Kuliah Lapangan @ Tangkuban Perahu - Taman Jayagiri

Menulis di pagi hari ketika tidak ada kuliah memang salah satu hal yang sangat menyenangkan. Pagi ini saya sangat segar karena banyak tidur. Ya, saya tidur dari jam 8 malam. Kemudian terbangun sebentar pada pukul 11 malam. Tak lama kemudian saya pun terlelap kembali hingga jam 5.15 pagi. 

Mengapa saya menjadi begitu lelah? Jawabannya adalah karena kemarin saya baru saja melaksanakan kegiatan wajib di kampus yang bernama kulap kampus. Kulap (kuliah lapangan) 
adalah kegiatan wajib di SITH. Anak biologi  tanpa kulap tampaknya memang aneh ya. Oleh karena itu kita diwajibkan mengikuti kegiatan ini. 
Kegiatan kulap kali ini dilaksanakan di Tangkuban perahu. Kami mempelajari keanekaragaman tumbuhan yang berada di dekat kawah. Mata kuliah yang mengharuskan kami melakukan kegiatan ini adalah mata kuliah biosistematik. Biosistematik adalah mata kuliah tentang pengidentifikasian keanekaragaman hayati di suatu wilayah. Seperti namanya, kita harus mengetahui nama dan ciri-ciri dari makhluk hidup di wilayah itu. Mengidentifikasi tidak semudah ketika kita mengetahui hasilnya. Kita sering melihat hasil dari identifikasi suatu makhluk hidup di majalah, buku, atau dari internet dan menganggap bahwa pengidentifikasian itu biasa. Tapi setelah dirasa...well, sulit. Haha.

Saya berangkat ke Tangkuban Perahu bersama teman sekelompok saya -- Kak tejo, Nadia, dan Kristina -- menggunakan motor. Kak Tejo berangkat bersama Kristina dan saya bersama Nadia. Perjalanan dimulai pada pagi yang cerah sekitar pukul 06.30 setelah kami sarapan nasi kuning di dekat kampus. Jalur yang kami ambil adalah lewat jalan Juanda (biasa disebut jalan Dago). Kalau kita bayangkan bersama, Dago dan Lembang itu seperti 2 titik berselebalahan agak jauh yang disambung oleh garis lereng gunung. Jadi kami melewati lereng gunung, naik turun, kadang jalannya jelek, kadang jalannya bagus. Saya sempat terkesima setelah melewati suatu tanjakan dan saya melihat pemandangan yang luar biasa. Saya melihat hamparah kebun sayur-sayuran yang hijau, beberapa  tanaman ditutupi oleh plastik--saya belum tahu gunanya--dan kota Bandung terlihat dari sini. Perjalanan cukup menyenangkan karena cuaca yang cerah meskipun perjalanan ini memberitahu saya bahwa motor saya ini sudah tidak dalam kondisi prima lagi, motor ini seringkali kesulitan menghadapi tanjakan yang curam. Saya menjadi sedikit kasihan dengan motor yang penuh kenangan itu.

Saya sampai di Lembang kurang leblih pukul 07.20. Kami memarkir motor di Masjid Raya Lembang di dekat alun-alun Lembang. Dengan berbagai doa untuk motor kami, pergilah kami menuju Tangkuban Perahu dengan angkot kuning bertuliskan cikole atau entahlah apa itu. Setelah membayar ongkos sebesar Rp.4000/orang kami turun di depan pintu masuk taman wisata Gunung Tangkuban Perahu. Awalnya kami disarankan berjalan saja ke dalam oleh seorang bapak-bapak yang membantu kami di alun-alun. Tetapi karena kami masih memiliki otak yang lengkap dan waktu sudah menunjukkan pukul 07.35, kami pun membayar angkot untuk mengantarkan kami ke Kawah Ratu.

