About Me

My Photo
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
matiinu.tumblr.com | @matiinu | Indonesia

Wednesday, June 5, 2013

Sebuah Kata Percaya

Terkadang di dalam hidup ini kita bisa saja berjalan untuk memilih arus yang berbeda dengan orang lain. Tapi semata-mata kita melakukan itu karena percaya. Kita juga seringkali menjawab banyak hal dengan sebuah kata "percaya". Sulit memang kita memahami kenapa kita, orang lain, seringkali merasa aman dengan kata "percaya" itu. Sebuah rasa percaya bisa membuat hati kita tenang, padahal alasan tidak jelas. Sebuah kata percaya bisa menyelesaikan sebuah perdebatan sengit, padahal tidak ada kontrak yang ditandatangi di atasnya. Kata "percaya" itu ngawang terbang dan bisa kita tampik bila kita mau. Tentunya akan menimbulkan kekecewaan dari pihak lain yang percaya itu.

Selama 24 tahun saya hidup, tampaknya saya hidup banyak berbasis pada kata percaya. Percaya pada ajaran agama, percaya pada orang tua, percaya pada saudara, teman, atau calon ibu dari anak-anak saya #eaaa. Banyak tindakan dan pilihan yang saya ambil untuk mencari sebuah kepercayaan, menjawab kepercayaan, membuat saya percaya, atau bahkan menjalani hidup berbasis percaya. Gila memang kadang. Tapi saya lihat di dunia ini orang-orang juga melakukan itu. Mereka percaya pada idealisme yang mereka pegang. Ada yang goyah, ada yang dibawa mati. Tapi mereka percaya dengan itu dan hidup dengan semangat, tegar, sedikit goyah, tetapi kepercayaan itu membuat mereka tidak mati. Menarik sekali melihat setiap manusia di dunia ini hidup dengan sebuah kalimat sederhana seperti, "Gw percaya kita bisa," "Gw tahu dia bisa," "Gw tahu dia jahat, tapi gw percaya dia," atau yang paling sederhana seperti kita pergi ke tukang cukur rambut baru dan meyakinkan diri dalam hati terhadap dua hal, yaitu "gw tahu dia bisa bikin gw ganteng" dan "gw percaya mau gimana pun hasilnya nanti... mudah-mudahan ganteng."

Saya suka termenung menatap orang-orang yang saya nilai pekerjaannya mungkin tidak kompleks, tidak menantang, atau terlalu biasa saja menurut saya. Pekerjaan-pekerjaan yang kita dengan congkaknya seringkali bilang pekerjaan rendah atau hanya pekerjaan sederhana, tetapi yang menarik adalah mungkin kita tidak tahu bahwa mereka melakukan pekerjaan itu semua dengan sebuah kepercayaan. Mereka percaya dengan gaji mereka yang segelintir, mereka bisa menabung dan membelikan seragam sekolan anak mereka. Mereka percaya setiap kali mereka mencuci baju majikannya, mereka akan menerima rejekinya yang bisa mereka kirim ke kampung dengan bangga. Bisa juga yang sederhana seperti apa yang guru kita lakukan, mereka percaya walaupun mereka tidaklah berponsel bagus, mobil mahal, atau pun apartemen mewah, mereka bisa melihat murid-muridnya suatu saat membawa ilmu yang ia turunkan walaupun dirinya mati dan ditimbun tanah.

Menjalani sebuah kehidupan itu memang berat. Persimpangan ada dimana-mana. Tetapi sesungguhnya yang kita perlu percaya adalah tujuan hidup kita itu memang harus menuju kebaikan. Kalau menurut ajaran Buddha yang pernah saya dengar, kita perlu percaya untuk hidup dengan mengutamakan kasih sayang. Atau seperti hasil perbincangan dengan seorang teman kantor yang beragama Katolik, dia selalu diingatkan ada Kasih dalam ajaran agama dalam menjalani kehidupan. Sederhana ya. Kasih sayang. Islam juga mengajarkan itu, aplikasikanlah kasih sayang dalam menghadapi segala hal niscaya hidup lebih  tenang.

