Cin(T)a



Hmmmm...

Gue bukan seorang yang sering menilai sebuah film, gue bukan seorang yang pernah buat film.  Tapi karena film adalah suatu karya seni dan gue adalah orang yang sangat suka dengan kebebasan orang dalam membuat suatu karya, baik foto, lukisan, gambar coretan, cerita pendek maupun panjang, lagu, puisi, film, apapun yang merupakan hasil cipta manusia. Gue ingin sekali-sekali menilai suatu film yang gue tonton dan gue tuangkan hasil pemikiran gue dalam bentuk tulisan. Apalagi film Cin(T)a ini sangat menarik dan dalam topiknya. Sebuah kejadian yang umum terjadi di Indonesia dewasa ini.

Awalnya gue merasa gue sedikit sok tahu tentang perfilman, karena jujur, gue nggak pernah buat film, gue belum pernah merasakan sulitnya memikirkan pencahayaan, ide cerita, casting artis, pengambilan sudut gambar, dan segala macam hal tentang cara membuat film. Film yang pernah gue buat hanyalah suatu video iseng yang direkam dengan kamera HP atau dengan webcam laptop.

Film Cin(T)a ini adalah film yang luar biasa membuat gue berpikir. Sebuah karya yang memancing gue untuk memahami segala maksud dan tujuan hal-hal yang ada di dalam karya tersebut. Sebagai orang awam gue mencoba menilai hal-hal teknis yang ada di dalam sebuah karya, tapi hal yang paling gue soroti dan paling gue nikmati dari suatu karya adalah tujuan dari pembuatan karya itu dan segala misteri yang terkandung di dalam penyajian karya itu. Film Cin(t)a ini membuat gue sangat penasaran.

Perasaan yang muncul setelah gue menonton film ini adalah takut dan kagum.

Ketika gue melihat trailer dari film ini, gue mendapatkan kesan bahwa film ini sarat makna. Ada suatu pesan yang ingin disampaikan sang pembuat cerita dengan dibuatnya film ini. Trailernya yang diisi dengan efek yang menarik, scoring yang hebat dari Homogenic, dan kalimat-kalimat bermakna dalam di film ini yang dikeluarkan pada trailernya membuat calon penonton tergugah untuk menyaksikan APA SIH YANG INGIN DITUNJUKAN?

Film ini dimulai dengan menunjukkan situasi seorang mahasiswa ITB yang baru masuk kuliah, datang dari salah satu suku dan agama yang ada di Indoneisa, membawa ribuan pola pikir dan prinsip yang dia pegang dalam hidupnya guna menapaki segala jalan yang ada di depannya. Dia bertemu dengan seorang mahasiswi tingkat akhir yang sedang dalam masalah guna menyelesaikan pendidikannya. Hubungan mereka berdua menjadi lebih dekat seiring beberapa situasi yang muncul di antara mereka. Keduanya memiliki buah pikiran yang berbeda, pertemuan antara kedua pola pikir itu memunculkan banyak kalimat-kalimat luar biasa dengan arti yang menyentil realita di dunia ini.

Pengambilan sudut gambar yang digunakan dalam film ini sangat menarik, bagi beberapa orang yang pernah menyaksikan film indie di LFM (Liga Film Mahasiswa, suatu organisasi di ITB yang memiliki minat besar pada film) akan melihat suatu sudut yang tidak asing. Sudut pengambilan gambar pada film ini beberapa menyerupai karya yang pernah gue tonton di film-film Indie. Kualitas gambarnya memang tidak sebanding dengan film-film sekelas 9 Naga, Janji Joni, ataupun Naga Bonar Jadi 2 ,tapi gambarnya tetap jelas terlihat. Cinematographynya keren. Gue suka komposisi gambar dan pencahayaannya. Peletakkan benda-benda di dalam ruangnya pun bagus. Sebuah film yang indah. Detail-detail yang diambil pun bagus, walaupun menurut gue terlalu banyak. 

Hal yang paling disayangkan dari film ini adalah suara. Suara di film ini menurut gue tergolong buruk. Banyak dialog-dialog yang menjadi tidak terdengar karena "bertabrakan" dengan backsound dari film ini. Pada beberapa adegan penting, suasananya menjadi rusak karena kekurangan dalam pengaturan suara.

Nah, hal yang paling ingin gue bahas adalah mengenai isi dari film ini. Cin(t)a ini sejauh yang gue tangkap, memiliki maksud untuk membuat penonton berpikir. Berpikir tentang hal yang sangat sensitif di dunia ini, yaitu perbedaan (terutama agama dan cinta). Kedua hal ini menjadi sangat sensitif karena perbedaan yang ada di dalam kedua hal tersebut seringkali menjadi penghalang dalam menjalani hubungan antar manusia. Pada film ini lebih berat ditunjukkan dengan hubungan cinta manusia yang memiliki perbedaan baik daerah asal, agama, pribadi, ekonomi, dan umur (dan tentu saja KELAMIN).

