Guangzhou - Dalian + Dalian 1st Day

Halo, Ni hao ma?

Halo, Ni hao ma?

Akhirnya gue bisa menulis lagi cerita kehidupan internship. Jadi setelah dari Guangzhou, gue hampir mengalami ketinggalan pesawat karena jam di sini satu jam lebih cepat daripada di Indonesia. Padahal gue udah nanya sama petugas di bandara. Dia bilang waktunya benar (sambil nunjuk jam di tangan gue yang masih waktu Jakarta). Dasar gue anaknya polos dan gampang percaya, untungnya gue langsung menuju tempat check-in ke area B. Di area B ini gue mengalami kehilangan karena pisau lipat dari Ayah disita. Pisau lipat itu gue letakkan di kantong samping tas kamera. Gue sendiri lupa kenapa pisau itu bisa di sana.

Penerbangan ke Dalian relatif lancar, hanya saja ketika akan memasuki kota Dalian, terjadi sedikit hujan sehingga tidak bisa melihat apa-apa ke bawah. Tapi Alhamdulillah bisa mendarat dengan selamat. Ketika gue sampai di area kedatangan domestik, gue sudah melihat tulisan besar "INU" dari area tunggu penumpang. Ditambah tulisan "Welcome to AIESEC DUT". Dua orang penjemput gue adalah orang Cina dengan nama Chloe (gue memanggil dia syao-syao) dan satu lagi adalah Hugo.

Kami menuju kantor AIESEC di dekat Dalian University of Technogy, oleh karena itu AIESEC ini dinamakan DUT. DUT ini adalah tempat kuliah Chloe dan Hugo.

Sekarang pukul 2.11 waktu Dalian. Gue cerita gue kali tentang hari pertama setelah tidur di kantor AIESEC Dalian. Jadi orang-orang di kantor ini ternyata hobi bangun telat. Mereka bangun jam 9 atau jam 10. Mereka juga bisa mandi dan gak ganti baju. Luar biasa memang orang-orang Cina ini. Mereka sangat perhatian terhadap tata kotanya yang luar biasa rapi menurut gue. Dalian is very good! No traffic jam! No bus ngetem! No banci bawa kecrekan! No pengemis! Kota ini punya susunan yang sangat rapi. Semua jalan segede jalan tol Cipularang. Udaranya bisa dibilang bersih dan orang-orang di sini hampir semua hidup di apartemen karena ongkos membuat rumah sangat mahal. Karena hidup di apartemen inilah mereka dapat memanfaatkan lahannya lebih banyak untuk hal lain dibanding mengeksploitasi lingkungan dengan membabat pohon dan menjadikannya rumah.

Gue jalan-jalan bersama Chole, Hugo, Kiki (aiesec bandung), dan Vaclav (EP dari Ceko) ke tempat pembelian SIM Card dan XInghai Square Seaside. SIM Card yang gue beli seharga 50 RMB, Vaclav juga beli yang 50RMB. Kemudian kami pergi ke Xinghai Square menggunakan bus 406. Bus di sini berhenti di halte dan setiap masuk kita bayar 1 Yuan untuk satu perjalanan berhenti di manapun. Jadi di sini tidak ada kenek dan tidak ada banci bawa kecrekan di dalam bus. Adanya satu bus isinya orang Cina yang ngomong Cina, ngeliatin gue dan Vaclav sekali-sekali karena kami keren abis. Kami turun di halte Xinghai dan berjalan menuju Xinghai Square. Saat itu terlihat banyak kabut, mungkin karena akan hujan. Udara dingin dan matahari tidak terlihat.

Konon katanya Hugo dan Syao-syao Xinghai square ini adalah alun-alun terbesar di Cina. Melebihi Tiananmen. Berhubung gue anak polos, jadi gue percaya saja.

Kita berjalan cukup jauh hari ini. Untuk mencapai Seaside, kami harus berjalan dari Xinghai Square. Jalannya lurus, bersih, dengan taman yang sangat rapi. Di sepanjang jalan kami melihat banyak turis lokal yang juga menuju ke darah Seaside. Turisnya bermacam-macam, dari yang pake baju, sampai yang gak pake baju (for real). Di Seaside ada tempat seperti Dunia Fantasi dengan wahana yang lebih dahsyat untuk beberapa jenis. Ada wahana yang mirip dengan di DuFan seperti Tornado, Kicir-kiric, dan Halilintar. Tapi di sini mah namanya nama Cina semua. Jadi gue gak bisa jelaskan apa namanya. Ada juga semacam monumen yang penampakannya berwarna hitam terdiri dari banyak jejak kaki. Kira-kira butuh 15 - 20 menit untuk mencapai Seaside, kami duduk sebentar di Seaside untuk melihat pantai yang ditutupi kabut. Cuaca cukup dingin dan berangin. Untunglah gue membawa cardigan yang akhirnya gue lingkarkan di leher.

Setelah itu kami langsung pulang dan beristirahat di office. Ketika pulang kami makan siang dulu di dekat DUT dan percayalah, di sini makanan harganya murah dan bisa buat lo pengen muntah. Dengan 8 Yuan (kalikan saja Rp. 1360), bisa mendapatkan makanan sebanyak porsi untuk 2 orang. Setelah makan dengan lahap dan gendut, berjalanlah kami ke office untuk istirahat. Badan gue siklusnya rusak, di sini siang lama sekali. Orientasi terhadap matahari tidak bisa diandalkan untuk hidup. Kemudian karena tubuh kita memang diatur intensitas cahaya luar dalam beraktifitas, tentu saja kita menjadi tidak normal. Badan sudah lelah, tapi otak masih bertahan karena cahaya masih terang pada pukul 20.00 malam, kemudian matahari akan bersinar terang lagi pada pukul 04.30. Sekarang badan gue rasanya aneh. Lemes dan ngantuk, tapi otak masih mikir dengan kurang baik. Jadi kayak rada pilek tapi gak pilek. Pokoknya badan tidak fit.

Gue sudah mendapatkan hostfam. Hostfam gue terdiri dari Mr. Ji, Mrs. Cindy, dan anak mereka John. Apartemen mereka rapi dan kelihatan bahwa mereka adalah keluarga berkecukupan. Bisa dibilang kaya, karena mereka punya perabotan yang bagus dan memelihara anjing Dalmatian sebesar orang bernama Owti.

Hari ini gue akan pindah ke hostfam. Semoga dengan tinggal bersama mereka gue merasakan pengalaman yang luar biasa. Hidup bersama keluarga Cina. Well then... see u again.

Comments

Popular Posts