Sunday, September 25, 2016

Self Reminder

Everything that I do, every step that I take, every photograph that I made is because of the merciful and permission from Allah SWT.

Saturday, January 16, 2016

Participate in Life and Create Magic: Chris Weston Stage Talkshow

"Participate in life and create magic" was the last sentence that Chris Weston said during talkswhos for Fujifilm event. I share this not to emphasize how awesome Fujifilm camera in helping him making photos but it is more to how deep and important the experience that shared by Weston in such short duration. I hope any of you who read this is as amused as me while paying attention to such astounding story teller, Chris Weston.

Fred Mortagne with the Leica SL in Los Angeles

I just love the concept, color, and everything on it. Worth to preserve and share it in my blog.

Thursday, December 3, 2015

Terhenyak oleh Bale Soto


Rabu, 2 Desember 2015, kemarin, saya, istri saya, dan Adit (sepupu saya) meluangkan waktu untuk bertemu setelah jam kantor. Dulu kami bisa dengan mudahnya bertemu di ruang keluarga saat kami masih tinggal di Pondok Labu. Tetapi karena sudah pindah, akhirnya hanya waktu tertentu kami dapat berjumpa. Ditambah dengan ke-(sok)-sibukan kami pada pekerjaan, karir, dan usaha untuk bertahan hidup itu. Hush! Bekerja itu ibadah.

Pertemuan kali ini berlokasi di Bale Soto, sebuah restoran yang terletak di Jl. Daksa No. 11, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Karena topik yang dibicarakan sifatnya personal, jadi yang bisa saya bahas di sini hanyalah tempat nongkrong-nya ya.

Saat melihat laman resmi Bale Soto, saya terkesan dengan foto ruangannya. Sisi luar dan dalam restoran ini dibatasi oleh pintu dan jendela kaca, menyebabkan restoran terasa luas dan homie. Susunan lampu-lampu klasik, lampu berhiaskan sarang burung, dan hiasan botol gelas cokelat menjadi pernak-pernik unik dalam restoran ini.

Sesampainya di sana, kami disambut salam hangat oleh pelayan restoran yang ramah. Kami pun diarahkan pada meja kosong sesuai jumlah peserta kali ini dan tanpa menunggu lama, pelayan memberikan menu.

Saat melihat daftar menu, saya terhenyak. Ternyata restoran ini memiliki banyak pilihan menu dari mulai soto (tentu saja), nasi goreng, mie goreng, hingga cemilan-cemilan tradisional seperti kue laba-laba, asinan betawi, lumpia, dan pempek. Hal yang menambah keterhenyakan (diulang, karena judul postingannya sudah begitu) saya adalah harga yang ditawarkan tergolong ekonomis, serasa makan di warung tradisional. Hari gini dimana coba di Jakarta, restoran bersih, letak strategis, dan tata ruang yang artsy, kita masih bisa menikmati teh tawar hangat seharga 3.000 rupiah dan soto campur seharga 25.000 rupiah?

Dari rasa, Soto restoran ini tidak mengecewakan. Enak dan sesuai dengan harapan. Kuahnya gurih, nasi dimasak dengan baik (tidak terlalu lengket), dagingnya pun cukup banyak.

Setelah saya posting beberapa foto di akun instagram saya (@matiinu), ada beberapa komentar dari teman-teman yang ternyata juga pernah makan di sini. Ada yang mengusulkan untuk mencoba Mie Jawa dan Mie Acehnya. Noted, dua makanan tersebut akan menjadi sasaran saya berikutnya kalau berkunjung ke sana.

Jadi sedikit sharing saja, kalau mau ketemuan, tawaran untuk mampir di Soto Bale rasanya sulit untuk ditolak.

Suasana di dalam Bale Soto

Soto Spesial isi daging ayam, sapi, dan babat

Kue Laba-Laba

Apalah artinya makan soto tanpa kerupuk

Wednesday, November 18, 2015

Memories from School of Life Science and Technology Gathering at 27 July 2015

Dear all,
These photos have stayed in my phone for a while, therefore I uploaded it to preserve it in my blog and hopefully help us reminiscing how good that time was. Let's meet again someday. Of course after all those wanderers coming home and your babies ready to endure our laugh.

Location: Kota Kasablanka, Jakarta, Indonesia.












Tuesday, October 20, 2015

Makanan Wajib Saat Berkunjung ke Medan

Oke, saya berdosa besar dalam postingan ini (berlebihan). Kenapa? Karena saya berjanji untuk posting makanan wajib yang saya makan saat ke Medan sejak lama sekali dan baru bisa menuliskannya sekarang. Jadi di bawah ini adalah foto-foto dan keterangan singkat tentang makanan yang saya nikmati saat kunjungan singkat ke Medan. Mari kita mulai.

1. Pancake Durian
Seperti yang kita ketahui, durian adalah buah yang terkenal dan wajib dicoba (bagi yang suka) di Medan. Nah, sebagai teaser awal sebelum mencoba durian legendaris di Ucok Durian, saya mencoba Pancake Durian Kurnia yang dijual di restoran Mie Aceh Titi Bobrok. Rasanya? Juara! Cocok sebagai pencuci mulut setelah makan Mie Aceh atau dibawa pulang sebagai cemilan. Siap-siap untuk memiliki bau napas durian.

