Kalau Monalisa Punya Alis

Pernah liat lukisan Monalisa? Ya, lukisan yang legendaris itu adalah salah satu karya seni terbesar di dunia. Bila kita perhatikan sama-sama, lukisan itu tidak lengkap. Monalisa tidak punya alis.

Ya, Monalisa tidak memiliki alis. Kenapa? Saya belum tahu. Tapi ada satu hal yang bisa dilihat bahwa. Bagaimana kalau Monalisa diberi alis? Apakah masih menjadi karya seni yang besar. Bayangkan kalau dia punya alis seperti Shinchan, dia akan suka wanita dan menjadi wanita cabul yang hobi pamer t***t ke mana-mana. Selain itu Monalisa akan terkenal sebagai ratu cabul, bukan sebagai karya seni.

Hal ini dapat dikaitkan dengan sepakbola. Tadi malam puluhan orang atau mungkin jutaan orang menghujat keputusan FIFA untuk tidak menggunakan teknologi dalam World Cup 2010. Semua terjadi karena ketidakjelian wasit ketika menyatakan tendangan Frank Lampard bukanlah sebuah gol. Padahal jelas sekali di tayangan ulang, bola tersebut melewati garis gawang. Keputusan yang salah memang. Tapi mari kita lihat dari analogi "Monalisa Menjadi Cabul" tadi.

Sebenarnya untuk menjadikan sebuah pertandingan sangat-sangat disiplin bisa menggunakan teknologi, semua dilakukan dengan kamera, sensor, dan banyak hal lain. Bayangkan, hanya dibutuhkan satu ruang kontrol ditambah kamera di mana-mana akhirnya pertandingan akan sangat detail dan tanpa cela dalam hal perwasitan. Tidak ada lagi diving, tidak ada lagi kesalahan keputusan. Tapi sadarkah, bahwa wasit adalah "seni" dalam sepakbola. Kesalahan keputusan, penipuan pada wasit, dan sebagainya adalah seni.

Kita tidak akan mengenal Inzaghi sebagai jagoan "diving", Inggris tidak akan jadi juara dunia pada tahun 1966, tidak mungkin kartu kuning sebanyak 3 kali diberikan pada satu orang pemain, tidak mungkin Maradona menjadi legenda dengan "Gol tangan Tuhan"nya. Wasit adalah seni dari sepakbola. Sadar tidak sadar kita menjadi lebih ekspresif karena ada wasit. Kalau semua wasit diganti menjadi robot yang punya sensor sampai bahkan mendeteksi kebohongan dari suhu, aktivitas otak, dan sebagainya, tidak ada lagi seniman "diving", tidak ada lagi drama di lapangan, permainan menjadi kaku. Kalau wasitnya robot, Saya harap dia ROBOCOP dan menembak mati Matterazzi waktu dia mengatai Zidane!

Saya pribadi masih ingin menonton sepakbola di atas lapangan hijau, bukan sepakbola di atas papan catur yang ketat dan tidak kreatif.

Football is art, player is an artist including the referee.

So now, let's enjoy the competition and the game. For the game we love : Football

Matiinu I. Ramadhan

Comments

Post a Comment

Popular Posts