi jalan yang dapat diterima banyak orang. Kami butuh pemimpin yang secara sederhana memberi kami contoh bagaimana menjalani hidup yang baik, itu saja.


Comments

  1. saya juga sebagai rakyat butuh arahan.
    arahan cinta #eaaaa

    "sudah terbiasa dengan sistem"
    very agreed

    ReplyDelete
  2. Arahan cinta maneh lihat aja ke... eternit. Ada kayaknya. Hahaha.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts