Kenapa Tidak Kita Lebih Dulu?


Mumpung sedang panas-panasnya isi kepala dengan isu pembakaran loket penjualan tiket final SEA Games Indonesia vs Malaysia yang sudah tidak asing terjadi, saya ingin menuangkan sedikit pendapat. Mungkin memang benar pendapat ini mungkin dilihat dari satu perspektif, yaitu perspektif pengamat berita. Saya bukanlah orang yang berada di Senayan untuk mengantre dan sudah datang dari jam 7 pagi, tetapi ada satu hal yang menurut saya pantas dikritisi dari insiden pembakaran loket.

Ketika kita mengetahui bahwa loket ditutup dan tiket tidak lagi dijual, mungkin memang banyak hal yang melatarbelakangi penutupan loket secara dini, bisa saja banyak tiket yang dijual dengan jalan belakang, atau bahkan jumlahnya tidak sesuai dengan pernyataan resmi. Tetapi di sini kita kesampingkan kecurangan dan perilaku busuk yang dilakukan official dari SEA Games, kita kembali kepada sesuatu yang bisa kita kontrol, diri kita sendiri.

Seandainya kita tahu bahwa loket ditutup dan kita tidak mendapatkan tiket untuk pertandingan, memang kita pantas kesal dan marah. Apalagi bila kita mengetahui bahwa penutupan dini tersebut terjadi akibat adanya kecurangan. Tetapi tidak ada dari hal tersebut yang membenarkan kita untuk melakukan tindakan anarkis yang justru dapat menyebabkan kerugian lebih besar lagi. Sadarkah ketika kita melakukan kekerasan, berarti kita merusak investasi kita terhadap fasilitas umum? Sadarkah ketika kita membakar, mencoret-coret, dan sebagainya, kita menambah daftar hutang yang harus kita bayar dari pajak kita? Negara ini mengalami perkembangan yang lambat salah satunya adalah karena kita harus terus memperbaiki bukannya menambah jumlah sarana dan prasarana.

Tindakan anarkis yang dilakukan oleh masyarakat terhadap loket penjualan tiket adalah salah satu tanda kecil betapa masyarakat ini masih bodoh dan tidak berbudaya. Kebanggaan kita akan juara umum SEA Games tercoreng akibat hal sederhana seperti ini. Atlet kita berjuang mati-matian, menunjukkan sportifitas yang tinggi, tetapi masyarakat tidak mampu mengimbangi etos kerja yang sudah ditunjukkan oleh atlet kita. Kita harusnya belajar mengontrol diri sendiri, tunjukan bahwa masyarakat mampu mengatur emosi dan perilaku mereka, maka kita akan berhak menuntut pemerintah atas ketidakjelasan yang dilakukan oleh mereka.

Bila kita memang manusia berbudaya Indonesia yang (katanya) luhur, harusnya itu ditunjukkan setiap saat, baik ketika keadaan baik, atau pun ketika kita kesal dan marah. Hewan pantas mencakar bila mereka terganggu dan terancam, manusia diberi otak untuk bernegosiasi dan menunjukkan bahwa dirinya punya cara yang lebih terhormat dalam menghadapi masalah. Tumbuhlah wahai manusia Indonesia, kita masih primitif. Lebih primitif daripada pendahulu kita di era perjuangan kemerdekaan.

Comments

Popular Posts