Visa Pertama (part. 2)

Oke, melanjutkan part. 1 karena Penulis menilai bahwa tulisan akan sangat panjang bila dijadikan satu postingan blog.

Cerita bagian pertama berakhir dengan Penulis pulang dengan tangan hampa karena paspor harus diperpanjang

Experience no. 2 - Bike2Visa
Akhirnya Penulis memperpanjang paspor ke kantor imigrasi. Butuh seminggu untuk memperpanjang paspor karena kantor imigrasi Jak-Sel akan pindah. Tidak diketahui pindah ke mana, semoga tetap di Jakarta Selatan.

Untuk merayakan jadinya paspor baru dan semangat untuk membuat visa, Penulis mempunyai ide menarik. Bagaimana kalau menambah pengalaman dengan mengambil paspor dan membuat visa menggunakan SEPEDA. Ya, kendaraan beroda dua bertenaga otot kaki ini menjadi pilihan penulis dalam mempercepat pencapaian dirinya untuk memiliki kaki dan tampang David Beckham. Tentu tidak dibarengi dengan bertambah "cempreng"nya suara.

Jadi rute yang akan dilalui adalah

Cinere - Pondok Labu - Simatupang - Kemang - Mampang - Kuningan - Rasuna - Kuningan - Mampang - Citos - Pondok Labu - Cinere

Jauh kan, memang. Sesungguhnya Penulis ada keturunan 'strong'. Kalau jagoan tour de france itu Lance Arm'strong', Penulis adalah Matiinu Extra'strong', udah kayak permen Fisherman Friends.

Pukul 10.00, Penulis memutuskan untuk menyerahkan nasibnya dan berharap tidak mati dibius asap kopaja dan teriknya sinar matahari. Penulis tidak lupa berdoa agar hitamnya asap kopaja dan sinar UV dari matahari tidak membuatnya mendadak diasuh karena dikira anak angkatnya Angelina Jolie.

Dengan semangat, Penulis mengayuh sepeda. Angin menjadi kawan, matahari menjadi sahabat, tak jemu Penulis mengayuh menuju sekula untuk mengambil rapot anaknya. Di kejauhan dia membayangkan Ikal dan Aray. Dua anak kebanggaannya. Terlihat Jimbron di sebelah mereka... Kemudian blog ini berubah judul menjadi "Laskar Pemimpi Sampai Ngiler".

Butuh 15 menit untuk mencapai Cilandak Town Square dari Cinere. Dengan gaya "bike to work" yang lebih kelihatan seperti "bike to die", yaitu headset ditelinga, kaos, dan lagu di iPod dengan volume kencang, Penulis meliuk-liuk di antara mobil-mobil penyebab polusi udara. Ketika tanjakan Penulis memaksa otot pemalasnya itu untuk berkontraksi lebih kuat. Efeknya adalah penulis harus membayar double di angkot paha membesar.

Sesampainya di kantor Imigrasi, Mampang, punggung Penulis basah oleh keringat. Badannya mengkilap, perut melipat. Penulis menelpon Mbak E'en salah satu petugas kantor Imigrasi yang membantu Penulis dalam membuat Paspornya. Dengan rambut "jambul lupus", Ia mengambil paspornya. Wajahnya berseri-seri. 'Waktunya ke tempat visa', pikirnya dalam hati.

Maka berangkatlah Penulis ke daerah Kuningan. Masih dengan penampakan yang sama. Untunglah tidak ada rencana kencan, kalau kencan dengan pacar yang ada dia akan mengajak Saya untuk part-time job jadi kenek bus kota. Bau dan tampang sudah mencukupi.

Hal yang menarik dari menggunakan sepeda adalah tidak perlu bayar bensin dan bayar parkir. Yang dibutuhkan adalah rantai kunci untuk selamanya. Parkir pun bisa dimana saja. Tidak perlu tiket, hanya perlu tiang yang kuat dan paten.

Di kantor visa China, semua berjalan mulus semulus Scarlett Johansson. Terima kasih pada kaca bening di loket. Karena dialah Penulis tidak perlu mendapat pandangan penuh curiga dan hidung mengerenyit petugas pengurus visa. Aplikasi dilakukan dalam waktu 15 menit saja. All hail Visa China!

Perjalanan pulang dilakukan pada sore hari setelah mampir ke rumah teman dan ke Citos lebih dulu untuk ngobrol dengan kawan lama.

Luar biasa. Sebenarnya semua akan lebih cepat bila sepedanya pun selevel Oom Lance. Tapi ini adalah pencapaian yang luar biasa untuk Penulis. Membuat keinginan untuk "Bike 2 Work" semakin menggebu-gebu. Mari kawan-kawan, gerakan ototmu untuk bepergian. Seringkali kita berkata "terlalu jauh", "capek", "malas", "gila lo Nu ganteng banget", padahal kita sebenarnya tahu bahwa kita bisa. Coba dulu mengayuh pergi dari rumah. Pasti tidak bisa berhenti. Lebih banyak pemandangan dan fenomena yang bisa dilihat. Seringkali mobil atau motor membuat kita melewatkan peristiwa atau benda tersembunyi selama perjalanan. Selain itu bersepeda sehat dan irit. Kecuali kalau naik sepeda Jakarta - Bandung, itu mah pecirit. Ayo bersepeda, paling tidak seminggu dua kali, seperti pembimbing Kerja Praktek Penulis yang berangkat kerja dari Kalimalang ke Ancol dengan sepeda.

Experience no. 3 - Visa Pertama
Hari inilah, hari pengambilan visa. Sangat menyenangkan dan melegakan. Jadwal hari ini selain pengambilan visa adalah mengambil NPWP guna mencegah pembayaran fiskal sebesar 2.5 juta. Mendingan uangnya untuk beli sepeda. Setelah itu Penulis mengambil visa di gedung "The East", ditutup dengan imunisasi influenza di RSPP guna mencegah tertular "flu babi", "flu burung", dan yang paling mengerikan adalah "flu burungnya babi". Kombinasi mengerikan.

Kali ini Penulis tidak menggunakan sepeda karena butuh ketepatan waktu yang tinggi. Alhasil motor sodaranya pun dianiaya lagi.

Ketika visa diambil, rasanya seperti sembelit yang keluar. Ada hal yang menarik tiba-tiba muncul dalam benak penulis ketika melihat paspor barunya beserta visa China di dalamnya.

Paspor lamanya tidak pernah terpakai, kosong, tidak pernah ada visa tercantum sedikit pun di dalamnya. Paspor lama itu tidak merasakan airport dan bagian imigrasi. Dia dulu akan dipakai untuk sesuatu yang Penulis tidak ditakdirkan untuk berangkat. Paspor itu membawa kenangan tersendiri. Kenangan ketika berharap, menunggu, dan menerima sebuah kenyataan. Di dalam paspor lama itu terlihat jelas foto ketika SMA kelas X. Tidak pernah lupa harapan yang ada ketika membuat paspor itu.

Tapi kali ini, di paspor baru, sudah ada satu visa, ke Cina. Semoga paspor itu akan terisi visa berbagai negara, sebagai bukti Penulis keliling dunia. Sebagai bukti bahwa Penulis mengejar impiannya, dan sebagai kenang-kenangan untuk penerusnya, untuk anaknya, sehingga mereka bisa melanjutkan mimpi untuk melihat dunia dan berkontribusi di dunia, bukan hanya dalam skala kecil di sebuah kota, tapi untuk orang banyak di dunia. Karena seperti kata Ayah, "Tujuan hidup kita adalah bermanfaat sebesar-besarnya untuk orang lain."

Mungkin setiap orang punya pengalaman menarik tentang visanya. Pasti ada. Tidak ada yang remeh dari sebuah perjalanan. Perjalanan membuahkan pengalaman dan tidak ada guru yang lebih baik dari pengalaman.

Bahkan membuat visa saja sudah menjadi pengalaman tersendiri. Oleh karena itu, mari jalan-jalan.

3 hari menuju keberangkatan
Matiinu I. Ramadhan
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Comments

Popular Posts