Jihad Nyamuk

Berhubung gue sedang hot banget sama nyamuk kebon dari halaman rumah gue ini, gue jadi teringat kisah dimana gue berjihad melawan nyamuk. Jihah gue kali ini bukan untuk membela kebenaran, menyelamatkan nenek2 yang akan menyebrang jalan, mencegah bom bunuh diri, atau hal-hal heroik lainnya.

Jihad gue kali ini adalah pertarungan gue dengan nyamuk untuk menjalankan kewajiban solat. Gue gak pernah lupa momen itu. Hari itu sore hari menjelang Magrib, gue ada acara di daerah situ. Kalau gak salah mau makan-makan bareng. Gue yang sedang kesambet entah apa memiliki niat yang kuat untuk solat Magrib di awal waktu. Untuk menuntaskan niat baik gue itu, gue menuju sebuah mushola yang memang sudah disiapkan untuk pengunjung di sekitar pantai itu. Musholanya bagus kok, bukan mushola yang bobrok dan asal bikin. Tempat wudhunya bagus dan terawat. Di bawah mushola itu ada sedikit rumput yang terpangkas dengan baik. Intinya, ini mushola bagus yang dibangun dengan niat bukan dengan iseng-iseng ngeliat lahan kosong dan berpikir daripada dijadiin tempat poop, mendingan bangun mushola aja.

Gue pun melakukan hal yang pada umumnya diilakukan oleh manusia bersepatu yang akan menunaikan solat, yaitu melepas sepatu dan kaus kaki. Gue berjalan ringan menuju tempat wudhu yang berada di bagian samping mushola. Mushola ini berbentuk seperti rumah panggung kecil. Jadi nanti ada tangga untuk ke tempat sholatnya. Setelah wudhu, gue menuju tempat sholat dan mengambil posisi. Kebetulan ada beberapa orang yang akan solat, sehingga solat dilaksanakan berjamaah.

Pada Rakaat pertama gue gak begitu sadar, bahwa dengan diamnya gue di satu shaf itu, gue menyerahkan diri gue menjadi lokasi pendaratan satu batalyon NYAMUK PANTAI. Gue gelisah, gue menggerakan kaki gue. Awalnya sedikit. Gue buat goyangan simpel, ringan, dan tidak menimbulkan curiga. Gue mulai gatal. Gue melihat banyak nyamuk berterbangan di bawah. Ya Allah, gue berpikir dan meyakinkan diri bahwa gue berdiri di atas mushola, bukan di atas hutan mangrove. Bahkan ketika sujud pun gw menghentak-hentakan kaki gue. Gatal, gue kayak bersepatu nyamuk. Banyak banget. Di rakaat kedua gue menyadari bahwa, bukan hanya kaki gue aja yang diserang, ternyata bapak2 yang menjadi imam dan makmum di sebelah gue juga kena. Mereka menggesekkan kaki satu sama lain untuk mengusir nyamuk yang ada di kaki mereka.

Solat kami pun menjadi sangat cepat. Sepertinya Bapak yang menjadi Imam menyadari bahwa nyawanya akan memendek kalau solat ini tidak dipercepat. Duduk Tahiyak akhir kamu udah gak konsen, udah mirip sama nari Saman. Loncat-loncat dikit. Tepuk kaki dikit lalu kami serempak berteriak, "Walaehaaa...ehaa...uwalaehaaa..." (yang ini bohong). Pokoknya udah solat plus-plus. Setelah Solat gue gak pikir panjang, langsung keluar dari mushola, cuci kaki dan pake sepatu.

Nyamuk sialan. Walaupun sekarang jumlahnya gak sebanyak waktu gue solat di Mushola pantai Ancol itu, tapi tetap saja menyebalkan. AARGH!


Salam TEPOK! PAK! POK!

Matiinu Iman Ramadhan

Comments

  1. inuu... di rumah gua juga banyak nyamuk !! sial gua ga bisa tidur sampe jam setgah 4 pagi !! baca blog gue dehh.. di fansofmickeymouse.blogspot.com heheheh oke oke..
    selamat berihad fi sabilillah..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts