Kuliah Lapangan Sebuah dedikasi bersama Tai Sapi


Assalamualaikum wr. wb.

Setelah lama hilang dari dunia blog. Gue akhirnya punya waktu untuk menulis lagi dan tentunya mempunyai cerita untuk ditulis lagi.

Cerita terhangat kali ini datang dari mata kuliah Proyek Ekologi. Kuliah Proyek Ekologi ini memang jenis kuliah yang akan membuat kita kudu pontang panting pergi ke lapangan untuk mencari data tentang suatu daerah. Tentu saja lapangan yang didatangi bukanlah lapangan bulu tangkis atau lapangan voli RT setempat. Tapi lapangan yang dimaksud adalah HUTAN! DANAU! SUNGAI! PANTAI! KAKUS ALAM!

Jadi cerita Gue tentang kuliah lapangan kecil Proyek Ekologi yang berlokasi di daerah Situ Lembang. Bagi teman-teman yang tidak tahu. Situ Lembang itu terletak di atas (mari menengok ke atas). Bukan, maksud saya, ada di daerah yang lebih tinggi dari Bandung bila dilihat dari permukaan laut. Daerah ini adalah tempat dimana hutan masih banyak, hewan masih banyak, daun masih banyak, masih segar. Mantaplah pokoknya.

Kami berangkat pukul setengah 6 pagi dari gerbang depan kampus. Hal ini dilakukan agar perjalanan lebih segar dan kondisi di sana menyenangkan. Kegiatan yang akan kami lakukan pun banyak. Transportasi yang kami gunakan adalah kendaraan beroda 4 dengan tempat angkut yang besar dan luas. Transportasi kami adalah TRUK SAPI! (Mooooo!). Ya, dengan truk ini kami bisa membawa barang-barang, spesimen, dan diri kami dalam satu tempat. Truk ini pun membuat kami lebih enerjik dan terjaga (dengan resiko ganti betis).


Kami sampai di lokasi sekita pukul setengah 7. Perjalanan yang menyenangkan dihiasi pemandangan yang menakjubkan serta angin yang memabukkan. Kami merasakan perubahan pemandangan, dari perkotaan bandung, berubah menjadi pedesaan di daerah perbukitan, dan ditutup dengan pemandangan ladang dan hutan. Sesampainya kami di sana dilakukan prosesi paling menyenangkan di pagi hari yaitu (bukan, bukan buang air besar) makan pagi / sarapan. Setelah sarapan, Ibu Endah yang merupakan dosen pembimbing kami memberi pengarahan.

Beliau bercerita bahwa daerah yang sedang kami injak ini termasuk dalam barisan perbukitan pegunungan Burangrang dan Gn. Tangkuban Perahu. Dari Tempat kami duduk bisa dilihat bahwa Bandung dahulu adalah danau. Kemudian karena adanya suatu retakan, danau tersebut surut. Sehingga bisa ditinggali oleh manusia. Pemandangan menakjubkan. Bandung benar-benar diapit oleh barisan pegunungan yang kala itu masih diselubungi kabut pada bagian atasnya.

Setelah Ibu Endah memberi instruksi, dimulailah pekerjaan kami. Kami dibagi menjadi 2 tim setiap kelompok kecilnya. Perwakilan dari tiap kelompok harus ada yang membuat pitfall trap. Apakah itu Pitfall Trap? Jadi Pitfall Trap itu adalah suatu cara untuk mengumpulkan Arthropoda tanah. Caranya dengan memendam gelas Aqua yang berisi air deterjen dan formalin. Gelas Aqua tersebut terendam sejajar antara bibir gelas dengan tanah. Gelas Aqua yang akan menjadi tempat jebakan tersebut ditutup oleh sejenis papan yang menjaga agar tidak ada serangga dari bagian atas yang masuk ke dalamnya. Intinya, ini khusus untuk hewan kecil yang berjalan di tanah. Anggota kelompok yang lain melakukan penghitungan Vegetasi. Setiap kelompok membuat plot (sebuah zona berukuran 10 x 10 meter). Kemudian setiap kelompok harus mengumpulkan tumbuhan apa saja yang ada di dalam plot itu. Tumbuhan dibedakan atas Pohon, perdu, dan herba. Selain itu diharuskan mencari data biomassa cacing yang ada di dalam plot. Tenang! Bukan berarti kita kudu menggali seluas 10 x 10 meter. Bisa buat ngubur Anoa kalau gitu mah. Kita hanya butuh menggali seluas 30 x 30 cm dengan kedalaman 20 cm untuk mencari cacing. Tempatnya bebas, asalkan berada di dalam plot (dilakukan 2 kali). Selain itu kami juga harus mengambil data kondisi Fisika dan Kimia di dalam plot. Ada bermacam-macam alat yang harus digunakan guna mendapatkan data tersebut.





