Halte

BRRRRMMM...

Teeeet! Teeet! Kiri ya kiri! AYO MAS NAIK! Ayo ini berangkat sekaraaang!

Seorang pria memandang hiruk pikuk ibukota dari sebuah halte. Sudah berapa jam dirinya duduk di sana? Satu? Dua?

Daritadi dirinya menatap orang-orang naik dan turun. Berlari dan berjalan. Bahkan ada yang melompat hingga terjatuh. Kasihan, rupanya rok span memang bukan sahabat yang baik untuk aktivitas secepat ini. Lebih baik pakai celana panjang, atau jeans sekalian, supaya bisa ngangkang, terucap dalam benaknya.

Lalu tiba-tiba ada seorang wanita duduk di sebelahnya. Mengenakan celana panjang dan kaos. Sederhana. Ransel menempel di punggungnya. Sambil mengunyah permen karet, dia mengeluarkan ponsel. Bukan untuk menulis pesan singkat, tetapi untuk mengganti lagu yang sedang dimainkan dalam ponsel tersebut.

Lelaki yang sejak tadi bengong menatap pergantian pintu bus kota pun terusik kedamaiannya. Bukan karena panca inderanya yang memberi isyarat, tetapi karena intuisinya berkata sosok di sebelah kanannya itu punya sinyal yang serupa, frekuensi yang hitungannya mirip.

Baru saja dia hendak membuka mulutnya untuk menyapa, tiba-tiba sang wanita melepas earphone sebelah kirinya dan menepuk pundak kanan si lelaki.

"Apa kabar hidup hari ini?"

Sang lelaki mulutnya setengah terbuka. Gagap. Bingung.

"Masih sekaget itu dengan kejutan yang ada di dunia? Nggak pernah ya disapa perempuan random di halte?"

"Bukan. Eh, anu..."

"Ini baru disapa perempuan kayak saya loh. Belum juga disapa malaikat maut. Bisa copot itu mata gara-gara melihat nyawa kamu lepas setengah. Hahaha"

Kemudian sang lelaki ini mencoba menganalisa siapakah wanita ini sebenarnya. Dia bukanlah orang yang pernah dia temui. Setidaknya di kehidupan ini, belum.

"Saya lihat Mas udah duduk satu jam di sini. Sempat saya kira situ copet. Tapi dari gelagatnya lebih mirip orang kecopetan. Apa yang hilang Mas? Uang?"

"Bukan." Jawab sang lelaki sambil menunduk.

"Terus apa? Istri? Anak? Pacar? Atau lebih parah lagi, hidup?"

"Aaah, eh.. anu..."

"Pulang. Masih punya rumah kan? Tahu rumah itu apa? Tempat dimana Mas tahu bahwa menyandarkan punggung di situ adalah suatu kelegaan. Ikhlas. Nggak ada tarif yang diambil dan nggak peduli debu yang dibawah punggung akan berakibat apa pada paru-paru Mas. Tempat ketika bau dan kita berusaha untuk membuatnya harum. Ketika kotor, kita jengah, dan kita sapu."

Sang lelaki menutup matanya. Mencoba mengingat-ingat kenapa dia meletakan dirinya di halte itu. Itu adalah sore yang biasa. Pulang kerja dan berharap bisa pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Tidak ada yang berbeda, lalu kenapa dia duduk di sini?

"Sekarang malah mikir dia. Hahaha. Sudah lebih dari 3 hari Mas kayak gini. Nggak semua orang mau menyapa orang yang mukanya kayak orang kecopetan. Pulang. Besok akan saya sapa lagi kalau Mas masih bengong sama seperti hari ini."

Lima menit berjalan, lelaki itu masih menatap ujung sepatunya.

***

"Masih di sini? Hari ini bajunya bagus."

Tangan yang sama, ke pundak yang sama. Menyapa hangat. Tapi kali ini wanita itu mengenakan jaket hoodie berwarna biru, masih dengan celana jeans di bagian bawahnya.

"Ah, Iya, kebetulan saya ada perlu penting tadi.", balas sang lelaki gugup.

"Baiklah. Sekali lagi, tidak semua orang mau menyapa orang dengan wajah mirip orang kecopetan. Kali ini saya tidak melihat kamu kecopetan. Kalau begitu saya tinggal lima menit lebih cepat. Sampai bertemu."

Wanita itu pergi lagi, mengendarai bus yang sama setiap hari. Tetapi lama kelamaan, kunjungannya semakin singkat. Dia selalu berkata lima menit lebih cepat, lima menit lebih cepat, dan lima menit lebih cepat.

Sampai akhirnya bahkan lima menit pun sudah habis. Lelaki itu menunggu sapaan ke pundak kanannya. Menunggu untuk tahu baju apa yang dikenakan wanita itu hari ini. Menunggu.

Rupanya itu hari terakhir sang lelaki pergi ke halte bus tersebut. Dia tidak lagi meluangkan waktu untuk duduk di halte, memandang interaksi singkat antar manusia yang mungkin terjadi. Sesederhana melihat daun yang terbawa angin, atau debu yang membuat reflek otot kelopak mata untuk bereaksi dan menarik tirai mata untuk menutup. Atau seunik-uniknya hobi manusia, menghirup paduan asap knalpot hitam bercampur bersama debu-debu dari aspal jalan.

Pada akhirnya lelaki itu menemukan rumah. Merindukan setiap saat di mana punggungnya bertemu hamparan kasur. Menekan tombol remote televisi untuk memilih stasiun TV yang digemari, sesederhana itu.

Pada akhirnya wanita itu pun hanya berlalu menjadi pengingat. Walaupun dirindu. Dikenang.

Suatu saat semua orang akan mengingatkan dan akan pulang. Hidup mungkin hanya sekelebat pembicaraan di bawah atap halte sambil melihat hiruk pikuk antara kenek bus dengan penumpangnya. Pada akhirnya, setiap orang akan mengejar rumahnya.

Comments

Popular Posts