Ketika Tuhan Mengajarkan Tentang Hidup dari Mereka


Cerita kali ini tidak bertopik "Tupai Akhir". Ini cerita tentang pengalaman menarik dan sebuah pembelajaran singkat yang gue peroleh. Cerita ini mungkin pernah dialami teman-teman pembaca. Tapi ini pengalaman pertama bagi gue untuk hadir di acara siraman, seserahan, dll. dalam acara adat pernikahan keluarga Sunda (padahal gue orang Sunda, Sunda jadi-jadian).

Tanggal 23 April 2011, hari Sabtu. Hari itu bertepatan dengan ulang tahun seorang sahabat bernama Ardwina Risdhantie.

"Selamat, kamu sudah berumur 22 tahun, dimana dirimu sekarang menjadi pujaan para laki-laki yang baru bekerja dan eksekutif muda yang sedang mencari tambatan hati. Dirimu juga menjadi favorit dosen pembimbing dan dekanat fakultas, karena dirimu sedang dicari, dan sedang didoakan sebanyak-banyaknya agar cepat lulus dan mengurangi jumlah mahasiswa di angkatan kamu. Sekali lagi selamat. Selain itu, selamat untuk menjadi lebih singset dan membuat iri beberapa junior kamu karena dirimu resmi mencapai target setelah melakukan pengorbanan hampir selevel orang yang ingin mencapai kesucian jiwa. Bedanya kamu gak makan rumput dan minum embun pagi. Selamat wahai sahabat, semoga menjadi lebih bijak, bahagia, dan memberi manfaat bagi orang banyak."
(Ramadhan, 2011)

Kembali ke topik, jadi hari itu, ada acara persiapan pernikahan Teh Arie yang merupakan kakaknya Ardwina, dengan Kak Beben sebagai calon mempelai pria. Cerita berawal dari adanya acara yang gue sebut saja sebagai "sharing" keluarga. Jadi di bagian ini, keluarga Oom Pandji (Bapaknya Wina) mengadakan sesi minta maaf satu sama lain. Dari Ayah ke Teteh, dari Teteh ke Ayah. Dari Ibu ke Teteh, dari Teteh ke Ibu. Diakhiri dengan sharing dari Teteh ke Ardwina, begitupula sebaliknya.

Dalam sesi ini, gue melihat sebuah keluarga seutuhnya. Ya, sebuah keluarga dimana mereka jualan opak di terminal, saling menyayangi. Sekolah masih SD, lalu berlatarbelakang Sukabumi. Judul keluarga ini adalah keluarga Cemara Natal.

Gue melihat dan menyadari bahwa segala hal yang dilakukan oleh Ayah dan Ibu dalam keluarga ini, menurut gue lebih dari sekedar menjalankan sebuah teori yang disampaikan dari leluhurnya. Mereka membuktikan dengan praktek hati nurani dari hasil pembelajaran hidup bahwa nilai luhur, cinta, dan keikhlasan telah berhasil mereka tanamkan ke dalam anak-anak mereka.

Waktu gue dengar Teh Ari bicara soal hal-hal yang menurut gue mirip sekali dengan apa yang akan gue ucapkan ke orang tua gue, rasanya hati gue mencelos, copot, ngegelutuk ke lantai. Ini sesuatu yang akan gue ucapkan ke orang tua gue juga. Ini juga yang akan gue ucapkan sambil nangis dan pipi gue dialiri air mata sesuci air di hulu Sungai Citarum dekat Gn. Wayang (Ow, no no! No TA please). Beberapa konteks pembicaraan dari keluarga ini mirip sekali dengan nilai-nilai yang ditanamkan di keluarga gue. Alhamdulillah, gue merasa bahwa sejauh ini nilai-nilai luhur yang ditanamkan orang tua gue adalah jalan menuju ridho Tuhan.

Ketika Teh Ari berbincang dengan Ardwina. Ketika mereka sebagai saudara berbicara dari hati ke hati. Rasanya inilah yang akan gue utarakan kepada adik gue. Gue memahami betapa menjadi seorang kakak adalah sebuah tanggung jawab besar dalam hidup. Kita yang lahir duluan, kita yang dulu begitu senangnya melihat adik kita lahir ke dunia, mencium keningnya, pipinya, hingga sekarang tertawa dan saling hina berkaitan dengan tim sepakbola favorit masing-masing (Yeah, we still do that, every week). Di sana gue melihat, itulah seharusnya atmosfer yang dimiliki saudara kandung. Sejauh-jauhnya kita dengan saudara kita, kita akan rindu dengan keberadaannya. Karena merekalah yang mengisi hidup kita, yang datang dengan tangis dan tawanya untuk mengajarkan kita hidup. Mereka jugalah yang kadang membuat kita berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Untuk menjadi kakak yang patut diteladani, sehingga adiknya mencoba mengejar sang kakak untuk menjadi pribadi yang sama. Padahal kalau gue pribadi sebagai kakak, gue sangat sangat ingin, adek gue mendapatkan segala sesuatu yang lebih dari gue. Pengalaman lebih, cita-cita lebih, gue ingin adek gue lebih dicintai Tuhan.

Gue belajar banyak dari keluarga Oom Pandji, dengan segala latar belakang hidup mereka yang diceritakan Ardwina. Cerita bagaimana mereka bisa sampai ke tahap hidup dimana tidak semua orang beruntung bisa mencapainya. Perjuangan mereka dari kecil hingga menjadi besar seperti sekarang.

Terima kasih keluarga Oom Pandji. Tuhan menakdirkan Saya bertemu kalian karena kalian juga guru dalam hidup Saya. Semoga selalu diberi keberkahan sampai anak cucunya beranak kembar 4 (waduh!?). Selamat berbahagia Teh Ari dan Kak Beben atas pernikahannya, ditunggu atuh anaknya yang katanya bakal keriting dan lucu.

Assalamualaikum. God Bless You.

Comments

Popular Posts