Pengukuran Vegetasi yang menggunakan plot-plot itu dilakukan di 3 tempat, yaitu di Ladang, Hutan Pinus, dan Hutan Campuran. Hasil yang didapat beda-beda. Sehingga kita dapat membandingkan adanya keanekaragaman pada daerah yang sudah dicemari manusia, daerah hutan dengan pohon homogen, dan daerah hutan dengan berbagai macam pohon.

Oh ya, gue lupa. Jadi tempat kita mengambil data ini adalah hutan tempat KOPASSUS melakukan latihan perang di hutan. Jadi kudu hati-hati. Kalau mau menggali, dicek dulu di bawah serasah (daun-daun yang berguguran di tanah) apakah ada bekas granat atau apapun. Bila kita teliti, kita bisa menemukan bekas peluru di dalam batang pohon. Hehehe.

Hal menarik yang gue temukan di hutan pinus adalah susunan pohon pinus yang rapi karena memang diatur oleh manusia. Tanah di hutan pinus ini ditutupi oleh daun-daun pinus yang berguguran. Sekilas tanah ini tampak seperti karpet tebal yang hangat. Tapi jangan tenang dulu. Bila kita buka serasah daun-daun pinus ini, kita bisa menemukan LUBANG ULAR! Maka dari itu berhati-hatilah di hutan. Selain itu kita bisa melihat Tonggeret. Tonggeret adalah serangga yang berada di pohon pinus dan memakan getah dari pohon pinus. Tonggeret tersebut berganti kulit di pohon dan meninggalkan kulit lamanya di sana. Sehingga banyak bekas kulit tonggeret yang masih berada di pohon.




Di Hutan campuran yang gue temukan hanyalah POHON! POHON! TANAH! SERANGGA! dan apapun yang kalian bayangkan sebagai hutan. Ketika kami mengambil data di sana kami mendapat tantang baru, yaitu HUJAN! Yap, kami mengambil data di tengah hujan. Seru sekali, kami harus menggunakan ponco ketika akan mengambil data. Memberi kami tantangan baru dalam pengambilan data di lapangan.

Semua kegiatan tersebut dilakukan hingga sore. Setelah sore hari, kami bergerak menuju tempat istirahat kami malam itu. Kami menginap di Barak Tentara. Barak Tentara seperti sebuah ruangan besar dan panjang yang di kanan kirinya terdapat papan yang menyambung dari ujung ke ujung. Sedangan di tengahnya menjadi tempat jalan orang di dalam barak.

Hal menakjubkan yang Gue lihat di sana adalah ketika malam hari saat kabut turun. Kabut membuat suhu semakin dingin, Kita tidak bisa melihat dalam jarak 5 meter. Kalau ada orang diculik ke dalam kabut, maka wassalamlah nasib dia. Semoga orang yang diculik tersebut akan bermanfaat bagi penculiknya. Kalau nyusahin mah kasihan.

Pagi harinya kami harus bangun jam 4 pagi karena pukul 5 kami harus bergerak ke tempat pengamatan burung. Kelompok gue kebetulan dapat di tepi danau Lembang. Ketika kami berjalan menuju lokasi pengamatan, Gue melihat pemandangan luar biasa. Danau yang ditutupi kabut, dengan matahari yang belum muncul namun sudah menunjukkan sedikit cahaya yang terhalang oleh kabut. Tepi danau yang lain tidak bisa kami lihat, tapi kami bisa mendengar sayup-sayup suara burung yang berada di sekitar danau.



Sambil mengamati burung, gue melakukan sedikit hunting foto. Karena pemandangan ini tidak terjadi setiap bulan. Ini pemandangan yang luar biasa bagi gue yang belum pernah ke sini. Kegiatan pengamatan burung ini berakhir pukul setengah 8 pagi. Setelah itu kami langsung kumpul di tepi danau. Melakukan sedikit sesi pemotretan dan dilanjutkan dengan sarapan.

Kami akan langsung meninggalkan Barak Tentara dilanjtkan dengan mengumpulkan data akuatik. Data akuatik yang kami ambil adalah data air dari daerah hulu, tengah-tengah, dan hilir. Daerah hulu masih terletak di sekitar Situ Lembang, daerah tengah-tengah berada di Curug Gubruk (kalau gue gak salah nama), dan daerah hilir berada di Pemukiman Pajagalan, Cimahi.

Pengambilan data akuatik intinya adalah mengambil air dan mengumpulkan bentos. Apa itu Bentos? Bentos adalah hewan yang hidup di air, tapi berada di dasar. Jadi semacam hewan-hewan air yang tidak berenang, bisa kepiting, cacing, dsb. Air yang kita ambil akan bermanfaat guna mengetahui data fisika kimianya. Dengan melihat segala aspek tersebut, kita dapat melihat bagaimana status daerah perairan tersebut.

