10 Juli 2010 : Jakarta - Guangzhou

Halo semua. Sekarang pukul 15.55 waktu Guangzhou. Kayaknya sih sama dengan di Jakarta masih. Kalau nanti di Dalian, barulah terjadi perbedaan waktu. Dalian akan lebih cepat 1 jam.

Perjalanan dari Jakarta ke Guangzhou bisa guedinilai sebagai pengalaman menarik. Tentu saja, karena ini adalah pengalaman pertama gue pergi seorang diri meninggalkan tanah air Indonesia. Bukan hanya itu, inilah pengalaman pertama gue menginjak tanah selain tanah Indonesia.

Berhubung punya waktu sekitar 3 jam sebelum penerbangan ke Dalian, gue sempatkan untuk menulis tentang cerita selama menuju Guangzhou. Sekaligus berbagi tips untuk berpergian ke Cina.

Pertama, berangkat tepat waktu dan sampai tepat waktu itu sangat penting. Karena pengalaman pertama dalam check-in bisa dibilang buruk. gue hampir dimanfaatkan keluarga Cina yang bisa bahasa Indonesia dan sepertinya akan pulang ke kota Guangzhou. Jadi keluarga Cina ini memanggil dengan ramah sekali, "Mas, mau ke Guangzhou?", Tanya perempuan yang sepertinya berperan sebagai Ibu dalam episode kali ini. "Iya", jawab gue polos-polos lucu. Ibu itu tampak semangat melihat kepolosan gue, "Mau bareng aja gak check-innya? Biar bagasinya bareng.". Dasarnya gue emang polos, gue mengiyakan. Eh, langsung ditanya paspor gue dan diberikan pada petugas check-in yang tampaknya sudah sebal dengan perangai keluarga ini yang MEMANG membuat check in menjadi lebih LAMA. Setelah gue lirik ke arah bagasinya. Memang, mereka bawa barang pulang kampung. Setelah petugas melihat tiket gue dan keluarga itu dia, petugas berkerudung ini mengatakan, "Mas Ramadhan (Anjir, nama gue kayaknya emang lebih ganteng dipanggil itu), Mas sampai Dalian ya?", Gue menjawab, "Iya.". "Ibu, ini tidak bisa, Mas ini sampai Dalian dan bagasinya akan saya alamatkan langsung sung sung (gak pake sung sung juga) ke Dalian. Sedangkan Ibu hanya sampai Guangzhou." Dalam hati gue langsung mengatakan, "Hiah, hampir. Gue cuma takut kepolosan gue ini dimanfaatkan."

Ketika check-in, dengan gugup gue meletakkan bagasi gue, yaitu sebuah carrier dan sebuah tas hitam berisi bahan... MAKANAN. Percayalah kawan-kawan, gue udah kayak mau buka lapak. Isinya makanan semua. Tas pertama gue letakkan, tas kedua gue letakkan, muka gue copot terus gue letakkan, tapi keburu ditolak dengan senyuman halus seolah berkata, 'Mas, silakan buang muka Mas di tempat lain. Di sana ada pasir untuk matiin rokok."
Ternyata bagasi gue, ENG ING ENG! beratnya 19.2 kg. 0.8 kg lagi menuju pembongkaran tas untuk gak jadi jualan celana dalam di Cina, hampir dibawa. Alhamdulillah, gue selamat. Gue melewati kekhawatiran pertama gue yaitu check-in muka. Syukurlah tidak ada standard muka untuk naik pesawat. Eh, maksud gue batas berat bagasi.

Berlanjut ke bebas fiskal, apa yang harus dilakukan? Buatlah NPWP. Mudah membuatnya, datang ke kantor pajak, bawa fotocopy KTP, dan isi formulir yang sangat mudah. Kemudian berikan pada petugas, tunggu 1 hari, tidak perlu bayar apa-apa. Jadilah kartu NPWP!

Berlanjut ke imigrasi, mulus. Hanya antrenya agak lama karena loket yang dibuka baru sedikit. Kemudian gue menuju gate D4. Di sana gue menyadari 1 hal. Gue adalah yang paling eksotis di gate itu. Serius. Semuanya orang Cina. Awalnya gue berpikir bakal mengalami culture shock di Cina nanti. Ternyata, setelah berkali-kali ke PVJ dan pergi ke IP sekali. Gue tidak mengalami begitu culture shock. Ditambah ketika gue naik China Souther Airlines yang merupakan pesawat lokal Cina, semuanya menggunakan bahasa Cina. Bahkan petugas pesawatnya tidak bisa menggunakan bahasa Inggris dengan baik. Semua orang di sekitar gue ngomong Cina. Di pesawat, gue duduk di kursi 21F dekat jendela. Kursi 21E kosong dan di kursi 21D ada seorang bapak yang tentu saja orang Cina. Gue menikmati perjalanan 4 jam tersebut dengan... gelisah, tidur sulit, baca sulit. Tapi Gue gak akan pernah lupa perasaan ketika take-off, pertama kalinya Gue tau gue berangkat ke negeri orang, pertama kalinya Gue merasa yakin bahwa Gue akan traveling lebih jauh dari Bali. Mungki berlebihan, tapi memang merasakan jalan-jalan ke negeri orang adalah salah satu keinginan Gue.

Comments

  1. untuk ke guangzhou dari jakarta pakai transit gak?
    thanks ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dari Jakarta biasanya tidak pakai transit karena Guangzhou itu adalah lokasi transit. :D

      Delete

Post a Comment

Popular Posts