Sesampainya di atas, kami adalah kelompok terakhir yang sampai di sana. Kelompok yang lain telah berkumpul semua. Tak lama setelah kami sampai, acara dibuka oleh Kak Angga. Kami dibagi dalam 3 kelompok. Saya termasuk dalam kelompok kedua yang dipimpin oleh Kang Ezak. Perjalanan dimulai dari sekitar Kawah Ratu. Kang Ezak menjelaskan tanaman-tanaman yang menjadi ciri khas tanaman di sekitar kawah. Salah satu tanaman yang saya ingat adalah Paku Kawah. Sepanjang perjalan pengidentifikasian itu kami mencatat sambil bercanda. Suasana begitu santai dan menyenangkan. Meskipun tidak semuanya dalam kondisi prima. Teman saya Eno dan Hadian sedang dilanda penyakit. Untunglah mereka bisa mengikuti kegiatan ini sampai akhir.

Setelah mengidentifikasi di jalan utama, kami memasuki hutan untuk menuju Jayagiri. Kami memang datang dari jalan utama Tangkuban Perahu, tapi kami keluar dari Taman Jayagiri di kota Lembang. Cukup jauh memang tapi sangat menyenangkan. Hutan itu memang bukan hutan yang sangat liar karena sudah ada bekas penjelajahan manusia di sepanjang jalan setapak. 

Setelah berjalan beberapa jam, akhirnya kami beristirahat makan siang. Tempat kami makan siang rupanya tempat peristirahatan para motorcrosser. Hal ini ditunjukkan dengan adanya warung dan kedatangan rombongan motorcrosser. Saat mereka datang, terdengar suara menderum dari jauh. Suaranya cukup mengganggu namun terlihat keren saat mereka melewati tempat duduk kami. Mereka terdiri dari sekitar 20an motor. Ada yang mengenakan baju pelindung lengkap, ada yang hanya sekedarnya. 


Memanjat Pohon serasa pulang ke rumah

Waktu makan siang sudah habis, kami melanjutkan perjalanan menuju Jayagiri. Perjalanan menuju Jayagiri memiliki pemandangan yang lebih beragam sehingga perjalanan ini lebih menyenangkan. Namun perjalanan ini ditambah dengan adanya awan gelap menggantung di atas kepala kami. Pertanda hujan akan datang. Kamu semua mengeluarkan ponco kami. Ponco adalah salah satu alat wajib yang dibawa untuk kuliah lapangan. Karena ponco dapat melindungi kita dari berbagai kondisi tidak menyenangkan, hujan misalnya (ponco kan memang buat dipakai saat hujan). Di tengah perjalanan menuju Jayagiri, di sekitar padang rumput kecil, saya mengeluarkan ponco saya yang legendaris. Ponco ini adalah hasil pinjaman dari kakak kosan saya.


Penggunaan Ponco BARONGSAI


Siap melakukan BARONGSAI PONCO

Ponco maut bertipe barongsai ini dikenakan oleh saya dan Astrid Hapsari Ningrum. Kami berdua bagaikan truk gandeng beda muatan. Tapi dengan adanya ponco maut ini, kami menjadi KERING! Entah siapa yang menemukan ponco ini. Tapi ini adalah salah satu masterpiece di dunia ini. Sangat-sangat inovatif. Untunglah tidak ada musik-musik tiongkok saat itu, karena ada kemungkinan kami bergoyang dan meloncat-loncat sambil menyemburkan api bila mendengar musik seperti itu.

Perjalanan kami lanjutkan menuju Jayagiri. Kang Ezak sudah tidak mendeskripsikan lagi tanaman-tanaman yang ada di sekitar kita karena hujan cukup membuat kita basah. Setiap kali saya melangkah dan melihat sekitar, saya menyadari bahwa kami ada di hutan pinus. Sepanjang mata memandang hanya ada pohon pinus. Hujan yang rintik-rintik dan tanah basah menemani perjalanan kami. Jalan setapak yang kami lalui seringkali dihiasi dengan akar-akar pohon yang melintang, lubang-lubang, dan genangan air. Saya dan Acied meloncat berirama seperti di film kartun putri salju dan tujuh kurcaci. Sayang tidak ada backsoundnya.

Saat di tengah jalan menuju Jayagiri, di hutan pinus, tiba-tiba ada rombongan mountain bikers melewati jalan setapak ini. Kami harus memberi jalan pada mereka karena mereka datang dengan kecepatan tinggi. Setiap ada rombongan lewat, saya dan Astrid harus minggir entak ke kiri atau ke kanan. Melihat rombongan itu, saya jadi ingin mencoba olahraga ekstrim tersebut. Naik sepeda ke atas, kemudian melewati hutan dan turun menghadapi jalanan yang tidak bersahabat.

Setelah melewati hutan pinus, kami akhirnya sampai di pintu keluar. Di pintu keluar kami disambut oleh anak-anak lain yang sudah sampai di sana. Beberapa sedang menikmati minuman hangat, ada pula yang sedang bercakap-cakap. Saat sampai dibawah, saya menyadari bahwa dari mulut saya mengeluarkan asap. Bukan karena asap tapi karena udara cukup dingin sehingga uap air dari mulut pun terlihat.

Sampai di sini kelompok saya berpisah dengan anak-anak lainnya. Karena kami harus mengambil motor kami di masjid raya Lembang. Saya dan kang Tejo melaksanakan solat Ashar dulu kemudian kami berangkat pulang. Kami pulang lewat jalur yang berbeda dari jalur keberangkatan. Kami melewati jalur menuju Setiabudi.

Saat melewati batas kabupaten kita Bandung, kami melewati antrian kemacetan mobil-mobil yang menuju Bandung. Antrian itu berlanjut sampai ke terminal Ledeng yang menjadi titik pusatnya. Di sana ada pertemuan 3 jalur lalu lintas, menuju Bandung, dari Bandung ke Lembang, dan dari suatu tempat menuju Bandung. Sebenarnya ada jalur keempat, jalur angkot sinting menyelak jalan menuju terminal. Di depan UPI saya melintas menyusul motor di kiri saya. Saat menyusul, dari arah berlawanan ada motor vespa biru yang dinaiki pria dan wanita mau menyusul pada jalur yang berlawanan. Sekejap saya mendengar teriakan dari penumpang wanitanya. Kemudian ada tabrakan yang terjadi tepat di belakang saya. Ternyata di belakang saya ada motor yang ingin menyalip motor saya tetapi malah bertabrakan dengan motor vespa biru tersebut. Ingin menolong tetapi kami sudah terlalu jauh. Akhirnya kami lanjutkan perjalanan menuju rumah. Setelah mengantarkan Nadia ke kosannya, saya menuju kosan saya dilanjutkan dengan mencuci sepatu satu-satunya yang kotor oleh tanah.

Begitulah cerita Kuliah Lapangan pertama di tahun kedua saya. Semoga menjadi inspirasi untuk orang-orang lain yang ingin merasakan rasanya Kuliah Lapangan. Menjadi semangat untuk anak Biologi lainnya juga. Salam...

NB : Di Kulap ini, ada teman saya yang membunuh satu-satunya spesies bunga di lokasi ini. Bunganya jarang ada. Hehehehe.

Comments

  1. Hihihihihii!

    Iyaaa kulapnya menyenangkaan!!
    Ponco legendaris ituu. menyelamatkan dari kehujanan dan kelicinann. hahahaaa.

    tapi bukan kaya putri salju tauu!! kaya mario bross! hihihi :P . jalannya jelek banget..licin.. bolongg. tapi karena PONCO BARONGSAI!

    kita jadi keriing. cekataaan. lincaah.atraktiff *apa sih*
    dan yang pasti pas orang2 kedinginan kita malah keringetan heboh
    -->1.. 2.. 3.. loncaaat!
    -->liciin! tap tap tap! set set set!

    hahahaaa

    ReplyDelete
  2. Hahahahha! dasar anak aneh kau astriiid. hahahaha

    ReplyDelete
  3. aku penasaran sama siapa yang nginjek bunga apa itu. hehehehe
    dasar kalian anak bapak pandaaaaaa! hihih

    ReplyDelete
  4. hahahaha, anak bapak panda! hehehehehe. Ah, rahasiaaaa...

    ReplyDelete
  5. hai, gw juga alumni SITH.
    pengalaman lo di tangkuban sama banget kayak gw dulu! hujan juga!
    hahaha,,,
    jadi inget dulu!
    thx for the blog. nice work!

    ReplyDelete
  6. hooo, kakak alumni tahun berapa? hehheh. wah, keren loh itu. Saya senang sekali kulap waktu itu dan tentu saja kurang menyukai laporannya. hehehehe.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts