Titis Andari: Hari Ini Untuk Kakak-kakak


Happy International Volunteers Day!

****
“Sukarelawan” mungkin adalah titel profesi yang paling berat dan yang paling sulit dicapai yang ada di luar sana. Sukarelawan adalah mereka yang melaksanakan “kerja” dengan makna yang sesungguh-sungguhnya, dengan suka dan rela. Berapa banyak orang yang cukup beruntung pernah mengalaminya? Saya sering mengklaim diri sebagai sukarelawan, tapi siapa yang tahu apa saya memang qualified untuk menyandang titel tersebut.

Saat ini, sudah menginjak sekitar tahun ketujuh saya menjadi (atau mungkin tepatnya berusaha menjadi) sukarelawan di Yayasan Bina Antarbudaya. Sudah banyak yang bertanya, apa yang mendorong saya untuk tetap berada di tempat yang sama, berkecimpung di kegiatan-kegiatan yang sama hampir setiap tahunnya.

Jawaban saya rasanya tidak pernah konsisten. Sekenanya saja. Terkadang saya jawab, ini semua sekadar bentuk balas budi saya, setelah saya mendapat begitu banyak ketika saya diberangkatkan dalam program pertukaran pelajar delapan tahun silam. Di lain waktu saya jawab, karena saya percaya visinya, yang berkaitan erat dengan pemahaman antarbudaya dan aksi konkret generasi muda (atau generasi yang seyogyanya akan tetap muda dikarenakan semangatnya). Pernah pula saya jawab, yah, menjadi sukarelawan di tempat ini adalah satu-satunya hal yang saya bisa. Dengan kapasitas dan kapabilitas saya, mungkin hanya komunitas ini yang bersedia menerima saya. Atau mungkin jadi saya tetap bertahan bergelut di komunitas ini karena di situlah saya menemukan teman, bukan yang satu mimpi, bukan yang salng melengkapi, bukan yang sehobi, tapi justru yang tanpa perlu alasan mengapa. Barangkali pula saya bangga dan terus menjadi sukarelawan di situ karenavolunteering di komunitas ini membuat saya merasa lebih baik, merasa telah berbuat dan tidak tinggal diam, merasa telah melakukan sesuatu untuk hal-hal yang besar, merasa telah menjadi bagian dari solusi yang epik.

Banyak alasannya; saya pun kurang tahu yang mana yang paling akurat. Semua alasan toh terdengar grand dan romantis, jadi biasanya si penanya akan mengangguk mahfum, merasa terjawab. Padahal kalau saya pikir-pikir, tidak ada ada yang romantis ataupun epik dari pekerjaan para sukarelawan di komunitas ini. Kerja kami adalah memastikan pensil telah diraut sebelum ujian SLEP Test dimulai, mengatur kursi di ruangan agar semua partisipan bisa melihat dan mendengar kakak fasilitator saat sesi berlangsung, mendistribusikan teh-kopi-kudapan dalam waktu 5 menit (agar sempat dinikmati sambil bersantai untuk setidaknya 10 menit dari sisa waktu istirahat pergantian sesi) kepada kurang lebih 100 peserta tanpa mereka harus mengantri terlalu panjang, menunggu di Stasiun Gambir atau Senen di jam-jam sibuk atau justru jam tidak normal demi memberi laporan bahwa para peserta telah tiba dengan selamat di Jakarta atau telah dalam perjalanan pulang menuju rumahnya di penjuru Indonesia yang bahkan kita belum pernah datangi, memeriksa 2.000-an lembar jawaban pilihan ganda yang kunci jawabannya bau obat nyamuk bakar, melayani tiap pertanyaan di telepon atau email, menjaga dispenserpinjaman tetap dalam posisi berdiri ketika diangkut dalam mobil, menghitung jumlah lembar evaluasi, memasukkan ribuan data, mengatur parkir, belanja alat tulis ke Pasar Mayestik atau Jatinegara, mencari kabel yang tepat, menimbang koper satu per satu agar tidak kena denda saat peserta naik pesawat. Saya rasa pekerjaan kami yang paling bisa kedengaran elegan hanya ada dua: mendengar, yang kami pun masih dalam taraf belajar karena luar biasa susahnya, dan berbagi, meski hanya waktu dan kata-kata.

Maka saya jadi sering tersenyum geli sendiri. Alasan-alasan yang saya kemukakan bila ditanyai mengapa saya menjadi sukarelawan di komunitas ini, yang indahnya berbunga-bunga tadi, rasanya malah terdengar seperti petasan melempem setelah saya ingat-ingat pekerjaan macam apa yang kami para sukarelawan ini lakukan.

Hanya satu hal yang saya tahu pasti, kebenaran yang saya yakin tidak dilebih-lebihkan: dengan menjadi sukarelawan dalam komunitas ini, kami belajar tentang KERJA. Kerja dalam artian yang sebenar-benarnya, dengan berusaha tidak melewatkan detail kecil yang paling sepele, karena detail tersebut bagi kami turut membentuk kelugasan sukses. Kerja dengan rasa bangga menggebu atas karya, pun jika karya di sini berarti barisan rapi gelas-gelas berisi susu di malam buta. Kerja dengan keberanian yang tak kunjung surut untuk menerjang masalah yang sebenarnya jelas akan mempersulit diri, seperti mewujudkan pertunjukkan megah dalam empat malam, atau melekatkan kabel infocus ke lantai denganmasking tape agar ruangan terlihat sempurna. Kerja dengan gempuran tawa dan hantaman haru air mata, yang pada akhirnya menjadikan “suka” dan “rela” pada titel yang kami sandang terasa benar adanya.


- Ditulis untuk kakak-kakak sukarelawan di Yayasan Bina Antarbudaya, sekaligus sebagai penenang rasa syukur yang kian membuncah untuk telah tumbuh dalam komunitas kerja yang luar biasa.

From Titis Andari, one of the great AFS Bina Antarbudaya volunteer. 

Comments

Popular Posts