Beberapa Wajah yang Saya Temukan dari Pinggir Jalan



Di siang hari yang terik Gue dan beberapa teman les fotografi gue diajak hunting kecil-kecilan oleh Mas Pri yang merupakan pengajar di kelas kami. Seminggu ini gue ikut kursus fotografi Basic Class untuk menambah pengetahuan dan kemampuan Gue dunia fotografi. Jalan Sarinah menjadi lokasi hunting kami karena lokasi Oktagon (tempat kursus Gue) terletak di Jalan Sarinah. Sekitar jam setengah 3, kami keluar kelas dan mencoba mempraktekan beberapa teori yang telah diajarkan di kelas. Suhu udara masih cukup panas dan Cahaya matahari sangat terang karena cuaca hari itu sangat cerah tiada awan yang menghalangi pancaran cahayanya.


Bapak ini Gue temukan sedang tidur di dekat pilar kotak yang tersusun dari batu bata merah. Perkiraan Gue dia adalah gelandangan pemungut sampah yang beroperasi di daerah situ. Saat gue melintas di dekatnya, sepertinya dia sedang beristirahat setelah seharian memungut sampah ataupun barang bekas yang dapat dia jual atau dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Kalau dipikir-pikir. Hidup dia pasti keras sekali. Hanya dengan tidur di trotoar beralaskan sampah yang dibungkur plastik hitam, dia bisa menikmati hangatnya cahaya mentari yang perlahan turun menuju ufuk barat. Selain itu semilir angin sore yang bercampur dengan polusi udara pun sudah membuat dirinya nyaman serasa berada di dalam rumah dengan AC.


Kenek Metromini ini bergaya begitu natural saat Gue mengabadikan posenya yang trendi. Sambil memegang palang besi di bagian atas pintu belakang bus, dia memperhatikan sekeliling sambil meneriakkan trayek perjalanan bus. Sesekali dia diam untuk menatap kejauhan sembari mencari penumpang. Kemeja coklat dan jeans yang tampaknya lama tidak dicuci itu menjadi seragam kerjanya. Dengan model rambut sedikit mengembang itu dia berpose menunjukkan bahwa dialah keneknya, dialah asisten dari supir bus ini. Dari pagi hingga malam dia akan meneriakkan trayek yang sama berulang kali hanya untuk menghidupi diri dan keluarganya. Pemandangan ibukota adalah hidupnya, asap di udara adalah harum kamarnya, suara bising adalah musik bagi kehidupannya. Semua itu sudah biasa.


"Koran Pak, koran!", teriak Bapak tua ini. Begitulah kerjanya, menunggu lampu merah menyala, dia akan menghampiri setiap kendaraan sambil menunjukkan headline dari majalah atau koran yang dia bawa. Tabloid remaja dan ibu-ibu pun berada di dekapannya guna memberi pelanggannya pilihan bahan bacaan. Koran, majalah, dan tabloid menjadikan dia etalase. Menjadikan dirinya yang dibalut kaos seadanya dilengkapi rompi biru hasil pemberian sponsor salah satu koran suatu wahana yang menyebabkan semua media cetak tersebut bisa dibawa ke masyarakat. Diberi kesempatan untuk tampil walaupun tidak punya alat gerak, diketahui masyarakat walaupun mereka tidak berteriak dan mengatakan, "Bacalah Aku! Bacalah Aku!".

"Hmmm, semua orang pasti menghadapi debu di jalanan". Itulah yang pertama kali terpikir dari para penjual alat pembersih ini. Debu jalanan memang menjadi masalah bagi setiap orang. Dari sinilah muncul penjual kemoceng ini. Mereka mencoba menawarkan solusi bagi para supir di jalanan untuk membersihkan debu yang menempel di seluruh bagian mobil. Tidak jauh dari para penjual lain yang berada di jalan itu. Mereka menunggu lampu merah menyala. Menunggu warna yang memberi perintah bagi para pengendara untuk menekan tombol rem guna menghentikan kendaraan mereka. Panas terik mereka kalahkan dengan topi. Puluhan tangan memberi tanda menolak sudah menjadi suatu fenomena biasa. Hanya berharap kemoceng ini bisa terjual, bukan bertujuan membantu pembersihan mobil. Tapi untuk mengisi dompetnya yang penuh debu dengan uang. Uang yang tidak akan mereka sapu bersih dengan kemoceng.

Ibu ini menjadi salah satu pemandangan aneh ketika kita melihat semua orang yang lalu lalang di jalan ini menggunakan mobil, motor, bajaj, bus, atau sepeda. Ibu ini memilih untuk berjalan kaki di siang yang panas ini. Terlihat dari wajahnya ibu ini berpergian cukup jauh. Keringat dan minyak di wajahnya menunjukkan tubuhnya melakukan penyesuaian terhadap suhu Jakarta yang panas dan kotoran yang berterbangan di jalanan. Kerudung merahnya menjadi warna yang paling tertangkap mata dibandingkan tasnya yang hitam dan baju coklatnya yang diakhiri celana abu-abu sebagai penutup bagian bawah. Entah ke mana tujuannya, tapi sepertinya masih jauh. Padahal Jakarta panas. Tapi Ibu ini masih berjalan. Gue percaya, apapun yang dia lakukan pasti bukan demi kepentingan dirinya sendiri.

Comments

Popular Posts