Memori Kosan SMA 8 Jakarta


Anak kosan 2007 Plus para penebengnya


Bangunan itu tidak terlihat selayaknya suatu rumah kosan. Dari luar yang terlihat adalah seperti gudang dengan beberapa pintu kayu berlantai 2. Berandanya dibatasi oleh kayu yang sederhana namun tetap berusaha dibentuk rapi. Bangunan itu sederhana, namun di sanalah kami menutup cerita SMA kami.

Awalnya adalah ajakan dari beberapa teman yang mencari kosan guna belajar menghadapi ujian akhir dan SPMB. Saya yang berniat untuk mencari tempat kosan di tahun ketiga pun akhirnya menyetujui tempat yang pada awalnya saya kira rumah penduduk biasa itu. Rumah kosan itu dihimpit oleh toko-toko tukang kayu pembuat furniture di dekat SMAN 8 Jakarta. Suara ramai dari alat-alat yang memotong dan mengikis kayu menjadi bisik-bisik tetangga yang setiap hari kami dengar. Tidak ideal memang jika dijadikan tempat belajar, tetapi itu hanya pada siang hari dan lagipula kami tidak peduli dengan keadaan itu. Harga yang murah, lokasi dekat sekolah dan sekelompok teman belajarlah yang menjadi motivasi kami untuk tinggal di situ. Kamar saya hanya berharga 500 ribu sebulan dibagi 2, hal itu karena saya tinggal dengan seorang teman saya yang bernama Dexanda Pravian.

Anggota kosan itu adalah Saya, Dexanda Pravian, Arlingga, Rendra, Ndaru Muchtarom, Anton Dharma Saputra, Ananta Bonar, dan Anggiat Jonathan Amazia. Pada akhir-akhir tahun ditambah 2 anggota yang bernama Retno Gilang Lantika dan Bunda Icha. Selain itu ada pula anggota kosan berbeda yang menjadi sahabat seperjalanan kami, yaitu Edo J. Namalo dan Gorby Gandhianto. 

Kosan itu jarang sekali sepi. Karena lokasinya yang dekat sekolah, beberapa teman kami sering singgah di sana guna bermain atau sekedar membuang waktunya. Hiburan di kosan itu tidak banyak jika dipikir. Laptop yang ada hanyalah laptop miliki Anton, awalnya kami bahkan tidak punya TV. Tetapi atas kebaikan sahabat kami yang bernama Indra Pratama, kami memiliki TV kecil untuk menghibur kami. TV itu tidak dipakai di rumahnya. Oleh karena itu, dia meminjamkannya pada kami selama kami tinggal di sana. Tanpa adanya kedua barang itu memang rasanya hambar, tetapi yang membuat saya tetap senang di sana adalah karena adanya MEREKA. 

Mereka yang saya maksud adalah teman-teman seperjuangan saya di kosan itu. Kami bukanlah seorang pelajar ambisius yang melupakan hidup senang guna mencapai tujuan kami, yaitu masuk universitas negeri. Kami tetap bermain, mencari pasangan, cabut sekolah, jalan ke Mall, dan kegiatan lainnya. Alhamdulillah, kami semua berhasil mendapatkan Unversitas Negeri.

Di kosan itu saya merasa memiliki keluarga, keluarga kecil sederhana tanpa kepala keluarga ataupun anak. Keluarga yang senasib dan memiliki tujuan yang sama. Keluarga yang saling mendukung satu sama lain. Keluarga itulah yang menyelamatkan saya di tahun terakhir.

Tidak bisa dihindari, dalam kehidupan persahabatan pastilah tidak mungkin tidak ada masalah. Masalah yang datang kadang berupa masalah remeh yang bisa dilupakan dalam waktu 5 menit. Namun adapula masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan cepat atau bahkan masalah itu tidak diutarakan. Bahkan kami memilik suatu masalah yang menyebabkan kami menjadi sekelompok detektif yang akan menyelesaikan suatu masalah kosan. Masalah itu diselesaikan dalam waktu yang cukup lama, dengan penyelidikan, dan rencana-rencana. Kami menyatukan pikiran untuk masalah itu, masalah yang untuk kami adalah masalah serius. Masalah yang menyangkut material dan persahabatan kami.