Usai menyaksikan film ini, hal yang pertama ingin gue soroti adalah acting (gue gak tau cara nulisnya, mudah-mudahan ngerti. Haha.) dari kedua pemain. Akan timpang terlihat bahwa pemeran Cina berperan lebih baik, cara bicaranya yang berapi-api, raut mukanya yang ekspresif, nada suaranya yang berbeda tergantung emosi dari kalimat tersebut, menunjukkan seolah Cina diperankan dengan sangat baik. Lain halnya dengan pemeran Annisa, suaranya yang bernada halus terus menerus, raut wajahnya yang cenderung kalem, bersahaja, namun di dalam wajah itu tersimpan banyak masalah, ekspresi wajahnya tidak begitu terlihat perbedaannya bila ia senang, marah, ataupun sedih.

Tapi datang suatu gagasan lain tentang acting dalam film ini di kepala gue. Gue jadi berpikir, apakah memang hanya seperti itulah yang diinginkan sutradaranya. Apakah memang sutradara itu tidak ingin pemainnya bermain dengan menunjukkan ekspresi yang luar biasa. Bila kita lihat, kedua orang pemain itu menunjukkan karakter dari suku yang diwakilkan. Cina mewakili keturunan Batak Cina yang berbicara berapi-api dan bernada tinggi, beragama kristen, dan berkemauan keras. Sedangkan Annisa mewakili wanita Jawa yang kalem dan cenderung lemah lembut, bicaranya halus, dan beragama Islam.

Bila sang sutradara ingin menunjukkan sebuah  film yang menitikberatkan pada isi dari sebuah film, bukan menonjolkan acting, visual effect, dan hal-hal lain. Maka sang sutradara ini berhasil. Gue melihat film ini sangat mewakili pesan yang ingin disampaikan. Perbedaan agama, suku, latar belakang keluarga, tingkat ekonomi, karakter, dan prinsip hidup, ditabrakan dengan cara mempertemukan 2 manusia bernama Cina dan Annisa ini. Tidak diperlukan akting yang luar biasa berapi-api bagi Annisa, karena Annisa di sini menunjukkan wanita Jawa. Akan aneh jika tiba-tiba dia ikut bertengkar dan keluar dari figur wanita Jawa yang lemah lembut. Cina di sini pun selalu menujukkan bahwa dia semangat dan berapi-api sekalipun pembicaraan mereka sedang bercanda ataupun sedih. Tidak pernah Cina menunjukkan bahwa dia lemah, sebagaimana figur orang Cina Batak yang sering kita lihat.

Jadi kalau ada suatu tingkatan dalam film ini, Isi ada di atas yang lainnya.

Hal yang paling gue takuti dari film ini adalah efeknya pada penonton. Film ini tergolong film yang menceritakan pola pikir manusia. Dimana beberapa manusia mencoba mendobrak adanya aturan Tuhan. Pernikahan beda agama, cinta beda agama, hal-hal tersebut adalah suatu masalah yang sangat kompleks. Pasti banyak yang berpikir bahwa manusia dipasangkan satu sama lain, tapi bagaimana bila pasangan kita ternyata beda agama? Walaupun sang sutradara tidak membenarsalahkan tentang cinta beda agama, tapi ini bisa menjadi titik dimana kita berpikir bahwa, hubungan seperti ini tidak masalah kok. Padahal kita sama-sama tahu ada aturan yang tidak membolehkan pernikahan beda agama. Sulit, film ini luar biasa kompleks. Tapi film ini gue acungi jempol. Keberanian dalam berkaryanya luar biasa. 

Kesimpulan gue terhadap Cin(T)a adalah sebuah film yang terbentuk dari beberapa short movies. Film ini masih kurang bila dikatakan film panjang. Bila kita memotong setiap scene dari film ini, kita bisa mendapatkan short movie berjumlah banyak dengan kualitas gambar yang bagus dan maksud yang jelas. Mungkin kepaduan antara satu sama lainnya masih agak kurang. Kurang memberi efek penasaran penonton untuk mengetahui kelanjutan dari satu kejadian ke kejadian berikutnya. 

Film ini lebih seperti film Indie (atau jangan-jangan memang film indie?) dengan makna yang dalam. Sammaria Simanjuntak telah berhasil "menoyor" isi kepala saya dengan adanya film Cin(T)a ini.
 
Luar biasa, Cin(T)a.

Matiinu Iman Ramadhan

NB : Kalau mau lihat official webnya Cin(T)a bisa diklik di sini http://godisadirector.com/

Comments

Post a Comment

Popular Posts