Ya intinya, dari tulisan ini adalah saya cuma tersadar bahwa banyak pergerakan hidup di dunia ini berazaskan sebuah kepercayaan. Ada trust ada juga  believe. Jadi kalau kita punya believe seyogyanya kita taruh itu di depan mata kita bahwa tujuan kita itu hanya berjarak 5 cm dari depan mata kita (yak, ini mengutip novel 5cm) dan bila kita punya trust harus disertai ikhlas dan kembali lagi pada Tuhan. Percayalah apapun yang Tuhan berikan itu memang yang terbaik, seapes-apesnya hidup, masih banyak yang pasti lebih apes dari kita.

Saat ini saya percaya pada banyak hal yang ada di masa depan, sambil menguatkan diri untuk ikhlas bila semua itu ternyata bukan rencana Allah. Saya percaya anak saya lebih ganteng dari saya (harus optimis). Saya percaya bahwa istri saya nanti akan menjadi ibu yang luar biasa bagi anak-anak saya. Saya percaya bahwa nantinya saya bisa membanggakan orang tua saya. Saya juga percaya bahwa kelak saya bisa memberikan sesuatu bagi lingkungan sekitar saya (seperti apa yang selalu diingatkan ayah saya, manusia terbaik di mata Allah adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain). Saya percaya orang-orang di skeitar saya adalah orang baik yang memiliki cara-cara berbeda dalam menjalani hidupnya. Saya percaya kita bisa jadi apapun yang kita mau (Kecuali jadi Choi Siwon, udah takdir susah itu mah). Kemudian seperti semboyan standard lainnya, kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda.

Bandara Ahmad Yani, Semarang
5 Juni 2013

Tuesday, May 28, 2013

Kipas Angin di Tanggal 28 Mei 2013

Sedikit renungan dari perspektif saya yang masih sebesar gang di rumah petak mudah tersulut api dan hangus terbakar. Ketika kita memiliki sebuah keinginan, ilmu, dan idealisme, kemudian kita bertabrakan dengan kebutuhan dan urgensi akan pemenuhan suatu perkembangan yang dibatasi waktu, mana yang harus kita pilih?

Kita sadar betul bahwa segala aturan yang ada di suatu wilayah, area, petak, negara, bangsa, dan sebuah simpulan panjang lebar tinggi yang memiliki batas adalah sesuatu yang ditentukan berdasarkan sebuah pengalaman, pemahaman, penelitian, dan teori yang sudah dipraktekan. Tetapi pada kenyataannya kita adalah jenis makhluk hidup yang paling sering mencari celah dan meminta maklumat pada diri sendiri.

"Yaudah nggak apalah..."
"Yaudah kita potong sedikit pohonnya nggak apalah..."
"Yaudah kita bakar dulu, nanti pasti ada rumput tumbuh."

Segala perizinan pada alam pun kita munculkan semata-mata hanya untuk meletakkan struktur konkret yang tak bernyawa. Katanya sih untuk kepentingan bersama. Tapi disewakan. Dijual. Lalu ada yang bayar.

Sebenarnya semua perkembangan itu ada baiknya. Hanya saja kita perlu berpikir. Proses perkembangan itu sudahkah memenuhi persyaratan. Paling tidak... persyaratan alam. Persyaratan alam itu sepertinya tidak sesulit membuka halaman berisi pasal dan ayat-ayat, hanya perlu lebih tenang, tarik napas, tekan keegoisan, lalu buka mata lebar-lebar, pasang telinga, hirup udara yang ada, dan mulailah rasakan apa yang dianjurkan dan tidak dianjurkan.