Banjir di tahun 2007 juga menjadi momen besar untuk kami. Malam itu kami menjadi anak kosan di SMA 8 yang sejati. Di hari datangnya banjir, kami tidak pulang ke rumah. Perkiraan kami, banjir ini hanyalah sekedar genangan sementara yang pada pagi harinya akan hilang. Tetapi, setelah kami menunggu satu malam, yang terjadi adalah penambahan ketinggian air di SMA 8 dan sekitarnya. Beruntung bagi kami karena kosan kami adalah daerah tertinggi di sekitar situ. Bila kosan kami sudah digenangi air, maka SMA 8 resmi menjadi kolam lumpur. Malam itu kami tidur tanpa lampu, karena listrik sudah dimatikan oleh PLN setempat. Laptop yang tadinya menjadi penerangan terakhir kamipun sudah mati. Alhasil kami tidur bermodalkan 1 buah lilin di dalam 1 kamar. Pada pagi harinya, kami mendapati bahwa kosan kami sudah digenangi air setinggi mata kaki di lantai 1. Hal itu pertanda kami harus pulang. Karena air bisa saja menjadi lebih tinggi lagi dan kami malah sulit pulang. Kami menyiapkan barang-barang penting kami, kemudian kami masukan alat elektronik ke dalam plastik. Motor saya, saya sumbat knalpotnya dan saya lepas akinya. Hal ini saya lakukan untuk menghindari kerusakan yang lebih parah.

Setelah kami siap, kami harus menembus aliran air di depan kosan kami. Aliran itu cukup deras sehingga tidak memungkinkan kami untuk berjalan menuju sekolah, padahal jalan untuk pulang harus menuju ke arah sekolah. Untuk menuju sekolah kami harus berbelok ke kanan setelah keluar gerbang kosan. Akhirnya kami mengambil keputusan untuk memanjat tembok Depo kereta api di hadapan gerbang kosan kami. Kami menyebrang jalan kemudian memanjat tembok tersebut. Sambil mengangkat tas, kami berjalan melewati genangan air yang berwarna coklat itu. Setelah memanjat tembok depo kereta api, kami berhasil menyelamatkan diri kami dan mengungsi di rumah teman kami yang bernama Audi Hakim. 

Setiap kali saya mengingat momen-momen dimana kami keluar makan bersama, menunggu teman kami yang masih di lantai 2 untuk pergi, menunggu giliran mandi, dan kenangan-kenangan lainnya. Saya merasa di sanalah dan saat itulah saya menemukan teman seperjalanan saya di akhir masa SMA. Mereka yang saling mengingatkan satu sama lain untuk belajar, mengingatkan satu sama lain untuk bermain, menenangkan bila ada salah satu dari kami bermasalah, dan... banyak lagi. Masa-masa itu menjadi momen yang indah dalam hidup saya. Andai ada waktu-waktu yang ingin saya ulangi lagi di kehidupan saya, itulah salah satu waktunya. Ketika kami tinggal di sana, hidup di sana, belajar, bermain, dan berjuang.

Terima kasih kawan-kawan...

Dexan Lingga Rendra Bonar Anton Ndaru Jo Gorby Edo Retno Bunda

dan Cossa (si tukang nebeng nginap)
 

Comments

  1. Hahaha jaman SMA ya.. Gw juga pernah terperangkap banjir hehe

    ReplyDelete
  2. hehehe, kenangan putih-abu..
    katanya sih masa yang paling indah,

    untung di rumah belum pernah banjir parah kayak gitu, jadi inget iklan salah satu merek rokok yang loncat dari jendela lantai dua, terus ada perahu pemda yang ngasih pengumuman " Perhatian-perhatian banjir telah datang"...

    jangan-jangan kalian bintang iklannya lagi ?
    hahaha

    ReplyDelete
  3. Hahahaha, hampiiir...memang gokil itu banjir. Kalau kena banjir, baru deh merasa dilantik jadi anak 8. Hehehehe.

    Iya, fotonya kurang nih. Jaman dulu bukan gw tukang foto2 di kosan.

    ReplyDelete
  4. hi, nu! assalamu'alaykum. ingat mulki tidakk? how's life? lagi kangen yah sama dunia sma yang setengah anak2 setengah dewasa itu.. heheh. kalo ketemu temen2, salam yah..

    kalo sempat, mampir2 atuh ke "rumah" mulki. keep writing!

    ReplyDelete
  5. yang bodoh adalah ketika air sudah menggenang di lapangan tapi kita engga disuruh pulang juga. hahaha

    ReplyDelete
  6. Walaikumsalam Mulkiii...Apa kabar? Hahaha. Iya, lagi mengenang masa lalu. Biasalah. Kenangan masa kosan yang sulit dilupakan. hehehehe. Gimana Ki hidup ini?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts