Pemikiran: Kenapa dengan Tahun Baru?

Sedikit banyak tadi malam saya membaca berita-berita seputar perayaan tahun baru di Indonesia. Khususnya Jakarta dan Jawa Barat. Mungkin ini sedikit pemikiran sederhana dari saya mengenai bagaimana cara orang di Jakarta dan Jawa Barat meryakan tahun baru. Saya sering bertanya-tanya, kenapa banyak sekali orang yang ingin pergi ke Puncak untuk merayakan tahun baru, atau ke tempat lain yang umumnya didatangi turis. 

Mungkin sesederhana bahwa orang-orang tidak ingin menghabiskan malam pergantian tahun seorang diri. Mereka memanfaatkan momen ini untuk berkumpul dan temu kangen dengan kerabat. Tetapi sekali lagi pertanyaannya, kenapa harus ke tempat tertentu seperti puncak?

Bagi orang Jakarta yang tinggal di pesisir pantai, dengan segala kehirukpikukan kehidupan, mungkin memang Puncak menjadi daerah yang sesuai untuk menyegarkan diri sejenak dari kepenatan aktivitas hidup sehari-hari yang padat dan mungkin mulai menjemukan. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, seiring meningkatnya jumlah kendaraan pribadi di Jakarta dan sekitarnya, masih sesuaikah perjalanan menuju Puncak itu bila dibandingkan dengan kenyamanan yang akan diperoleh?

Tadi malam saya membaca sebuah berita yang membuat saya sangat bertanya-tanya, kurang lebih begini judulnya "Karcis Tol Cibubur Habis, Kemacetan Panjang Melanda Tol Jagorawi", lalu ada lagi judul berita "Bandung - Sumedang Macet Total Menuju Malam Pergantian Tahun Baru". Pemikiran yang langsung terlintas di kepala saya adalah "Memangnya berapa banyak orang yang ke sana?", "Mau apa ke sana?", "Memangnya harus ke sana?".

Nah, kalau dipikirkan kembali, malam pergantian Tahun Baru ini jelas akan memberikan berbagai macam efek nantinya. Sederhananya begini, kita akan merayakan malam pergantian tahun baru dengan ngobrol, makan, dan minum, atau mungkin sambil menyaksikan film bersama di pemutar DVD. Bayangkan serentak semua orang melakukan aktivitas tersebut kemudian berakhir dengan sebuah pemandangan yang seringkali terlihat dari berakhirnya perayaan besar di Indonesia, tumpukan sampah. Kemampuan ruang penampungan sampah dengan kemampuan masyarakat memproduksi sampah sangatlah tidak seimbang. Ditambah lagi banyaknya masyarakat yang kurang sadar akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya, katakanlah, malas.

Lalu kembali lagi dengan kebiasaan kita sedikit merantau untuk merayakan sesuatu. Kendaraan bermotor jelas butuh apa? BENSIN! (Jawab anak-anak ketika solat Jumat). Nah, bisa dibayangkan berapa banyak bensin yang harus diisi serentak ke dalam tanki kendaraan bermotor. Lalu di jalan tol, jelas sekali yang bisa masuk ke dalam sana hanyalah kendaraan bermoor beroda empat. Bisa dikira-kira mungkin berapa besar konsumsi bensin yang tidak perlu terjadi dari mulai berangkat sampai untuk ngantre tol. Belum lagi ditambah kemacetan sampai Puncak. Lalu ditambah lagi kalau diputar balik karena Puncak sudah ditutup.

Hal yang sama berlaku pada kemacetan-kemacetan lain menuju malam pergantian tahun baru yang saya kira tidak perlu dilakukan. Mencari tempat berkumpul di kota masing-masing, membeli minuman dan makanan lalu bertanggung jawab atas sampahnya sendiri dirasa sudah cukup.

***

Kiranya itulah sepotong opini singkat dari fenomena pergantian tahun baru 2011 ke 2012. Semoga bermanfaat dan bisa digunakan untuk topik berdiskusi singkat. Selamat tahun baru 2012 kawan-kawan! Semoga tahun depan menjadi sebuah tahun yang luar biasa sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Comments

  1. Semua orang merasa butuh suatu momen untuk dirayakan, semacam refugia sejenak dari kepenatan.

    Apapun harganya, tak akan segan dibayar, karena memang itulah yang dicari. Atau dicari-cari.

    *ini meracau sambil nonton 1st japan tour snsd.tak perlu dianggap serius*

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts