Visa Pertama (part. 1)

Hello hello,
Tulisan kali ini dibuat berdasarkan ketakjuban Penulis ketika mengambil visa untuk ke China.

Jadi begini, ketika akan membuat visa, Penulis menghadapi beberapa kendala dan mendapat banyak pengalaman menarik

Experience no. 1
Dengan penuh ragu dan ketidakpastian (sama saja), Penulis meluncur menuju kantor pembuatan Visa China. Berbekal alamat Jl. Lingkar Mega Kuningan, Penulis berangkat dari rumah sekitar pukul 09.30. Dengan kecepatan luar biasa, motor pun disiksa. Ngebut ini bukan tanpa alasan. Hal ini disebabkan terakhir Penulis berhubungan dengan visa adalah ketika menemani sodara yang membuat visa untuk pergi ke Jerman. Di kedutaan Jerman katanya penuh orang, lama buat, lama antre. Oleh karena itulah dengan sangat terpaksa motor sodara pun dikebut.

Alhamdulillah, ketika Penulis sampai di depan gedung bertuliskan "The East", Penulis bertanya pada petugas keamanan gedung mengenai tempat membuat visa China. Ternyata gedung "The East" inilah tempatnya. Gedung ini tidak terlihat seperti kedutaan, lebih terlihat seperti gedung perkantoran. Menurut info dari petugas keamanan, tempat pembuatan visa berada di lantai 2. Parkir motor berada di basement dan pintu masuknya ada di bagian barat gedung. Setelah sampai bagian pembuatan visa, berbekal invitation letter dan surat keterangan dari AIESEC, Penulis bertanya pada petugas keamanan di pintu masuk tentang ketentuan membuat visa China.

Petugas : 'Untuk membuat visa yang harus dibawa itu surat undangan yang menunjukkan berapa lama dan keperluan perginya apa? Terus isi formulir, foto 4x6 dan bawa PASPOR.'
Penulis : 'PASPOR!? Harus bawa ya?'
Petugas : 'Yaiya Mas, nanti visanya ditaruh di mana? Hahaha.'

Oke, jadi kesimpulannya, setelah menyiapkan banyak hal, surat ini itu, foto 4x6 yang mahal juga bikinnya, penulis LUPA membawa PASPOR. Mengetahui hal itu, setelah bertanya ke loket aplikasi tentang ketentuan pastinya, Penulis pulang ke rumah (Cinere).

Dalam waktu 30 menit, udara panas, asap hitam, bau keringat, semuanya menjadi satu. Sesampainya di rumah, Penulis mengambil PASPOR! Wong tolo' belum pernah buat visa ya jadi gini.

Penulis langsung melaju ke tempat pembuatan visa (Kuningan) lagi. Sesampainya di sana, dengan lebih cekatan, sigap, dan bau. Penulis parkir dan naik ke lantai 2. Dengan percaya diri mengucapkan salam pada petugas keamanan, menyiapkan invitation letter, mengeluarkan foto, paspor, dan lembar aplikasi, kemudian mengambil nomor antrean.

Di kantor pembuatan visa China memang tidak membutuhkan waktu lama hingga adanya panggilan. Itulah mengapa visa China keren abis! Ketika melihat nomor antrean dipanggil, dengan mata berbinar-binar, Penulis berjalan menuju loket penerimaan aplikasi. Sebuah obrolan singkat terjadi antara dua manusia yang dipisahkan kaca bening. Petugas penerima (perempuan) bertanya tentang keperluan dan berapa lama Penulis akan tinggal di China. Penulis menjawab dengan santai dan asik (padahal muka udah lecek. Untung dipisah kaca, kalau gak, akan tercium bau tak sedap).

*semua berkas sudah dipegang petugas
*petugas memeriksa surat dan paspor
*petugas mengerenyitkan hidung
*petugas memandang dengan konsentrasi ke paspor

Dalam hati Penulis, 'Mbak muka Saya emang segitu... Tapi beneran kok itu Saya. Ganteng ya? Ya? Ya?'

Petugas : 'Mas, ini Anda sendiri?'
Penulis : 'Betul ini Saya sendiri. Ada apa ya Mbak?'
Petugas : 'Hmmm...'
Penulis : Yaelah, gak usah pakai "Hmmm" panjang gitu.
Petugas : 'Mas, paspor ini bermasalah.'

Penulis shock, 'Sumpah bukan Mbak, bukan Saya yang mengekspor DVD The Best of Ariel ke Botswana, suer! Suer!', pikirnya dalam hati.

Petugas : 'Tanggal expirenya bulan Oktober kan. Sedangkan Mas mau pergi Juli dan Pulang Agustus. Kami bisa saja meloloskan, tapi pasti akan bermasalah di bagian imigrasi karena expire datenya kurang dari 6 bulan.'
Penulis : *tersenyum pilu*
Petugas : 'Sebaiknya Mas perpanjang dulu. Berangkatnya tanggal 10 kan? Masih sempat kok'
Penulis : *melorot sampai lantai dan menangis di pojokan*, 'ooh, jadi gak bisa ya Mbak?'
Petugas : 'Iya, mohon maaf ya Mas.'
Penulis : 'Makasih Mbak.' *mengambil berkas, mengeluarkan bom dan berteriak, 'Ini pembalasan karena Crocs harganya mahal! Aaaa!' BUM!*

Alhasil, perjuangan hari ini sia-sia. Visa tertunda. Penulis pulang dengan tangan hampa. Pesan moral dari kejadian ini adalah PASPOR tuh kudu dibawa! Terus jangan dianggurin doang di rumah! Terus, pastikan kita membawa kesabaran segede biji gajah. Biar tetap lapang dada sampai rumah. Yang terakhir, mandi. Sampai rumah pasti bau.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Comments

Popular Posts