Ada apa sih dengan Borromeus dan gue?

Baik, another story about Borromeus...

Sore itu hari kamis. Gue memutuskan untuk pergi memeriksakan kuku gue yang dicurigai terkena suatu makhluk hidup berukuran mikroskopis yang dapat mengikis habis kuku gue. Penyakit yang aneh memang. Kenapa harus kuku. Kenapa bukan bakteri pengikis jerawat di muka aja. Dengan adanya penyakit pengikis jerawat, orang-orang pasti minte ketularan sama gue.

Gue ke Borromeus tidak sendiri, tapi serombongan kloter. Oke, bohong itu...Gue pergi ditemani Amel (lagi-lagi). Amel tampaknya akan menjadi spesialis antar orang ke Borromeus, dia sudah menemani gue dikala diare, Finda dikala kena DBD, dan Desy dikala Ia (Desy) sesak napas.

Gue janjian (ciee..janjian) sama dokternya (dokter gue) jam 7 malam. Gue menuju ruang 11 yang ternyata letaknya sangan familiar dengan ruangan saat gue diperiksa akibat diare. Mungkin takdir gue untuk melanglang buana di sekitar situ. Ketika gue dan Amel duduk di depan ruangan dokter, Gue terpana memandang nama Dokter itu

Dr. Cankerty Djatmojo, SpKK

Kenapa harus aneh begitu? Gue mau ke dokter kulit dan kelamin, kenapa dokter Gue namanya bawa-bawa penyakit kanker. Gue jadi mengkhawatirkan bentuk dokter itu. Gue dan Amel menghabiskan waktu sekitar setengah jam menunggu si Ibu Dokter yang daritadi katanya ada di Dago bawah.

Akhirnya Dokter yang ditunggu datang. Dokter itu tidak tampak seperti dokter, dia lebih mirip Ibu-ibu setengah baya yang sering arisan di Starbucks dan bergosip ria sambil pamer menantu. Tak lama suster asisten sang Dokter memanggil, "Matiiru!"
...
"Pak Matiruu!"

Nama orang yang aneh, sejak kapan ada orang namanya Matiru? Pasti orangnya freak dan sok-sok Jepang. Pasti panggilannya di negeri sana Matiru-chan. Lalu karena Gue cukup cerdas, Gue bertanya, "Sus, mungkin maksudnya Matiinu?"
"Oh, iya sepertinya Matiinu ya?"
"Iya, sus. Matiinu."
"Ooh, yasudah. Matiinu silakan masuk."
Kapan sih orang-orang di Borromeus memanggil gue dengan benar.

Setelah diperiksa oleh dokter Canker (gue nggak tau harus panggil apa). Gue membawa surat hasil diagnosa pada suster dan menunggu di depan meja administrasi. Gue merasa pede dengan membawa uang 100ribu. Karena jaman gue kena diare 100ribu saja sudah surplus. Tak lama kemudian terdengar panggilan untuk Gue. Kali ini penjaga counternya memanggil nama gue dengan benar.

Gue menghampiri meja kasir dan bapak penjaganya berkata, "Biayanya 135ribu."
Gue bengong.
Gue shock.
Gue melihat Amel yang melihat gue dengan tampang linglung.
"Mel, Ehm...boleh pinjem 35ribu nggak. Nanti Gue ganti."

FAAAK! gue menjerit dalam hati. Dokter itu melihat kuku gue dengan kaca pembesar, kemudian dia dapat 135ribu. AUM!

Resep obat diberikan pada gue. Gue bergegas menuju apotek untuk membeli obat. Ah, gue masih punya 50ribu. Cukuplan untuk beli obat. Setelah menunggu 15 menit, datanglah panggilan untuk Gue.
"Matiinu I..man..."
"Saya Pak!" (Gue nggak mengacungkan tangan, percaya sama gue)
"Biaya obatnya 238ribu."
"..."
"..."
"238ribu pak?", gue bertanya memelas.
"Iya Mas."
"Ehm, boleh saya ambil uang dulu?"
"Di mana mas?"
"Di kolong kasur saya, nggaklah...di ATM."
"Gini mas, saya takutnya Banknya udah mau tutup, jadi mas beli saja di apotek UGD."

Gue berjalan gontai sama Amel yang sudah menahan tawanya daritadi. Gue menuju ATM dan mengambil 500ribu. MAMPUS NIH! KALO ADA LEBIH-LEBIH LAGI PASTI CUKUP.

Gue menuju apotek UGD. Menyerahkan resep. Menunggu. Tak lama datang kembali mbak-mbak penjaga apotek, "Mas, beli di atas aja. Di atas ada racikannya."
Gue bingung. Tadi katanya suruh ke sini. Tapi kok dioper lagi ke sana. Yasudah, gue mengikuti saran mbak-mbak apoteker untuk ke atas lagi.

Sampai di Apotek sebelumnya, Gue serahkan resep gue sambil berkata, "Pak, saya jadi deh bayar obat tadi."
"Wah, mas...coba saya cek apa banknya masih buka ya."
Gue menunggu.
"Mas, cepetan ke kasir. Takutnya banknya udah tutup."

Gue langsung menuju kasir tempat administrasi dan menyerahkan uang sebesar 238ribu itu.
Gue bertanya pada Bapak penjaga kasirnya mengenai laboraturium. Karena kuku gue harus diperiksa di lab.
"Ooh, coba saja mas ke UGD. Di sana ada Labnya kalau mau cek malam."