2. Mie Aceh Titi Bobrok


Beralamat di Jl. Setia Budi No. 17 C, Medan, Sumatera Utara, Indonesia, Mie Aceh Titi Bobrok adalah makanan yang diusulkan oleh semua teman saya yang pernah ke Medan. Ketika saya ke sana, semua rasa penasaran dari gempuran rekomendasi itu terbayar sudah. Saya memesan Mie Aceh Kepiting yang pada awalnya saya pikir merupakan mie aceh biasa dengan potongan daging kepiting di dalamnya, ternyata (lihat gambar di bawah),


KEPITINGNYA UTUH! Hal ini mengagetkan saya dan teman-teman saat itu. Ini di luar ekspektasi saya. Suapan pertama begitu memukau lidah. Rasa Mie Aceh yang otentik, ditambah perjuangan membuka cangkang kepiting membuat saya dan teman saya berkonsentrasi menikmati petualangan di piring kami masing-masing. Kuahnya yang kental, kegurihan bumbu dan daging kepiting benar-benar menjadi kombinasi seru di dalam lidah. Porsinya pun besar sehingga menahan keinginan saya untuk menambah lagi satu piring. Tetapi hal yang paling mengagetkan adalah harganya. Untuk makanan sebanyak dan seenak itu, Mie Aceh Kepiting Titi Bobrok dibanderol tidak lebih dari Rp 40.000,-. Pokoknya kalau ke Medan minimal harus pernah makan Mie Aceh ini.

3. Soto Sinar Pagi Medan
Nah, satu lagi kuliner yang patut dicoba di Medan. Nama restoran ini tersohor hingga Jakarta. Soto Sinar Pagi Medan. Soto Sinar Pagi ini konon habis setelah makan siang, oleh karena itu kita harus buru-buru datang dari pagi (sekitar waktu brunch) hingga jam makan siang. Tempatnya ramai dan banyak orang. Relatif tidak beraturan. Tetapi mungkin di situlah keseruannya menikmati Soto Sinar Pagi Medan.

Menurut saya pribadi, rasanya kurang istimewa. Kuahnya tidak segurih pengalaman menyantap Mie Aceh (well, memang jenis makanan yang berbeda). Sayangnya menurut saya soto ini berkebalikan dengan Mie Aceh. Porsi tidak terlalu banyak, rasa yang kurang istimewa, tetapi harga yang tergolong mahal, sampai Rp 50.000,-.

AlamatJalan Sei Deli, simpang Gatot Subroto, Medan.


4. Ucok Durian
Ucok Durian terkenal dan bahkan pernah disambangi oleh mantan Presiden kita Pak Susilo Bambang Yudhoyono. Hal yang menarik dari Ucok Durian ini adalah mereka menjamin kita akan mendapatkan durian yang enak. Jadi kalau kita komplain bahwa durian yang dibelah tidak enak, kita bisa lapor dan mereka akan menggantinya dengan durian lain. Tidak heran bila banyak yang mengatakan Ucok Durian ini harganya di atas rata-rata. Tetapi dengan jaminan rasa enak, kenapa tidak?

Ucok Durian juga menyediakan jasa take away dengan wadah tersegel. Bukan hanya dengan wadah tertutup, mereka bahkan menyegel setiap celah dengan tape. Jadi durian bisa dibawa ke pesawat dan tidak mengganggu penumpang di dalam.

AlamatJalan Iskandar Muda, Sumatera Utara 20154, Indonesia


5. Sate Kerang Medan
Makanan yang satu ini direkomendasikan oleh supir taksi langganan saya di Jakarta. Kata beliau, durian itu sudah biasa, Bolu Meranti juga biasa, kalau mau coba, beli lah Sate Kerang Medan.

Berbekal informasi itu, saya mencoba mencari sate kerang di Medan. Memang banyak sate kerang di restoran pinggir jalan tetapi saya tidak tahu mana yang enak. Untunglah di Ucok Durian ada penjual sate kerang. Dengan harga sekitar Rp 40.000,- berisi 30 tusuk sate, sate kerang Medan ini adalah jawara kedua bagi saya setelah Mie Aceh Titi Bobrok. Rasanya gurih sekali. Bumbunya yang kecokelatan memberikan sensasi asin dan manis yang seimbang pada kerang yang kenyal. Saya bawa satu kotak kembali ke Jakarta dan sate ini menjadi lauk favorit saya selama beberapa hari di Jakarta.


Tuesday, July 28, 2015

Perjalanan Pertama Jakarta ke Medan dan Pengalaman Naik Railink


Selama 3 hari ini saya, Ayu, dan dua orang teman kami mengunjungi ibukota Provinsi Sumatera Utara, Medan. Tujuan kami sederhana, menghadiri pernikahan teman yang dilangsungkan di Kota Medan.

Karena kami berempat "buta" kota Medan dan kesempatan kali ini merupakan pertama kalinya kami menginjakkan kaki di Pulau Sumatera, kami pun mulai mencari informasi tentang apa yang harus dilakukan selama kami ada di sana, dari mulai wisata kuliner hingga tempat untuk berjalan-jalan dan berfoto.


