RUMAH dan ORANG-ORANG DI DALAMNYA

Meninggalkan rumah untuk suatu keperluan memang berbeda, apalagi bila kita pergi berhari-hari bahkan berbulan-bulan di tempat lain. Saya bisa dibilang perantau dari Jakarta yang sedang mengembara ke kota Bandung untuk mencari ilmu. Bila selama ini kita banyak melihat perantau yang datang ke Jakarta, lain halnya dengan mahasiswa di Bandung. Kebanyakan dari mereka adalah perantau dari Jakarta.
Saya orang yang tergolong cuek dalam masalah dengan rumah atau keluarga. Jika semuanya dalam keadaan baik-baik saja, saya tidak akan banyak menghubungi mereka. Baik-baik saja dalam kalimat sebelumnya mengacu pada kondisi saya atau mereka. Menariknya adalah beberapa hari ini saya sering sekali dihubungi oleh orang rumah. Entah untuk membangunkan solat Subuh atau hanya sekedar bertanya kenapa tidak online.

Orang-orang yang sering menghubungi  saya adalah Ibu saya dan saudara sepupu saya, Adit. Setiap pagi Ibu selalu membangunkan saya untuk solat Subuh karena saya sering bercerita bahwa sulit untuk bangun pagi karena saya sering begadang sampai malam untuk nonton TV atau membuat laporan. Adit seringkali menelpon saya bila dia sedang tidak ada kerjaan atau melihat saya tidak online.

Kemarin saya online dengan Adit sekitar jam 8 pagi. Dia menyalakan webcam nya dan juga microphone nya. Sehingga saya bisa berbincang-bincang dengan dia dan keluarga saya minus Adik Ghiffa. Awalnya komunikasi itu hanya sekedar bicara tentang sepakbola atau hal-hal remeh lainnya. Tapi lama kelamaan merambah ke hal lain sampai akhirnya Adit memanggil Ayah saya untuk ikut bercakap-cakap. 

Ayah saya saat itu mengenakan baju putih polos dengan celana panjang training hitam yang dia pakai untuk di rumah. Dia datang membawa boneka harimau besar yang rupanya berasal dari Taman Safari. Sambil tertawa dia memamerkan teman tidur barunya itu (Ayah saya sering ketiduran di ruang keluarga). Saat dia menunjukkan itu saya jadi teringat kejadian-kejadian yang saya lalui ketika masih tinggal di rumah itu setiap hari. Melihat kejadian yang sama berulang kali. Ayah saya selalu pulang larut malam karena harus bekerja dan kantornya berjarak cukup jauh dari rumah. Dia sering beristirahat sambil menonton TV dengan posisi bersandar pada tembok, punggungnya beralaskan bantal besar kemudian di sebelah kanannya ada asbak rokok dan secangkir kopi. Dia menonton TV paling lama 1.5 jam karena setelah itu dia akan memejamkan matanya dan meringkuk tidur. Saya jadi membayangkan adegan itu ditambah adanya boneka harimau besar itu. Pastilah dia menjadi lebih sering ketiduran di depan TV. 

Tak lama kemudian Ibu saya ikut datang untuk menyapa. Dia mengenakan daster merah muda yang warnanya sudah agak pudar. Rambutnya diikat dan tidak mengenakan kerudung. Biasanya Ibu saya mengenakan kerudung jika pergi keluar rumah. Awalnya dia hanya memanggil-manggil dan menanyakan sedang apakah saya sekarang. Dia bercerita bahwa hari Sabtu nanti ayah dan adik saya akan mengikuti pelatihan ESQ, semacam pelatihan spiritual yang terkenal. Sebelumnya saya meminta dikirimkan uang untuk membeli sepatu karena sepatu saya hanya satu dan mulai buluk karena dipakai setiap hari kemana-mana. Ibu saya memiliki ciri khas suka mengancam tidak mengirim uang jika keinginannya terhadap anak tidak dipenuhi (ibu saya memegang penuh keuangan keluarga). Rupanya Ibu ingin saya mengikuti program ESQ itu juga bila nanti ada waktu. Saya mengatakan nanti dipikirkan lagi karena saya sibuk dan tidak begitu berminat pada hal itu. Ibu saya agak sebal dan mulai memberi beberapa wejangan yang Ayah saya dan saya sebut dikuliahi, Ibu saya memang tidak begitu pandai untuk menyampaikan keinginannya dengan kata-kata meskipun jika bicara dengan orang lain, dia sangat meyakinkan dan sopan, cukup aneh. Ibu tidak berubah, masih saja suka marah kalau anaknya tidak mengikuti keinginannya. Masih suka marah-marah di rumah, cemberut, dan yang sekarang menjadi sasarannya adalah Adik saya yang baru kelas 3 SD. Kalau dipikir memang seperti memiliki 2 anak tunggal.

Itulah orang-orang yang ada di rumah saya. Orang-orang yang memberi kenangan di otak saya bertahun-tahun. Orang-orang yang memberi saya memori kuat mengenai siapa yang harus saya panggil Ayah dan harus saya panggil Ibu. Orang- orang yang memberi saya ingatan kuat ke mana saya harus pergi jika begitu banyak masalah menempa dan tidak tau siapa lagi yang bisa membantu selain mereka dan Tuhan. Memberi saya ingatan kuat bahwa saya hidup karena adanya bantuan tangan mereka yang selalu bekerja untuk membuat saya bisa menjadi sekarang ini. Mereka memberi ingatan kuat pada saya bahwa saya hidup untuk menjadi manusia yang berguna, memberi ingatan bahwa kosan ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Sofa di ruang tengah yang menghadap TV,  kaca besar yang diletakkan di dinding menghadap ke ruang tengah, dan meja makan yang ada di dekat kulkas. Itu hanya sebagian kecil memori dari mereka yang terpatri di otak saya. Mereka tidak mengatakan secara langsung tapi kata-kata mereka membuat saya ingat bahwa saya selalu punya RUMAH untuk pulang. Tempat saya bisa melupakan segala kepenatan di kampus atau pun di tempat lain. 

Comments

Popular Posts