Membaca Buku Sejarah

Sepanjang hidup kita, tidak pernah lepas dari hal bernama huruf di atas kertas. Entah berbentuk cetakan atau berbentuk tulisan tangan. Bahkan sampai sekarang ini adalah sesuatu yang mungkin membuat Saya masih ada dan berpikir. Saya tidak bisa lepas dari memahami apa yang Saya baca. Paling tidak, apa yang Saya sukai untuk dibaca.

Dulu orang tua seringkali mengatakan jangan terlalu banyak menonton televisi, jangan terlalu banyak bermain, atau jangan terlalu banyak tidur. Membacalah. Bahkan, 'membaca' adalah perintah pertama yang turun dari Allah (Tuhan orang Islam). Karena sadar tidak sadar, membaca adalah sebuah awal dalam mengetahui sesuatu yang terbatas dari apa yang bisa kita lihat. Sejauh perspektif hidup kita yang hanya kita sendiri yang mengalami.

Membaca selalu menjadi sebuah awal dari manusia disebut cerdas, karena manusia yang cerdas seringkali dianalogikan sebagai sosok makhluk yang mampu menjelaskan berbagai cita rasa, peristiwa, manfaat, atau singkatnya kesimpulan dari sebuah pengalaman.

Pengalaman itu luas, ada yang sekedar pengalaman bertemu seseorang, pengalaman terjatuh, melihat orang lain sedang mengalami suatu peristiwa, atau bahkan imajinasi (Ya, menurut Saya berimajinasi adalah sebuah pengalaman. Karena setiap orang tidak memiliki imajinasi yang sama secara detail).

Berbicara pengalaman, tidak luput dari sebuah kata 'Sejarah'. Sejarah atau dalam bahasa Inggris menjadi history, berarti masa lampau manusia. Sesuatu yang telah terjadi. Bisa terulang, tidak selalu sama. Sejarah ini sering juga menjadi kata-kata maut dari orang-orang yang telah makan asam garam. Mereka berkata, 'Belajarlah dari sejarah. Jangan lupakan sejarah.'

Saat ini beberapa pemuda pada zaman ini baru menyadari (mungkin) secara utuh betapa pentingnya mempelajari Sejarah. Sejarah membuat kita melompat ke waktu yang berbeda, walaupun tidak sepenuhnya kita bisa yakini benar, berbasis pada banyaknya manipulasi data dan peristiwa di dunia ini. Sejarah membawa Saya mengetahu mana yang sebaiknya lebih benar dilakukan, apa yang pernah dilakukan orang lain di masa lalu, mana yang perlu dicontoh, dan apa yang patut kita syukuri pernah terjadi.

Manusia semata-mata telah bangkit dari kebodohan karena mempelajari sejarah. Seorang ilmuwan pasti sering melihat adanya kalimat di bagian 'Saran' yang mengatakan bahwa, "Sebaiknya penelitian ini dilakukan pada waktu yang lebih lama dengan jumlah variabel yang lebih besar". Atau bahkan, "Pengulangan percobaan dengan metode dalam jurnal ilmiah ini sebaiknya tidak dilakukan lagi karena dinilai tidak efisien dan terutama tidak fokus pada tujuan awal dari percobaan ini."

Motivasi untuk lebih memahami sejarah bisa jadi didominasi oleh adanya latar belakang carut marutnya situasi negara, banyaknya informasi kurang penting yang dipublikasikan kepada massa. Media datang dengan segudang berita yang tingkat edukasinya dapat dikatakan tidak layak. Masyarakat seringkali mendapat wawasan yang tidak diperlukan dan hanya menjadi sebuah distraksi dalam memahami permasalahan penting yang seharusnya menjadi pokok pikiran dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat menjadi sebuah kekuatan dan peluru berisi opini tanpa latar belakang. Masyarakat diberikan kesimpulan, tanpa disuguhi hidangan pembuka berupa kronologi peristiwa yang mendalangi terjadinya sebuah peristiwa. Masyarakat juga diajak menjadi hakim tanpa ijazah, merasa berhak memberikan pendapat seluas-luasnya yang kemudian opini masyarakat ini, dijadikan peluru oleh media massa, politisi, atau pihak lain yang memanfaatkannya, untuk memenuhi kebutuhan atau ego kelompoknya.

Pada poin inilah sejarah perlu dipelajari, bahkan sejarah Indonesia sendiri. Seringkali usaha orang banyak di masa lalu lebih dielu-elukan dan dihargai, setelah memahami keberanian mereka dalam mengemukakan pendapat dan bergerak untuk mengubah situasi yang mereka anggap tidak ideal. Mengagumkan dan menggetarkan adalah dua kata yang tepat. Indonesia dulu memiliki kemampuan yang sangat hebat dalam mengubah nasibnya, walau hanya dimotori oleh beberapa orang. Akan tetapi, mereka semua yang bergerak terkotak-kotak itu sebenarnya punya visi yang sama. Berbeda dengan kondisi saat ini, dimana pergerakan yang seolah untuk cerahnya masa depan bersama, kenyataannya memiliki kepentingan terselubung di dalamnya.

Kelompok-kelompok yang membawa nama perbaikan di Indonesia muncul secara sporadis. Ironisnya, realisasi berbeda dengan impian bila disangkutpautkan dengan kondisi ideal yang dilakukan sebuah tim untuk melaksanakan cita-cita bersama. Mereka bersama-sama punya cita-cita, tetapi bukan cita-cita bersama. Toleransi seolah menjadi hal nomor sekian setelah pembelaan diri. Penerimaan terhadap sebuah kritik adalah hal terlarang karena menunjukkan bahwa dirinya salah atau lemah. Evaluasi menjadi sebuah kedok kemalaikatan, seolah mereka adalah insan terpuji, padahal terkadang diri mereka hanya mengucapkannya dengan kalimat yang terangkum rapi dalam publikasi media massa, tanpa adanya pergerakan dan perubahan yang jelas.

Membaca sejarah mengajarkan banyak hal tentang sesuatu yang baik dan buruk. Membuat masyarakat lebih mencintai negara, lebih lagi mencintai kehidupan. Kehidupan dengan segala variasi kebahagiaan dan kenistaan. Sejarah itu harta. Sebagaimana kata mutiara, "Pengalaman adalah guru terbaik." Apakah selalu harus pengalaman diri sendiri? Tidak. Belajarlah dari pengalaman orang lain. Bacalah.

Hargai sejarah, dengan segala kebaikan dan keburukannya. Tidak ada manusia yang sempurna. Mereka yang di masa lalu dan sekarang berusaha untuk menjadi sempurna, tetapi pada nyatanya, kesempurnaan itu adalah perspektif pribadi. Orang lain boleh berpendapat cacat, tetapi, Siapa yang tahu bagi mereka di masa lalu, pencapaian mereka adalah kesempurnaan. Bacalah sejarah, supaya kita tahu lebih banyak akan pergerakan optimal yang kita impikan selama ini.

matiinu.blogspot.com

Comments

Popular Posts