Hampir Menjadi Jacob Black

Sekali lagi, sebuah tindakan yang tidak dapat diprediksi selalu menghampiri kita. Hari ini, hari ini saya mengalaminya (lagi).

Pagi hari dimulai dengan sederhana, bangun tidur, meregangkan otot, minum susu dan teh, lalu memeriksa e-mail dan beberapa akun sosial sambil membaca berita. Kegiatan ini diteruskan dengan pergi ke kampus untuk mengumpulkan CD UAS Teknik Celup Ikat di Tata Usaha Kriya.

Setelah menunggu hari ini Yogas dan Ata makan di warung ayam kol goreng di belakang kampus, berangkatlah saya ke TU (Tata Usaha) Kriya untuk mengumpulkan CD berisi foto saya mengenakan karya kaos tie dye saya yang bercorak biru, abu-abu, dan putih. Tanpa beban dan dengan tertawa, kami berjalan menuju TU Kriya. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 11.15.

Setelah sampai di TU Kriya, saya dengan bangga menyerahkan CD YANG TELAH DIBERI TEMPELAN STIKER BERGAMBAR WAJAH SAYA. Sekarang saya mengerti inilah rasanya menjadi artis yang melihat CD musiknya terjual sebagai bajakan. Ya, saya merasa ternoda. Kelihatan tidak elit dan BERUPA STIKER. Terima kasih Yogaswara, kelak akan dibalas oleh Tuhan. Selamat MENUNGGU lebih lama lagi.

CD kompilasi adegan syur dengan baju tie dye

Kemudian saat saya menyerahkan CD UAS tersebut, bapak penjaga TU Kriya bertanya pada saya, "Mana karyanya?"

Saya bengong, "Karya saya?"

"Iya, karya kamu. Tuh dikumpulkan kayak yang lainnya.", Sambil dirinya menunjuk tumpukan hasil karya UAS yang berbagai macam, mulai dari tas, korden, selimut, sarung, bantal, dll. Lah, karya saya kan kaos... dan... sedang dipakai... SEKARANG.

Kenapa ya Tuhan, kenapa saya mengenakan kaos tie dye hasil UAS ini sekarang. Alasannya sederhana, di lembar soal UAS tidak dicantumkan "harus mengumpulkan hasil karya". Alhasil, saya pakailah kaos tie dye itu, lumayan mengurangi cucian.

"Pak, tapi saya pakai kaosnya sekarang." Ujar saya dengan wajah memelas sambil menunjuk dada.

"Yasudah, kamu pulang saja dulu, nanti balik lagi." Jawab si bapak. Ya, kan malas pak kalau harus pulang dulu. Kalau pulang lebih baik saya diam di sana dan menimbun lemak sambil baca buku.

Saya adalah tergolong anak yang percaya diri, oleh karena itu...

"Eh, gini aja dek. Kamu pakai aja jaket itu." Usul si bapak, tiba-tiba.

Saya bengong, meja diam, kursi berderit, kipas berputar. Dalam hati saya, inilah waktunya saya menjadi mirip Adam Levine di video klip Moves Like Jagger. Inilah waktunya. Berbalut jaket lapangan, berjalan... keliling kampus, solat Jumat. I got to move like Jagger! I got to move like Jagger! Wiggle wiggle wiggle! #kebablasan

Kemudian saya berpikir keras, memikirkan segala kemungkinan dari mulai jaket ini terbuka dan menyajikan pemandangan yang akan menjadi rejeki di Jumat siang bagi berbagai kaum hawa atau mungkin kaum adam yang berminat, hingga kemungkinan ditangkap satpam karena dikira Doni , saudaranya Dona si orang gila kampus. Bisa jadi saya digelandang K3L karena menyebabkan berkurangnya kesehatan warga kampus, dari mulai mendadak sesak napas akibat timbunan kotoran di hidung, belekan akut, hingga melelehnya gedung-gedung dan mengganggu keselamatan akibat diri ini yang terlalu "hot"*.

Butuh 60 detik bagi saya untuk mengambil keputusan ini, akhirnya saya pergi ke bagian belakang TU Kriya dan... membuka baju saja. JENG JENG JENG! Fix, akhirnya saya merasakan pakai jaket saja tanpa kaos di dalamnya. Yak! Inilah dia Matiinu si manusia gatal-gatal-karena-pakai-jaket-tanpa-kaos.

Ketika saya akan mengumpulkan kaos dan CD (bergambar wajah saya), si bapak bertanya lagi, "Mana plastiknya? Nanti kececer loh."

Gusti Allah, kenapa tidak ada informasi sebelumnya bahwa ini kaos dan CD harus dipaketin dan dikasih gembok biar tidak kececer? Akhirnya setelah memohon tanpa solusi, berangkatlah saya, Ata, dan Yogas untuk mencari plastik pembungkus.

Untuk mencari plastik ini, saya (yang notabene hanya pakai jaket di bagian atas), melewati himpunan Teknik Lingkungan, Planologi, dan beberapa anak dari seni rupa. Saya hanya berdoa, Tuhan, semoga tidak terjadi penelanjangan di tengah keramaian ini, sudah tahun terakhir, biarkan saya lulus tanpa meninggalkan bekas pernah telanjang dada di depan Planologi, Teknik Lingkungan, Arsitektur, dan Seni Rupa. Setelah melalui ketidaknyamanan akibat gesekan bahan windproof di dalam jaket saya, berhasilah kami menemukan kantong kresek di warung dekat Seni Rupa. Kemudian kami kembali ke arah TU Kriya yang ternyata... sudah ditutup. Bapaknya pergi solat Jumat. Lalu saya nasibnya bagaimana?

Melangkah gontailah diri ini ke lab ekologi diiringi hinaan dan tawa Lalita beserta Yogas. Kemudian di sana untungnya Yogas menyimpan kaos Entomologist yang baru saja dia beli. Kalau tidak, resmilah masjid BATAN akan kedatangan Jacob (agak) Black telanjang dada solat Jumat.

Terima kasih UAS Teknik Celup Ikat, sebuah pengalaman berharga yang menyenangkan di akhir masa kuliah.

NB: Tugas itu berhasil dikumpulkan pada pukul 3 sore, sambil mengenakan sandal jepit pink menyala bertuliskan nama ITA.

*Iyuh! (menampar diri sendiri)

Comments

  1. NU. KENAPA. JAM 3 PAGI. GW MEMBACA HAL SEPERTI INI.

    ReplyDelete
  2. pictures or it didn't happen nu.

    ReplyDelete
  3. ONCOM LO SEMUA!! Sudahlah, suatu saat ada waktunya. Itu foto CDnya sudah gw sertakan.

    ReplyDelete
  4. Sebenernya bapak itu cuma pengen liat kamu telanjang dada kali nu... beri lah, amalan hari jumat. LOL.

    ReplyDelete
  5. ada fotonya? No Pic = Hoax Nu HAHAHAHAHA

    ReplyDelete
  6. kenapaaaaa? aku tak kuat menunggu lagiii :'(

    ReplyDelete
  7. GW MAUNYA FOTO DADA LO BERBALUT JAKET NU

    ReplyDelete
  8. WHY NU! WHY! DI SAAT GW LAGI NUNGGING2 DI PANTURA MANEH BUAT ACARA TELANJANG DI SR!

    ReplyDelete
  9. Terima kasih atas kekhawatiran kalian pada gw. Terima kasih.

    ReplyDelete
  10. this made my day. realllllly made my day. lain kali telanjang dada aja ya nuk :3

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts