Sampaikan dengan 100 KATA


Judul postingan Saya kali ini dipengaruhi ketakjuban pada kreatifitas manusia yang baru-baru ini dibaca. Pernahkah terbayang bahwa kita dibatasi untuk berkarya, seperti kita dibatasi bahwa ada nada yang tidak boleh kita nyanyikan (Oke, kamu boleh menyanyi, tapi jangan pernah keluarkan nada sol), atau ketika kita mengambil foto pemandangan alam di saat langit sedang cerah dan ada larangan untuk hanya boleh ada bagian langit harus sebesar 22% dari foto.

Pada kenyataannya aturan ini ada. Hal yang paling membuat Saya kagum adalah aturan dan pembatasan ini ada pada penulisan sebuah cerita. Ya, cerita. Pernahkah Anda diberitahu oleh guru Anda entah di sekolah dasar, sekolah menengah, ataupun kuliah untuk menuliskan suatu karangan, cerita, atau makalah dengan jumlah kata yang harus tepat berjumlah tertentu. Saya pribadi tidak pernah. Itulah yang membuat Saya terkesima ketika membaca bagian belakang dari buku berjudul 100 Kata. Saya bertanya-tanya, bagaimana cara para penulis di dalam buku ini menciptakan sebuah cerita yang utuh dan dimengerti pembacanya tepat dengan 100 kata? Tidak kurang dan tidak lebih. Cerita macam apa yang ada? Bahkan Saya sulit menceritakan cerita perjalanan Saya dari rumah ke sekolah tepat dengan 100 kata.

Dengan rasa ingin tahu yang besar Saya membaca cerita pertama dari buku ini yang dibuka dengan cerita-cerita bertema cinta. Maafkan Saya untuk penulis buku ini tapi Saya sangat ingin menuliskan satu cerita yang mampu menjelaskan bagaimana kekaguman Saya terhadap cerita yang ada di buku ini.

Kekasih Kedua
Andi F. Yahya

"Kita ketemu malam ini di tempat biasa ya?"

"Aku tidak bisa. Tidak malam ini. Mungkin... kita tidak perlu lagi bertemu."

"Kenapa? Karena dia?"

"Iya. Seandainya bukan karena dia, semuanya tidak akan seperti ini. Aku harus memilih.:

"Kamu mencintainya sehingga kamu lebih memilih dia?"

"Aku... Kita tidak bisa terus seperti ini."

"Kenapa tidak? Aku membutuhkanmu. Kamu juga butuh uang untuk membiayai semua pengeluaranmu, termasuk kuliahmu. Kita saling membutuhkan Ndre."

Aku terdiam.

"Apa perlu aku beberkan semua kebusukanmu?"

"Sialan! Kamu tega berbuat itu."

"Kalau perlu. Meski dia anakku."

Aku bayangkan dia sedang tersenyum licik di seberang telepon.

"Baiklah, aku akan datang."


Baiklah. Itu satu contoh ceritanya. Luar biasa bukan? Setiap cerita dari buku ini seperti sebuah bom yang tidak tahu kapan meledaknya. Saya tahu bahwa akan meledak, tapi tidak tahu kapan, di paragraf mana, dengan kata apa, dan apa kenyataan yang ada pada cerita ini. Halaman demi halaman memberi sensasi yang berbeda. Ada ledakan kesenangan, ledakan kesedihan, ledakan kekaguman, ledakan kebencian, bahkan ada ledakan yang membuat kita menjadi takut.

Sudah beberapa kali saya ceritakan buku ini pada teman-teman Saya dengan harapan mereka merasakan sensasi yang Saya rasakan. Merasakan sentuhan halus, tamparan, tendangan, dari beberapa karya seni berupa tulisan yang dibatasi hanya boleh 100 kata. Sebagai penggemar fotografi, membaca buku ini rasanya seperti melihat foto hitam putih. Walaupun warnanya terbatas. Tapi mampu menciptakan kesan yang lebih besar daripada foto berwarna. Salut untuk 100 Kata.

*entah sudah berapa kata saya menulis postingan blog ini. Susah menahan kata-kata.

Comments

Post a Comment

Popular Posts