Untuk pencarian hal penting pertama, yaitu tiket pesawat dan hotel, kami memanfaatkan jasa website Traveloka yang menurut iklannya dapat memberikan harga terbaik untuk kedua hal tersebut. Menurut saya pribadi,  website ini memang mudah untuk digunakan. Dalam pencarian tiket pesawat, saya dimudahkan dalam memilih nama maskapai kisaran waktu keberangkatan, dan harga tiket. Untuk perjalanan kami kali ini, saya memilih menggunakan Batik Air yang merupakan premium level dari maskapai Lion Air. Sebelumnya saya pernah menggunakan Batik Air dalam dua perjalanan saya ke Ambon dan Semarang. Kedua pengalaman itu menunjukkan bahwa Batik Air tidak mengecewakan. Jarak antar kursinya luas, ada sarana hiburan yang memadai, dan makanan yang berkualitas.


Untuk pemesanan dan pencarian kamar hotel, saya menggunakan jasa Traveloka juga karena pemesanan hotel melalui Traveloka yang dilakukan setelah pemesanan tiket pesawat ternyata memberi pelanggan potongan harga untuk harga kamar hotel per malamnya. 


Sama seperti saat melakukan pemesanan tiket pesawat, pemesanan kamar hotel pun dipermudah dengan penggolongan jenis hotel sesuai tingkat bintang, lokasi, dan fasilitas yang dikehendaki. Untuk pemesanan hotel bintang 3, saya memutuskan untuk memesan kamar di Swiss Bellinn Hotel yang berlokasi di Jl. Surabaya. Alasan saya memilih hotel tersebut karena harga yang tidak terlalu mahal untuk dua orang dan lokasinya yang dekat dengan Stasiun Kereta Medan. Alasan saya memilih lokasi dekat dengan Stasiun Kereta Medan adalah karena saya dan Ayu ingin menggunakan Airport Railink Service (ARS) yang merupakan kereta bandara pertama di Indonesia sebagai moda transportasi kami dari bandara ke kota Medan
.
Tiba di hari keberangkatan, kami menggunakan jasa Uber Jakarta. Kami berdua sudah terbiasa menggunakan moda transportasi ini karena harganya yang relatif lebih murah dari taksi umumnya dan mobil dengan ukuran yang lebih besar. Minimal kami akan mendapatkan sekelas Avanza/Xenia untuk Uber X.


Perjalanan dengan Batik Air dari Cengkarang ke Kualanamu memakan waktu sekitar 2 jam. Dalam perjalanan, kami diberi pilihan makanan, yaitu nasi goreng dengan telor ceplok atau nasi kuning dengan telor bulat balado. Kedua makanan tersebut tidak mengecewakan kami berdua (saya memilih nasi goreng dan Ayu memilih nasi kuning). Kami hanya menyayangkan pelayanan yang diberikan oleh pramugari pada saat itu mungkin bisa lebih ramah lagi guna meningkatkan kepuasan penumpang.

Makan siang di Batik Air: Nasi Goreng

Jarak kaki dengan kursi cukup jauh

Pusat hiburan dalam pesawat dalam berbagai bahasa
Sesampainya kami di bandara, kami terkagum dengan penampakan Bandara Kualanamu yang dibangga-banggakan oleh Indonesia. Penampakannya sudah seperti bandara-bandara internasional sekelas Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Atapnya tinggi, dinding didominasi kaca sehingga terasa  terang benderang dan luas. Kesan etnik mungkin tidak sekuat apa yang ditampilkan bandara-bandara tua di Indonesia akan tetapi aksen daerah lokal masih tampak di beberapa struktur seperti tembok atau elevator.

Check-in Counter di Kualanamu
Hiasan Bagasi Melayang di Stasiun ARS Kualanamu



Transportasi dari bandara ke kota disederhanakan dengan adanya kereta bandara ARS. Selepas mengambil bagasi, konter pembelian tiket kereta ARS pun langsung menyambut. Di sana sudah tersedia jadwal  perjalanan kereta dan di tempat yang sama, petugas ARS siap melayani pembelian tiket dan menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait perjalanan kereta bandara.


Perjalanan menggunakan ARS mengingatkan kami pada kereta bandara di negara lain yang pernah kami tumpangi. Interior dalamnya bersih, ada tempat penyimpanan koper, dan setiap penumpang mendapatkan bangku masing-masing. Perjalanan dari Kualanamu ke Kota Medan memakan waktu sekitar 45 menit. 

Fasilitas kereta ini kami anggap sesuai dengan harga yang ditawarkan (apalagi bila mempertimbangkan kepastian waktu perjalanannya). Untuk tiket non-promo, penumpang harus membayar Rp 100.000,-/orang sedangkan bila beruntung, ada tiket paling murah non-promo dengan harga Rp 55.000,-/orang. Untuk informasi lebih lengkap silakan kunjungi website Railink.





Cerita mengenai makanan yang sempat kami "libas" di sana, akan saya tulis di postingan berikutnya.