Kita tertekan dengan ketiadaan materi. Merasa tidak cukup terus menerus dan lupa pada apa yang sudah digenggam, dirasa, dihirup, dan dibekap. Kita selalu mencari dan lupa merawat apa yang sudah ada. Kita selalu berjalan dan sering lupa untuk berdiri, diam sejenak dan menatap sekitar untuk mengetahui sudah di manakah kita sekarang.

Kita lebih sering terburu-buru. Terburu-buru pergi, terburu-buru pulang, terburu-buru tidur. Selalu terburu-buru. Lupa untuk menunggu. Lupa bahwa kita juga diberi waktu untuk menjadi pengamat.

Sesungguhnya ketidakseimbangan adalah yang kita jalani. Kita lupa bahwa kita itu gontai dan lunglai. Kita berjalan sebelah kaki dan kadang meloncat tergopoh sampai sering tersandung. Kita lupa kaki menjejakkan kaki itu harus perlahan. Kita lupa bahwa kita tidak hidup untuk kita sendiri, kaum kita, bangsa kita.

Kita sungguh makhluk pelupa.

Karena mungkin kita memang seringkali belajar untuk lupa. Atau memang... kita terbiasa dan memang mau lupa.

Tuesday, April 30, 2013

View Point: When the middle class opts out, the poor get shut out

Source: Jakarta Post

It is amazing how tolerant this nation can be. While other countries have proclaimed their “manifest destiny”; in Indonesia, the pervasive political culture seems to be one of nerimo, or acceptance, coupled with a humble assent to fate.

However, sometimes there is a fine line between a phlegmatic concession to providence and simply giving up.

In any other democracy, there would be a revolt if millions of people were regularly immobilized in traffic while little was done to develop public transportation.

In another nation, there would be riots if most people had no access to clean water while more and more lavish shopping malls were built.

In any other country, leaders would face votes of no confidence if the school system decayed after a fifth of the national budget was allocated for education.

But not here. Not in Indonesia. We have become a nation so accustomed to surviving that we embrace the worst of woes.

Oh, and did I mention the floods that routinely paralyze the nation’s most developed city?!

Perseverance in a people is an admirable quality. Yet this ingrained habit of apathy has been corrosive, eating away at Indonesia’s body politic and creating fissures between social classes.

Politics and the desire for change are no longer fueled by a sense of righting wrongs and protecting the helpless, but rather by individualism, economic egoism and self preservation. 

Put more simply, those who cannot make a difference quietly suffer. Those who can make a difference have opted out.

The poor and powerless are fated to endure come what may, while the rich remain, as always, insulated from the fray. However, when the members of the middle class — the most persuasive voice for societal change — begin to opt out and find their own way, then hope for righting the wrongs of the nation will fade.

Instead of fighting to improve sanitation and access to potable water, the nation’s middle class spend billions on bottled water and to pay to treat sicknesses resulting from poor sanitation.

Instead of fighting for better infrastructure, we pay for plush car interiors decorated with homey comforts as we sit stuck in traffic, burning subsidized fuel and creating smog.

Looking at the situation more closely, our acquiescence to decay is staggering.

For example, less than 50 percent of Jakartans have access to piped water. More than 75 percent of the city’s residents rely on shallow groundwater wells, 90 percent of which are contaminated.

Hold your nose! Poor sewage means that every day, Jakartans release 714,000 kilograms of untreated feces and 7,000 cubic meters of untreated urine into the city’s rivers and waterways. Jakarta produces more than 6,000 tons of waste a day. The city can only manage half that.

A recent World Bank study estimated that Indonesia loses up to US$6.3 billion a year due to poor sanitation and hygiene.

What has our response been? Not to develop water treatment facilities, but to drink more bottled water. 

Indonesia is currently the world’s seventh-largest market for bottled water. Further, another study predicted that local bottled water consumption would rise from 29 to 86 liters per person from 2006 to 2016.

Even those who have access to water from treatment plants must boil it, thus creating even more costs.

In education, the expenditure of 20 percent of the state budget has done little to improve our children’s performance on international tests. The increases have largely gone to pay for salaries and allowances. 

The World Bank said that despite having one of the lowest student-teacher ratios in the world — and despite improving the livelihood of its teachers — Indonesia has continued to suffer, as increased expenditures on education have “yet to show the expected results in terms of student learning”.

This has led middle-class families to effectively give up on the public school system, opting to pay fees topping $2,000 to send their kids to private schools.

Meanwhile, with trust in the justice system at its lowest ebb and the streets remaining an anarchic cacophony, middle-class people are choosing to live in gated communities surrounded by private guards, while a second (or third!) car loan has become essential so that their children will not be exposed to the hazards of Jakarta’s mean streets.

It was a sure sign of impotence last year when, instead of pledging to do their duty, the Jakarta Police met with the Security Service Providers Association (BUJP) to encourage the group to make sure its guard forces were on site to ensure safety during May Day rallies.

Amid all this, the importance of Indonesia’s expanding middle class has continued to be touted by activists, analysts and economists alike.

A McKinsey report from 2012, for example, said that the number of the people in the nation’s consumer class, defined as those with a minimum annual per capita income of $3,600, would reach 135 million by 2030.

Our history has shown that the New Order regime, in fostering the emergence of a middle class, sowed the seeds of its own demise.

The role of the middle class in propelling democracy forward and inducing change in society cannot be understated. Or as political sociologist Barrington Moore remarked: “No bourgeoisie, no democracy.”

Political theorists such as Adam Przeworski and Fernando Limongi have said that prosperity is one of the principal determinants of the strength of a democracy: A per capita income of $1,000 to $2,000 indicates a democracy life expectancy of 18 years; between $2,001 and $3,000, the prospects rise to 26 years; and above $6,000, democracy becomes “eternal”. 

According to the World Bank, Indonesia’s current per capita income currently stands at $4,636, while the National Commission on Economics (KEN) has predicted that it would reach $6,000 within four years.

Indonesia’s middle class is the country’s most dynamic political and economic entity. But its members are increasingly indifferent to reform. 

If this trend to “opt out” of basic services continues, reforms will stumble and Indonesia will experience even more disproportionate modernization and increased economic segregation.

The problem is that as the income of the nation’s middle class rises, its members become self assured, preferring to resolve societal and development problems alone through their increased purchasing power. While they have empathy for the poor, members of the middle class have a weaker sense of what it means to be a citizen, feeling no obligation to the state, which they see as inept or a hindrance.

The danger is that people in the middle class no longer see political activism and social reform as an ethical obligation, but as an intellectual hobby for the few.

If those who can propel change refuse to — and if the bureaucracy proves unwilling to — then what hope is there for the underclass, other than wallowing in decay as others grow wealthy?

The author is chief editor of The Jakarta Post.

Tuesday, April 23, 2013


"A the end of your life, it’s not going to matter how many breaths you took,

but how many moments took your breath away."
Shing Xiong

Wednesday, April 3, 2013

Tapi Kita Tidak (Belum) Percaya

"Bangsa ini bisa menjadi bangsa yang mandiri, tapi mereka tidak percaya."
B. J. Habibie

Saturday, March 16, 2013

One Day More!

Tomorrow we'll discoverWhat our God in Heaven has in store!One more dawnOne more dayOne day more!
One Day More - Les Miserables cast

Thursday, March 7, 2013

Tidak Boleh Berhenti

Bagaimana jika hidup kita terpaksa berlawanan arah dengan idealisme kita?
Bagaimana jika keadaan, kondisi, kerumunan, hingga dunia berjalan berbeda dengan idealisme kita?
Bagaimana jika ternyata begitu banyak orang yang hidup tertekan? Tertekan karena dirinya memangku sebuah amanat yang mulai terdorong oleh arus permintaan buram dari massa yang terprovokasi oleh hasutan abu-abu.

Saya mulai gemetar memikirkan kemungkinan itu terjadi pada diri saya.
Gemetar karena menyadari ancaman.
Saya tidak boleh... berhenti.