Curug Gubruk

Pada daerah hulu dan tengah-tengah air yang diambil masih bersahabat. Airnya jernih, dingin, mengalir indah, dan tidak sulit untuk melakukan pengambilan data. NAH! Yang paling gawat adalah ketika kami mengambil data perairan di daerah PAJAGALAN!


Daerah Pajagalan adalah tempat penyembelihan hewan yang berada di daerah Cimahi. Di daerah pejagalan ini terdapat rumah penduduk dan beberapa kandang. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kondisi sungainya? Sungai di daerah penduduk. Bisa dibayangkan. Baiklah saya lanjutkan.

Plot tempat pengambilan data kelompok gue berada di pertemuan 2 kekacauan, yaitu di antara kandang sapi + kotorannya di pinggir sungai dan kandang ayam (yang tainya dibuang LANGSUNG ke sungai). Pada paragraf sebelumnya gue lupa menjelaskan bagaimana mengambil data Bentos ya. Jadi begini, Bentos itu diambil menggunakan saringan khusus dengan ukuran lubang 40 x 20 cm. Bentos yang berada di dasar sungai tersebut diusik keadaannya dengan digosok-gosok, digesek-gesek, atau apapunlah, agar mereka lepas dari dasar sungai dan terjebak ke dalam Jala Surber. Batu yang berada di depan jala surber ini pun harus disikat di depan jala. Karena bisa jadi ada bentos di batu tersebut. Baik, setelah melihat prosesnya mari kita bayangkan apa yang saya lakukan di Sungai Pejagalan.

Gue dan partner Gue Pradikta (kelak dia akan jadi orang hebat), mempersiapkan alat perang berupa, SARUNG TANGAN KARET dan BOOTS. Ketika kami baru akan turun, hujan mengguyur lagi. Tapi sudah kepalang tanggung, kami turun ke sungai untuk mengambil data. Sungai yang berarus kencang karena hujan deras itu pun berusaha kami taklukan. Dengan gagah berani maju menuju medan perang, gue membuka jala surber. Arusnya kencaaaang, belum lagi yang menyangkut di dalam jala itu ada macam-macam. Ada cincin, permen karet, softex, lendir-lendir apalah itu, kotoran-kotoran apalah itu, celana dalam bekas berwarna coklat, kain bekas, kulit telor, dhjl (dan hal jorok lainnya).

Ketika gue meraba-raba dasar sungai untuk mencari bentos, gue berharap dengan doa super kencang dari dalam hati gue, 'Ya Allah, janganlah hamba dipertemukan dengan Lele Kuning ya Allah. Sudah cukup hamba melihatnya keluar dari dubur hamba. Janganlah dia dinaikkan derajatnya hingga bisa hamba sentuh. Amien.'

Alhamdulillah, gue dan Dikta tidak dipertemukan dengan Lele Kuning (secara sadar, kalau gak sadar kelewat sih yaudahlah). Setelah perjuangan itu kami naik bagaikan pahlawan perang. Kami membawa oleh-oleh bagi teman-teman, yaitu cacing, permen karet, cacing, cacing lagi, kotoran, kulit kerang, kulit telor, ingus, kotoran ini, kotoran itu, kotoran ini dan itu. Baunya sangat dahsyat. LIHATLAH MANUSIA! KALIAN TELAH MENGOTORI SUNGAI! JANGAN BUANG SAMPAH KE SUNGAI! GROAAAR!

Hal berikutnya yang Gue dan Dikta Lakukan adalah bersih-bersih. Kami mencuci badan kami di rumah penduduk yang telah sudi menjadi tempat peluruhan kotoran maut kami. Walaupun masih gatal-gatal. Tapi paling tidak sudah berkurang kotorannya.

Pukul 5 sore kami bersiap-siap kembali ke kampus. Pukul setengah 7, kami semua sampai di kampus dengan selamat tapi kaki rasanya mau dicopot aja, diganti sama roda. Pegal sekali naik truk sapi berhimpit-himpitan dan ditambah cuaca sedang hujan. Untunglah ada terpal menutupi kami di truk. Tapi itu malah membuat suasana menjadi lebih pengap.

Begitulah pengalaman menarik Kulap Kecil kali ini. Kulap Besar akan diadakan 3 minggu lagi. Semoga dapat foto banyak sehingga bisa gue bagi-bagi. Adios!

Comments

  1. yaTUHAN. dunia kita memang jauh berbeda ya. semangat kau nak..

    ReplyDelete
  2. tabahlah,, sukur2 ga ketemu lele kuning, minggu lalu gw kulap ekwan ke pulau pramuka, nemu lele kuning di lautnya, akhirnya kita berjalan beriringan sm tu lele kuning di laut..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts