Ketika Lalita Menyelamatkan Saya

Lalita, wanita menarik berumur 21 tahun. Hobi ngudud, berak di celana, dan minum minyak gorengan. Bohong deng. Dia adalah wanita baik hati yang diberi Tuhan suara emas, dan sosok yang... ehm... tidak perlu dideskripsikan.

Cerita ini berkenaan dan bersambung dengan Tupai Akhir.

Hari ini, ketika gue hampir menjual nyawa gue pada ISS lebih banyak dari 1 kali, yaitu dengan cara keluar menggunakan motor dan kembali ke kampus yang berarti bakal bayar 2 kali, Lalita... datang dengan sosoknya mengatakan, 'Nu, sepeda gue ada di GKU Barat kok.'

Secercah cahaya datang, karena sepeda gue Kusnanto dirantai di mading himpunan dan kuncinya ada di junior gue bernama Fadi. Petualangan demi Tupai Akhir pun dimulai. Dengan semangat 45, gue membuka kunci Kinanti (sepeda Lalita). Gue menaikkan joknya yang disetting untuk level Hobbit. Kemudian gue menggoseh bak Oemar Bakrie, bedanya sepeda ini bukan Sepeda Kumbang, ini sepeda Domba. Karena merknya Wim Cyc*e dan iconnya adalah Domba.

Tujuan gue adalah PUSAIR. Bukan, ini bukan sebuah gedung berbentuk lobang yang dulunya disambung dengan rahim ibunya. Ini adalah gedung tempat penelitian tentang air di Bandung. Semua air, kalau kita ke sana, bahkan air cucuran ketiak pun bisa ditemukan... di ketek pegawai PUSAIR.

Gue datang dengan malu-malu. Gedung yang gue tuju adalah gedung paling ujung dari PUSAIR. Sepanjang perjalanan gue melihat komplek gedung perkantoran yang berisi model-model badan perairan dari sungai, danau, bendungan, hingga model pispot. Setelah merantai Kinanti di dekat motor-motor karyawan, dengan gagah (bo'ong, gue keringetan karena terlampau semangat) gue naik ke lantai dua dan menghadap ke sekretaris PUSAIR. Kebetulan gue disuruh nunggu selama beberapa menit, karena Ibu sekretaris tersebut sedang menghadap Bapak Bos. Gue mencoba membuat kesan bahwa gue adalah mahasiswa ber-IPK di atas 3.5 dengan cara... mengenakan kacamata, mengeluarkan map, dan membaca majalah National Geographic. Ya, dengan cara itu gue merasa bahwa gue terlihat intelek. Tapi dasar diri gue adalah mahasiswa terlampau semangat, gue keluarkan MP3 player dan mulai mendengarkan lagu-lagu mellow. Sejenak langsung gue merasa IPK gue di atas 3.85.

Saat Ibu sekretaris datang, dia menatap gue dengan...penuh belas kasih. Ternyata dia... Ibu susu gue yang hilang ketika gue terpisah di gurun. Setelah itu gue membantu Ayah membuat Ka'bah. Loh? Ini salah. Ini kisah nabi Ishak. Oke, jadi gue kasih lah surat yang menunjukkan bahwa gue mahasiswa, gue dari ITB, gue anak seseorang, gue sudah mandi. Kemudian gue ngobrol dengan Pak Eko yang sibuk gila sama BBnya. Dia meminta gue nunggu lagi, sambil dia ngetik BB sambil senyam senyum. Ngapain sih? Nonton bokep? Setelah gue tunggu, sambil senyum-senyum kayak orang yang lolos dari Riau no. 11, akhirnya kami berdialog. Obrolan dimulai dari hal-hal ringan seperti kenapa Pluto dicoret dari daftar planet, kenapa sel memiliki membran, yah hal-hal ringan seperti itulah.

Kemudian gue diarahkan ke Pak Syamsul. Dia bekerja di bagian penelitian. Di sana gue diberi jurnal ini-itu-sana-sini. Setelah berdialog, memberikan senyum hangat, sampai gue curiga si Pak Syamsul suka sama gue, gue memfotocopy jurnal yang ia berikan. Sekali lagi, gue melaju dengan Kinanti, menaikinya menggenggam lengannya, dan menggosehnya ke depan PUSAIR.

Tukang fotocopy yang menjadi tujuan gue adalah tukang fotocopy di Tubagus Ismail yang tampaknya tidak terbiasa diberi pandangan membunuh oleh mahasiswa terburu-buru akibat mau kuliah atau mau praktikum. Dia bekerja sangat lambat, minta dimaki dan dipukul benda tumpul. Sayangnya gue gak cukup kuat untuk mengangkat mesin fotocopy. Setelah 30 menit lebih, setelah langit gelap, setelah air mulai menetes dari langit. DIA BARU NGESTAPLES!

Akhirnya perjalanan gue berlanjut dengan berlari menuju Kinanti yang gue parkir di pintu masuk PUSAIR. Gue buka gemboknya, gue taruh fotocopyan di keranjangnya dan gue goseh dengan kecepatan kilat. Gue mengembalikan jurnal ke Pak Syamsul dan benar saja, hujan jadi deras.

Otak gue berpikir keras, apakah gue akan tetap di sini? Menunggu hujan reda dan menjadi bahan percobaan PUSAIR karena gue sejernih air mukanya atau gue sikat saja. Dasar gue orang pinter, langsung saja gue hajar bleh. Membelah komplek perkantoran PUSAIR menuju kampus. Sesampainya di Simpang, hujan makin besar. Gue membayangkan sosok gue seperti di film Laskar Pelangi, bedanya gue gak ikal, dan gue gak dapat beasiswa ke Sorbonne. Gw melewati Simpang dan melawan seluruh hujan di depan mata. Gue terlihat heroik dengan sepeda wanita dan ngebut. Basah kuyup.

Sesampainya di himpunan, rasanya lega. Satu misi telah selesai, at least TA gue ada progress 0.3% (Jurnal belum dibaca). Semoga pengorbanan ini adalah awal dari masa depan yang cerah. Demi Tupai Akhir. Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.

NB : Terima kasih Lalita baktimu takkan kulupakan

Comments

Popular Posts