Baiklah, setelah gue membayar obat, gue langsung ambil obatnya (nunggu lagi 15 menit, obatnya racikan khusus) dan ngacir ke UGD sama Amel. Makasih Mel, udah mau menemani gue menghadapi keabsurdan Borromeus.

Sesampainya gue di Borromeus, gue bertanya pada satpam penjaga pintu UGD mengenai Laboratutium.
Satpam itu menjawab, "Wah, Mas...kalo lab mah...Mas masuk lagi ke dalam. Nanti sampe dalam belok kanan. Ada Lab di sana."
"...ke dalam Pak?"
"iya, di dalam."
"makasih Pak.", Gue melangkah gontai menuju ke dalam rumah sakit.

Di dalam gue bertanya lagi pada satpam di dekat lift. Di daerah persimpangan yang katanya ada belokan ke Lab. Lalu satpam itu menunjuk ke arah pintu gelap yang berada di samping pintu menuju keluar. Gue mikir. Apakah satpam itu mau mengusir gue? Apakah dia kira gue mas-mas pengantar obat? Padahal gue bawa Amel di samping gue.

Gue dan Amel berjalan menuju arah 2 pintu itu. Pintu yang satu lagi menuju keluar, ke bagian belakang Borromeus. Pintu di sebelahnya menuju suatu ruangan yang terlihat dari luar seperti ruangan baru yang masih berantakan. Gue bingung, Amel bingung, kita bingung. Melihat kebingungan kami berdua, Satpam menghampiri dan membukakan pintu menuju ruang yang berantakan itu.

Gue dan Amel masuk ke dalam ruangan itu dan mendapati suatu ruangan yang sepi, rusak dan belum rapi. Gue sama Amel lurus menghampiri pintu di seberang dan melihat tulisn Bank darah dilengkapi suasana ruangan yang horror ini. Kalau sampai ada Zombie di sini gue pasti percaya. Serius. Tempat itu terlalu seram. Ternyata benar, itu pintu Lab. Gue mengetuk pintunya dan dibukakan pintu oleh mas-mas berwajah bersahabat.

Gue dan Amel dipersilahkan duduk menunggu sementara rujukan lab gue diproses. Gue dan Amel menunggu sambil ngobrol tidak jelas ke sana ke mari. Akan tetapi, kok saya tidak dilayani ya. Daritadi ada sekitar pasien datang ke lab dan langsung dilayani. Kenapa giliran gue tidak dilayani. Apakah mereka berpikir bahwa penyakit gue ini penyakit primitif yang hanya ada di desa terpencil di Afrika sana? Apakah mereka pikir penyakit gue ini kastanya lebih hina daripada penyakit kapalan sampai-sampai nggak dilayani? Gue mulai kalut dan akhirnya bertanya pada Mas-mas lab.
"Mas, saya jadi gimana ya?"
"Oh, sebentar Mas.."
Gue menunggu.
"Mas, Matiinu."
"Ya.", Gue semangat. Yes! Akhirnya gue dilayanin.
"Mas, besok datang lagi ya ke lab di lantai 2. Ini mesti ada kultur dulu. Jadi lebih baik di Lab atas."
"..."
"Besok saja ya ke sini lagi."
"Makasih Mas."

Jadi daritadi gue sama Amel nunggu itu buat apa. Gue keluar dari lab itu mendapat surat rujukan lab untuk besok. Amel yang sudah kelaparan, mengajak gue untuk makan dulu sambil belajar untuk ujian Biokimia.

Sesampainya di kosan, Gue membuka obat gue itu. Tenryata obat yang mahal itu adalah sebuah KUTEK! Yak saudara-saudara...saya berhasil membeli kutek paling mahal yang pernah dibeli laki-laki. 200ribu untuk kutek. Dasar penyakit Kuku Sialaaan!


Comments

  1. ckckck nu, beli kutek aja repot.
    hahaha

    jadi inget pas diopname di borme kemarin2, ternyata penyakitnya panas biasa aja.

    hahaha, suka lebay memang borme, tapi biar sehat sih ya gapapa..
    ^^

    ReplyDelete
  2. kak, rumahsakit ya itu? mirip RSPC ya? belum diapa"in juga dibilang sakit parah hahahaha

    ReplyDelete
  3. hahahaha, mana aku tahuu..itu si Bor bor mah ada dendaaam

    ReplyDelete
  4. gue pernah masuk UGDnya boromeus loh

    ReplyDelete
  5. Wah baru baca reviewnya. Dokter cankerty ini gw blg kagak bener deh.. dateng telat bgt, pasien ditemuin ga nyampe 5 menit. Cm diliat kendalanya dr kaca pembesar. Di tanya sesuatu, ga mau jawab. Maunya cm tulis resep aja. Gw akhirnya minta surat rujukan periksa darah dan nanya baiknya apa saja yg diperiksa? Ehh dia blg, nanti di surat ini ada semua. Dokter kok ga mau jelasin pasien ya? Obat jg kan yg minum itu orang, boleh donk nanya apa itu.
    Tiba saat nya bayar. Jeng jenggg 265ribu rupiah sajaaa buat ketemu nenek menyebalkan ga nyampe 5 menit yg tidak menjawab pertanyaan ku dan malah marah2in krn saya mau nunjukin sesuatu di HP saya. Org aneh. Not recommended deh pokoknya. Kapok.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts