Seandainya Tupai Akhir itu Terjadi Pada ...

Tulisan mengenai Tupai Akhir (TA) ini diilhami dari pengalaman melihat nasib Bapake dan Ibue gue di masa lalu. Ketika gue sharing pengalaman dengan mereka mengenai Tupai Akhir yang misterinya lebih dalam daripada rasa penasaran apakah Si Buta Dari Gua Hantu selama ini pakai kolor dibalik legging (yang katanya) kulit ular itu. Karena kalau memang itu kulit ular, for holy God and Holy Lord, sing sabar aja yang bakal jadi calon istrinya. Geus keburu dadas bundas, syukur-syukur gak jadi bersudut.

Gue membayangkan, di zaman modern ini seharusnya membuat Tupai Akhir memang jauh lebih cepat dan tidak memerlukan adanya pergerakan massa dari kampung setempat. Kita sudah punya laptop (sebuah alat ketik, pengolah kata, pengolah data, dan perusak hidup--terkutuklah kau M. Zuckerberg, tetaplah berkarya Ariel!), kamera digital (dokumentasi, gaya, gaya, gaya, bebeb), internet (google, google, tumblr, twitter, facebook, blogger), motor atau mobil berkecepatan tinggi (mempercepat mobilisasi), ditambah lagi alat komunikasi yang memudahkan untuk mengontak orang-orang penting.

Gue berimajinasi seandainya Tupai Akhir ini dikerjakan pada beberapa waktu yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Misal,

1. Tupai Akhir dikerjakan pada zaman Pleistosen (Tidak ada hubungannya dengan Sony)

Pada zaman ini, dimana masih banyak yang bisa dieksplor di dunia karena Oom kita yang kemungkinan bahkan masih Pithecanthropus erectus, belum paham pentingnya pendidikan.

Demi Tuhan kalau ada skripsi pun kudu ditulis beneran pakai darah atau dipahat di atas batu yang demi Tuhan sekali lagi butuh otak dan otot, literally. Bayangkan rasanya buat Tupai Akhir di zaman itu, udah mah dingin masih mengalami zaman es, baju masih selembar kain hewan, pembimbing kita ukuran otaknya bisa jadi lebih kecil dari kita, mau bagaimana coba?

2. Tupai Akhir dikerjakan pada zaman Akh-mun-Ra berjaya

Pada zaman ini, kebudayaan Mesir sedang berkembang. Manusia memiliki budaya sembah sana sembah sini. Ada orang bisa kencing sambil lari, disembah. Ada orang bisa memantulkan cahaya, disembah. Ada batu dicelup, disembah. Ada orang bisa nikah sama Dian Sastro, disembah (gue).

Pokoknya muncul banyak kepercayaan untuk sembah sana sini. Untung Nyonya Meneer belum ada di masa itu, pasti disembah secara dia telah berdiri selama lebih dari seratus tahun.

Membuat Tupai Akhir di zaman itu akan bertabrakan dengan dilemma dan kebijakan pemerintah dalam membangun bangunan runcing yang teuinglah eta gunanya apa selain keur background foto. Baru mau bimbingan, eh pembimbing kita sudah sibuk narik fondasi dan balok. Baru mau nyari latar belakang, udah keburu narik balok. Mau bimbingan kedua kalinya, pembimbing udah rata sama balok. Setiap kita mau nulis, papyrus mahal. Mau buat papyrus, kudu bertaruh nyawa sama buaya sungai Nil yang katanya bisa makan traktor. Sesulit itu menjadi sarjana. Mungkin itulah mengapa angka pengangguran zaman itu rendah. Susah buat skripsi, susah sarjana, Lo gak ada kerjaan, tarik balok.

3. Tupai Akhir dikerjakan pada zaman Perjuangan Kemerdekaan.

Betapa hebatnya sarjana di zaman itu. Keterbatasan teknologi, keterbatasan keamanan, keterbatasan akan akses ilmu pengetahuan, tidak menyurutkan niat mereka dalam menyelesaikan Tupai Akhir.

Kalau gue dalam kondisi mereka saat itu, Tupai Akhir akan menjadi prioritas kesekian setelah lari, tiarap, teriak-teriak, mengobarkan semangat, gigitaran, pelihara kumis, pakai blankon, dan memikirkan nama apa yang sesuai setelah kata "Bung" biar kelihatan keren kalau kelak masuk buku sejarah.

Belum ada laptop, syukur-syukur punya mesin tik. Untuk mendokumentasikan keadaan rona lingkungan butuh kamera yang sulit dimiliki karena harganya yang minta ditimpa bak kultur udang. Gak bisa copy paste literatur, gak bisa baca literatur di mana-mana karena belum ada alat printer yang bisa ditunggu sambil ngudud (ngerokok) satu batang, ataupun membaca PDF pake Tab atau iPad. Borok-borok touch screen. Syukur-syukur punya screen. Satu-satunya hal yang bisa dicolok dulu kalau gak colokan listrik ya kolam ikan.

Salut dengan sarjana di masa lalu, perjuangan mereka sangat keras. Anak Biologi zaman dulu pasti belum kenal dengan adanya kultur ini itu, belum bikin ruangan steril, belum ngekultur kuping, mata, stem cell (bukan, ini bukan stem yang buat senar gitar tea), dan hal sebagainya yang saya sendiri saja tidak paham. Biaya Tupai Akhir pasti masih murah. Belum butuh push-up pakai hidung untuk dapat uang.

Sekali lagi, kalau gue buat Tupai Akhir di zaman itu. Puji Tuhan kalau bisa selesai sebelum tenggorokan gue makan pecahan granat dari pantat tentara yang kepleset.

4. Zaman Bapak Ibu Gue (sekitar tahun 1980an)

Di zaman itu, ketika bulu (sorry, rambut, manusia adalah mammalia jadi semuanya itu disebut rambut, bukan bulu) dada dan rambut ketiak itu penting. Ketika celana cutbray merajalela, ketika rambut gondrong, keribo, atau tebal disisir ke atas menjadi settingan terbaik di pagi hari ketika menuju kampus. Ketika James Bond masih pakai pistol yang kelihatannya kayak kaleng Khong Guan dilipat-lipat, ketika Six Million Dollar Man masih dianggap mahal (Jaman sekarang mah bisa dibilang Manusia Rombeng Dollar Man), dan tokoh-tokoh lainnya dianggap sangat cool (sekarang juga masih), Bapake dan Ibue gue berjuang untuk menyelesaikan Tupai Akhir di tengah kisah cinta yang menggelora.

Di zaman itu, Bapake yang datang dari latar belakang keluarga sederhana, mencoba berjuang dengan alat tulis seadanya, mesin tik minjem, kolor disulam, dan kutang dibuat dari daun pepaya (Kagaklah, Bapake gue bukan Neanderthal. Dia hidup normal). Dia dengan kesederhanaannya tidak seperti gue sekarang, berhasil menyelesaikan Tupai Akhir dengan legendaris. Kalau tidak salah Tupai Akhir dia topiknya ada kebun kelapa gitulah. Maklum, dia lulusan Institut 'P' Bo**r yang tidak berhasil mencetak petani sukses (dari info Bapake dan Ibue). Dulu dia meminjam kamera Ibue yang kondisinya bisa dibilang lebih sejahtera dari Bapake. Mereka saling melengkapi. Sampai akhirnya, saat itu. Di malam yang sunyi... kapal mereka menabrak batu es di samudera. Mereka berjuang, berlari, "you jump! I jump!". Ya, gue adalah... anak dari Leonardo Di Caprio dan Kate W. . Sekian, lihat kemiripannya kan?

Bukan, intinya, dulu gue tahu dengan segala keterbatasan dari Bapake dan Ibue, mereka bisa menyelesaikan studi dengan baik. Motivasi tinggi, ihktiar, dan doa adalah modal utama mereka. Keterbatasan membuat mereka menjadi lebih kuat, cepat, dan sigap, bukan memperlambat.

Saat ini, diri gue yang telah dibekali berbagai macam keistimewaan, alat, dan nasib. Seharusnya bisa menghasilkan Tupai Akhir yang lebih legendaris lagi dari mereka. Sebuah hasil yang menakjubkan.

Harapan gue ketika orang (terutama wanita) mendengar topik Tupai Akhir gue adalah :
1. "Aaaaw, gokil. Gimana caranya!?"
2. "Gila, gue yakin lo bisa. Keren banget."
3. "Wah, kamu mau aku bantu buat bab berapa. Satu, dua, tiga? Atau semuanya?"
3. "Nu, kenapa lo baru hadir di dalam hidup gue sekarang?"
4. "Wooow Nu... Uuuh... Aaaah..."
5. "Inu, ini surat kita, Aku udah ambil dari KUA, kamu tanda tangan. Udahlah, ijab kabulnya bisa diskip nanti. Sekarng, kamu kecup pipi aku dulu."

Itulah dia kawan-kawan. Kita, sebagai mahasiswa. Sebaiknya berhasil membuat perubahan besar. Dengan segala keuntungan yang kita miliki sekarang. Jangan menyerah, syukuri apa yang ada, semakin, dan aku percaya kamu -- D'Masiv, I heart you!

Kepada mahasiswa Tingkat Akhir dan sedang mengerjakan Tupai Akhir. Kita, beruntung. Kita dalam zaman yang lebih maju. Kita harusnya lebih cemerlang.

Salam mabok Tupai!

Comments

Post a Comment

Popular Posts