Mimpi Semalam (?)

Mimpi adalah bunga tidur. Seringkali berkisah tentang berbagai hal yang kita tidak prediksi sebelumnya. Dari hal yang kita inginkan, sampai yang kita hindari. Secara ilmiah mimpi itu adalah ... (Nggak bakal saya bahas di sini, googling aja sendiri).

***

Jadi ini sedikit kisah soal mimpi, berhubung pagi ini saya terbangun dari mimpi yang luar biasa aneh. Pagi ini saya bermimpi cukup aneh. Sebuah setting latar yang tidak diketahui, pemandangan yang asing, ada pohon-pohon di sekitar saya dan juga beberap agedung yang tampaknya berbentuk gedung aula. Lalu ada keramaian di sana-sini, wajah-wajah yang tidak saya kenal.

Tiba-tiba seolah ada sebuah narasi, saya mengetahui bahwa beberapa hari lagi atau mungkin dua hari lagi, saya akan melaksanakan sebuah pernikahan. Rasanya di mimpi itu, saya masih kuliah di tingkat yang sama dengan sekarang, masih mengerjakan tugas akhir dan belum lulus. Lalu kenapa saya menikah? Dengan siapa? Kapan?

Kemudian latar belakang berubah lagi, seolah saya sedang berpikir keras dan meyakinkan diri akan keinginan saya menikah? Ini kenapa sih pagi-pagi dikasih mimpi nikah? Masih jauh... jauh... jauh....

Lalu tiba-tiba di kepala saya melintas pemikiran yang selama ini berlangsung. Teringat rencana lima tahun ke depan, sepuluh tahun ke depan, atau ya sekedar rencana sederhana yang pasti-pastinya sajalah. Hal-hal tersebut membuat saya menyadari dan mengambil sikap bahwa pernikahan ini harus dibatalkan.

Tentu saja seperti di dunia nyata, otak saya berpikir keras memikirkan segala kemungkinan yang ada. Dari mulai biaya, merusak nama baik, mengecewakan keluarga besar dari pihak mempelai yang berlawanan, hingga rumor-rumor apa saja yang akan muncul di sekitar saya setelah keputusan ini dijalankan.

Saya sampai akhirnya berbicara pada orang tua saya, nenek saya, lalu saudara-saudara yang lain. Mereka meminta saya memberitahukan secara langsung mengenai keinginan saya untuk membatalkan permintaan ini. Sekali lagi, wajah-wajah itu tidak saya ketahui, sedikit banyak menyerupai wajah yang dikenal, tetapi sifatnya kabur.

Ada beberapa wajah teman-teman yang saat menulis ini sudah lupa juga dengan penampakannya di dalam mimpi. Kalau tidak salah sih ada, tetap saja masih terasa samar-samar bahwa itu adalah wajah teman saya. Tetapi sebagaimana sebuah mimpi, sulit untuk mengingat secara detail.

Akhirnya dengan menguatkan jiwa dan siap menerima segala resiko yang akan dihadapi di depannya, saya secara resmi meminta untuk melakukan pembatalan pernikahan. Saat itu tidak ada calon mempelai wanitanya. Jadi sampai sekarang, saya tidak tahu siapa sebenarnya wanita yang akan saya nikahi di dalam mimpi saya itu. Semua orang yang mendengar pernyataan saya tercengang, kaget dengan keputusan ekstrem yang saya ambil. Muncul banyak bisik-bisik di sekitar saya, entah apa yang mereka bicarakan. Tetapi mata saya tertuju hanya pada satu orang, orang tua calon mempelai wanita.

Pada akhirnya, dengan segala alasan yang saya berikan, mereka bisa menerima alasan pembatalan pernikahan tersebut. Walaupun dengan berat hati, walaupun dengan penuh pertanyaan di dalam kepala mereka. Intinya mereka benar-benar tidak paham dengan keputusan yang saya ambil. 

Tetapi sebagaimana azas keadilan, mereka meminta ganti rugi. Banyak keluarga yang sudah datang, banyak undangan sudah disebar. Berita akan sampai kemana-mana. Mereka meminta saya untuk membayar ganti rugi.

Alam mimpi ini secara sadar dan tidak sadar, tersambung pemikirannya ke dalam pemikiran nyata. Saya sadar diri ini tidak punya apapun, tidak ada harta yang secara orisinil memang milik saya, maka dari itu, saya bilang, hanya motor yang saya punya (bahkan itu atas nama ibu). Pernyataan saya disetujui oleh ayah. Dia bilang mereka boleh mengambil motor saya dan menggunakan uangnya sebagai ganti rugi. Kalau di dunia nyata, saya sudah bakal dicor dan dimasukan ke dalam fondasi tiang monorail yang nggak jadi-jadi. Intinya saya dikubur tanpa manfaat.

Alhasil, semua orang menerima keputusan tersebut sambil bertanya-tanya. Saya sendiri masih bertanya-tanya kenapa di dalam mimpi ini saya bisa mengambil putusan untuk menikah? Sama siapa pula?

Saya melangkah gontai ke dalam sebuah ruangan. Lega. Tetapi saya sadar di dalam ruangan itu semua orang menatap saya. Mempertanyakan apa yang saya lakukan.

***

Tidak lama adik saya membangunkan saya sambil memberikan handphone yang berbunyi akibat adanya panggilan. Kemudian saya terbangun dan mimpi itu membekas dengan jelas di dalam kepala saya.

Sungguh mimpi yang aneh. Terakhir saya mengingat mimpi adalah ketika saya mimpi super bahagia dengan partner Asmi**ndah. Itu mimpi super juara. Tidak pernah saya terbangun dari tidur dan tersenyum dengan bahagia seperti waktu itu. Hmmm, sebenarnya ada juga mimpi lain yang membuat saya sama tersenyumnya, tetapi ketika bangun saya tersenyum penuh haru.

Mimpi. Entah apa maksudnya dia diproyeksikan ketika kita tidur. Apakah untuk membuat kita menerawang kejadian-kejadian di sekitar kita, ataukah untuk memberi kita imajinasi lain tentang kehidupan.

Comments

Popular Posts