Memandang Tiket dari Perspektif Berbeda

Final AFF Cup yang sebentar lagi akan diselenggarakan pada tanggal 26 Desember 2010 dan 29 Desember 2010 menjadi sebuah tragedi sendiri. Mengapa tragedi? Hal ini dikarenakan sebuah sifat manusia yang paling mendasar, egois. Caci maki, anarki, menjadi hal yang biasa dilihat sebelum pertandingan dimulai. Terutama karena pertandingan final 2nd leg akan diselenggarakan di Gelora Bung Karno, Senayan.

Mengapa pula menjadi masalah? Hal ini karena selembar kertas dengan harga tertentu yang dibutuhkan agar penonton dapat menyaksikan tim yang di'cintai'nya secara langsung di stadion. Benda itu adalah tiket.

Saya mencoba melihat dari dua sisi pada permasalahan tiket ini. Tiket AFF Cup yang dinilai semakin meningkat harganya ini menimbulkan ratusan opini dari masyarakat. Akan tetapi Saya mencoba memandang dari sisi penjual tiket juga dan sebuah pendapat yang terlintas di kepala Saya mengenai Sang Pembeli tiket.

Mata Masyarakat

Harga tiket terus meningkat. Semakin besar dan semakin bergengsi pertandingan yang akan dimainkan oleh Tim Nasional Indonesia, semakin mahal harga tiketnya. Ditambah lagi manajemen tiket yang tidak tegas. Jumlah penjualan tiket tidak sesuai dengan kapasitas yang dapat ditampung oleh stadion Gelora Bung Karno. Hal ini menimbulkan kekecewaan pada masyarakat yang telah membeli tiket dari jauh hari, akan tetapi tidak mampu melihat lapangan hijau ketika sudah masuk ke dalam stadion.Penyebabnya adalah tertutupnya pandangan oleh orang-orang yang berdiri di pintu masuk.

Harga tiket yang terus meningkat dinilai juga sebagai strategi penjual tiket untuk memperoleh keuntungan yang besar. Masyarakat sedang dalam euforia kemenangan. Tim Nasional Indonesia belum pernah kalah sekalipun dan ini membuat masyarakat antusias untuk menyaksikan pertandingan secara langsung, berapapun harga yang ditawarkan. Ketidakpedulian masyarakat terhadap harga ini bisa saja dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Entah untuk apa keuntungan tersebut digunakan.

Dari segala pemikiran buruk tentang pihak penjual tiket, sadarkah kita akan sesuatu yang telah ada sejak dulu dan menjadi 'budaya' masyarakat kita?

Mata Penjual Tiket

Sejak dulu kita mengetahui bahwa masyarakat kita bukanlah terdiri dari orang-orang yang paham akan pentingnya ketertiban dan aturan. Kita adalah bangsa yang suka memberontak. Segala aturan yang dinilai merugikan atau menyulitkan, seringkali kita protes, hancurkan, bakar, dan buang.

Harga tiket yang ditingkatkan bisa saja menjadi sebuah cara pemerintah untuk mengendalikan jumlah penonton agar tidak melebihi kapasitas. Akan tetapi yang terjadi adalah sebuah tindak kekerasan. Ketika harga naik, masyarakat akan protes, kemudian akan melakukan tindakan anarkis. Pihak penjual tiket mengeluarkan tiket dengan jumlah sesuai kapasitas, ketika tiket tersebut habis masyarakat bukannya kembali ke rumah dan mencari solusi lain. Mereka akan menggunakan cara terakhir yang dimiliki, kekuatan rakyat. Mereka menghancurkan fasilitas, memaki, membakar benda tertentu, dan dengan segala cara mereka akan memaksa pihak penjual untuk mengeluarkan tiket lebih. Ketika tiket lebih terjual habis, akan muncul masalah baru berupa ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan ini akan digugat oleh pembeli tiket yang telah membeli dengan cara (mudah-mudahan) jujur, mengantre lebih cepat dan membayar lebih dulu.

Masyarakat kita adalah pemberi kritik dan protes yang luar biasa, akan tetapi bukanlah pemberi solusi yang baik. Bila kita sadari, pihak penyelenggara telah menyiapkan solusi agar masyarakat tetap dapat menyaksikan pertandingan bersama-sama, yaitu adanya layar besar di sekitar Gelora Bung Karno. Layar tersebut adalah fasilitas gratis dari pemerintah agar masyarakat yang tidak mendapat tiket dapat merasakan suasana pertandingan walaupun tidak di dalam stadion.

Selain itu, tidak mendapat tiket bukan berarti hidup kita akan berhenti. Ini bukan masalah hidup dan mati. Bila ingin membuktikan rasa cinta terhadap bangsa, tidak hanya dengan duduk di stadion dan ikut berteriak membela tim nasional. Tidak melakukan tindak kekerasan dan berlaku tertib juga contoh nyata dalam mencintai bangsa. Jika kalian menghancurkan fasilitas umum, apa bedanya dengan para koruptor di sana yang mencuri uang rakyat.

Solusi bukan berarti sebuah cara untuk memecahkan masalah dengan menghancurkan penghalang. Solusi adalah sebuah keluwesan pikiran untuk mencapai tingkat kepuasan yang (minimal) sama dengan rencana awal tanpa mengganggu hak orang lain.

Korban kekerasan akibat tiket habis terjual. Mereka juga rakyat kecil (sumber : vivanews.com).



Comments

Popular Posts